Rabu, 15 Agustus 2018 07:30 WIB
pmk

Lifestyle

Yuk, Ajak Anak Bermain

Redaktur:

OPTIMALISASI BELAJAR - Suasana bermain yang menyenangkan akan membuat optimal daya belajar anak-anak usia balita. Foto: Dewi Maryani/INDOPOS

INDOPOS.CO.ID - Bermain merupakan salah satu cara belajar terbaik bagi anak, terutama usia 0 - 5 tahun. Psikolog Pendidikan Nadya Pramesrani, M.Psi, Psi, menjelaskan, lewat bermain, orangtua bisa memberikan pengetahuan untuk dijadikan pembelajaran bagi anak. ''Tapi, tak sembarang bermain loh. Setidaknya, ada lima kriteria bermain yang baik bagi anak,'' ujar Nadya dalam acara Kodomo Challenge, di Jakarta, Sabtu (5/5). 

Lima kriteria itu yakni, lingkungan aman. Penting untuk memastikan lingkungan bermain anak aman. Karena itu, orangtua perlu melakukan pengawasan. ''Ada arahan yang diberikan oleh orangtua kepada anak. Arahan ini diberikan agar anak bermain yang tidak membahayakan dirinya,'' tandasnya.

Lalu, lokasi menyenangkan. Saat memberikan arahan, pastikan untuk tidak ambisius dan mengambil peran anak karena justru membuat situasi bermain anak tidak menyenangkan. ''Padahal anak juga perlu diberikan ruang dalam bermain agar suasana senang tercipta,'' katanya. Situasi yang menyenangkan bisa membuat kemampuan anak belajar akan optimal, sehingga pengetahuan akan terserap dengan mudah.

Kriteria yang ketiga yakni berpusat pada anak. Orangtua diharapkan hanya fokus pada pengawasan, sedangkan anak dibebaskan memilih permainan. Jika anak sedang ingin condong pada motorik kasar seperti berlarian, orangtua disarankan mengikuti.  Begitu juga jika ingin pada motorik halus seperti memainkan mainan sambil duduk. ''Kita memberikan variasi, permainan mana yang mau dimainkan, itu yang dikasih,'' tandasnya.

Selanjutnya, sesuai tahap perkembangan. Perlu diingat juga tidak semua permainan bisa dimainkan anak. Nadya mengatakan, anak harus bermain sesuai tahap perkembangan dan kemampuan. ''Jika permainan terlalu sulit, anak akan stres dan mudah bosan,'' katanya.

Karena itu, berikan permainan sesuai usia agar dia bisa bermain dengan baik sembari belajar.

Kriteria terakhir yaitu seimbang. Jangan anggap bermain aman itu harus di dalam rumah terus ya, karena bermain juga bisa di luar. Nadya mengingatkan agar orangtua seimbang dalam memberikan ruang bermain bagi anak. ''Untuk anak di bawah lima tahun, setidaknya bermain di luar ruangan dua jam per hari,'' tuturnya.

Selain itu juga seimbang antara digital dan non-digital. Gawai, kata Nadya, tidak selalu buruk. Jika benar dalam pengawasan dan pemberian, maka bisa menjadi nilai tambah dalam proses belajar anak. ''Setidaknya harus ada pendampingan orangtua jika anak menggunakan gawai,'' tukasnya.

Nah, merancang permainan untuk si kecil memang sudah menjadi bagian dari cara mendidik orangtua di masa tumbuh kembang anak. Meski begitu, ayah dan bunda harus mampu memahami seluk beluk di balik pemberian mainan untuk anak-anaknya.

Kodomo Challenge, program edukasi untuk mendampingi orang tua dalam mengoptimalkan perkembangan anak usia dini dirancang agar anak dan orang tua dapat belajar sambil bermain bersama menggunakan media multiplatform, yaitu Buku Bergambar, Mainan Edukasi, serta Video Edukasi. 

Ini juga sebagai wadah mengkampanyekan kepada orang tua untuk menikmati waktu berkualitas sambil membangun motivasi dan kepercayaan diri anak. ''Di Kodomo Challenge, anak bisa mendapatkan skill yang seimbang. Jadi, sembari bermain, anak tahu ketertarikannya di bidang apa.

Orangtua juga bisa gunakan Shimajiro dari Kodomo sebagai learning buddy anak, sehingga orangtua sebisa mungkin menghindari perkataan 'jangan' dan sebaiknya berkata 'shimanjiro kalau makan duduk loh,'' ujar Marketing Manager Kodomo Challenge, Takashi Kimura. (dew)


TOPIK BERITA TERKAIT: #anak-anak 

Berita Terkait

Anak Cerdas yang Bisa Mengaktualisasikan Diri

Lifestyle

Pencernaan Sehat, Anak Aktif

Lifestyle

Bahagia, Kunci Tumbuh Kembang Anak

Lifestyle

IKLAN