Jumat, 19 Oktober 2018 01:50 WIB
pmk

Ekonomi

Rupiah Tembus Rp 14 Ribu

Redaktur:

Foto : Ilustrasi

INDOPOS.CO.ID - Kurs rupiah terhadap dollar Amerika, terus melemah. Mata uang Garuda itu, menembus Rp 14 ribu per USD. Berdasarkan data Kurs transaksi Bank Indonesia (BI), Senin (7/5) per USD kurs jual mencapai Rp 14.026. Sedangkan beli Rp 13.886.

Berdasarkan laman BI,  data  Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR), kurs tengah rupiah per USD sebesar Rp 13.956.

Terkait posisi rupiah yang diperdagangkan menembus Rp 14 ribu per USD, Direktur Riset  Center of Reform on Economy (CORE) Indonesia Pieter Abdullah mengatakan, hal itu sebenarnya sudah bisa direduksi Jumat (4/5) lalu.

"Karena data di Amerika menunjukan perbaikan. Ekonomi Amerika lebih baik. Pengangguran mereka terendah 18 tahun terakhir, di angka 3,9 persen. Kalau perekonomian Amerika membaik, itu menegaskan, mungkin akan lebih cepat menaikan suku bunga," ujar Pieter kepada INDOPOS, Senin (7/5).

Karena perekonomian Amerika membaik, menurutnya, normalisasi suku bunga oleh The Fed bisa lebih cepat. "Karena suku bunga di sana  meningkat, jadi investasi di Amerika lebih menarik. Itu sudah dibaca oleh investor. Jadi investor banyak yang mengalihkan investasinya ke sana. Itu membuat rupiah ada tekanan tambahan," jelas Pieter.

Ia menambahkan, saat ini rupiah yang diperdagangkan hingga Rp 14 ribu per USD, sebenarnya, masih rendah. "Jangan dilihat angkanya. Pelemahan itukan dari Rp 13.900. Jadi tidak besar," jelasnya lagi.

Disinggung apa dampak dari pelemahan rupiah? Pieter mengatakan,

dampaknya belum bisa disebutkan. "Kalau pelemahan berjalan selama 3 bulan, mungkin baru terasa. Harga naik. Namun ekspor justru bisa meningkat," jelasnya.

Pieter menambahkan, isu perang dagang Amerika dan China, sebenarnya untuk meredam kenaikan dollar. "Karena ekonomi Amerika membaik. Kalau tidak ada isu perang dagang, justru dolar lebih menguat," jelas Pieter.

Ia berharap, BI  meresponnya dengan menaikan suku bunga. Pertama suku bunga Amerika naik, sewajarnya diikuti. "Memang kondisi nilai rupiah tertekan. Jadi kenaikan suku bunga bisa dilakukan untuk meredam gejolak rupiah," pungkasnya. (dai) 


TOPIK BERITA TERKAIT: #ekonomi #nilai-tukar-rupiah 

Berita Terkait

IKLAN