X CLOSE Laporan Kinerja DKPP
Rabu, 19 Desember 2018 01:12 WIB

Ekonomi

Dorong Nilai Ekspor, Antisipasi Inflasi

Redaktur:

Ilustrasi.

INDOPOS.CO.ID - Pelemahan nilai tukar rupiah telah menembus angka psikologis Rp 14 ribu. Kondisi itu menurut  Kepala Pusat Penelitian Ekonomi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Agus Eko Nugroho, akan berdampak signifikan positif dan negatif. Yakni mendorong nilai ekspor. Serta berpeluang juga menimbulkan inflasi.

"Saya kira dampak yang akan kelihatan sekali terutama akan mendorong ekspor kita. Ekspor jadi relatif murah, karena nilai tukar rupiah," ujar Agus, Selasa (8/5).

Misal untuk ekspor migas, tambang dan juga komoditas kelapa sawit. Ataupun komoditas ekpor lainnya. Bakal menambah pundi-pundi devisa.

"Namun begitu pelemahan rupiah, akan membuat harga naik. Terutama produk atau komoditas yang masih impor. Semisal kedelai dan terigu," jelas Agus.

Produk yang bahan bakunya impor, seperti alat komponen ataupun industri kimia, akan kena dampaknya. Begitu juga produk makanan, yang berasal dari kedelai. Atau bahan baku yang diimpor.

"Persoalannya kalau inflasi terjadi, harga pangan dan produk naik, kasihan rakyat. Daya beli mereka akan semakin turun. Jadi akan berdampak terhadap daya beli," ujar Agus.

Pemerintah menurutnya saat ini memang tengah menanggulangi inflasi. Operasi pasar dilakukan untuk menekan laju kenaikan produk. Yang hal itu sebenarnya juga biasa terjadi jelang puasa dan lebaran. Namun dengan adanya pelemahan rupiah, tekanan inflasi menjadi kuat.

"Juga segi negatifnya pada saat nilai tukar kita melemah, utang luar negeri kita secara rupiah akan meningkat.

Beban cicilan akan besar. Asumsi APBN per USD itukan juga Rp 13.400. Sekarang sudah Rp 14 ribu," pungkasnya.

Berdasarkan data Kurs transaksi Bank Indonesia (BI), Selasa (8/5) per USD kurs jual mencapai Rp 14.106. Sedangkan beli Rp 13.966.

Berdasarkan laman BI,  data  Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR), kurs tengah rupiah per USD pada selasa (8/5) Rp 14.036. Melemah dibanding Senin lalu (7/5) sebesar Rp 13.956.

Sementara itu, Direktur Lembaga Manajemen Fakultas ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Toto Pranoto mengatakan pelemahan rupiah terhadap dollar, tentu akan ada  dampaknya. Misal dari sektor ril, kenaikan harga impor yang pengaruh struktur biaya industri yang bahan baku mayoritas impor.

"Di sektor keuangan, capital flight akan pengaruh juga ke stabilitas keuangan dalam negeri," ujarnya saat dihubungi INDOPOS Selasa (8/5).

Lebih lanjut Toto mengatakan, hal yang perlu dilakukan oleh otoritas moneter diantaranya  melalui operasi pasar, peningkatan suku bunga, pembatasan penggunaan dollar.

"Sejauh ini, membaca berita dan dari teman yang kerja di bank, OJK dan BI sudah aktif intervensi pergerakan pasar antar bank," jelas Toto.

Namun menurutnya,  karena ini sumber masalahnya lebih karena eksternal. Pelemahan rupiah juga terjadi di banyak negara berkembang. "Fundamental kita sepertinya masih oke. Sepertinya dari yang saya baca cuma bersifat siklikal saja," pungkasnya. (dai)


TOPIK BERITA TERKAIT: #nilai-tukar-rupiah 

Berita Terkait

Pasar Optimistis, Investasi ‘Wait and See’

Headline

Saving Rendah karena Ada Kebocoran

Headline

IKLAN