Teroris Ingin Lumpuhkan Mako Brimob

INDOPOS.CO.ID – Kabar yang menyebutkan bakal adanya serangan teroris di Mako Brimob dan sejumlah Mapolres di Jakarta pada Kamis (10/5) dinihari lalu, semakin terjawab. Dua kejadian dalam dua hari ini yang menguatkan dugaan tersebut. Pertama, insiden penikaman Anggota Polri Bripka Marhum Frenje hingga tewas di kawasan Mako Brimob, Kelapa Dua, Jawa Barat, Jumat dini hari (11/5). Kedua, penangkapan  empat anggota teroris di Jalan Underpass Desa Mekarsari Rt 1/16, Tambun, Kabupaten Bekasi, Jabar.  Bahkan, salah satu dari mereka ditembak karena melakukan perlawanan.

Situasi di sekitar Mako Brimob pada Kamis (10/5) memang tampak mencekam. Walau kerusuhan hanya terjadi di dalam rutan, namun Mako Brimob dalam radius sekitar 300 meter dijaga ketat oleh anggota Brimob, dengan senjata dan pakaian anti peluru. Jalan menuju Mako Brimob ditutup, mulai dari simpang empat Jalan Nusantara-Komjen M. Jasin (Akses UI) , ditutup. Setiap orang yang melintas dengan jalan kaki pun diperiksa. Ditanyai kemana tujuannya.  Bahkan, warga di sekitar Mako tak diperbolehkan melintas di sana.

Baca Juga :

Panglima Kodam Jaya Mayjen TNI Jony Supriyanto yang datang ke Mako Brimob, Rabu (9/5), sekitar pukul 16.09 WIB pun, harus berhenti di dekat halte Rumah Sakit Brimob dan langsung dijemput oleh Dandim 0508 Depok, Letkol Inf Iskandarmanto menggunakan motor. 

Akhirnya, muncul pertanyaan, jika hanya kerusuhan di rutan Mako Brimob, mengapa penjagaan harus dilakukan sedemikian rupa. Belakangan, tersiar kabar bahwa situasi sedang dalam Siaga 1, karena bakal ada serangan teroris ke Mako dan sejumlah Mapolres di Jakarta.

Situasi malam itu disebut-sebut cukup mengkhawatirkan bagi Polri. Karena Mako Brimob tidak dengan kekuatan penuh. Banyak anggotanya yang di-BKO-kan ke sejumlah daerah, terkait pengamanan pelaksanaan Pilkada 2018. 

Kamis (10/5) dini hari, tak satupun pejabat Polri yang berkenan menjawab pertanyaan atas situasi tersebut. Baru Jumat (11/5) tadi malam, Kadiv Humas Polri Irjen Pol Setyo Wasisto mau menjelaskan situasi itu. Walau jawaban Setyo tak cukup gamblang.

Baca Juga :

Densus Geledah Rumah Warga di Tambun

“Tidak Siaga 1 (Kamis dini hari). Hanya meningkatkan pengamanan di mapolres-mapolres,” kata Setyo menjawab INDOPOS.

Menurut Setyo yang seharian Kamis (11/5) kemarin menggunakan pakaian dinas tangan panjang dan senjata di pinggang, pengamanan memang ditingkatkan, walau di sekitar Mako Brimob tak begitu banyak anggota yang terlihat.

“Meningkatkan (pengamanan) itu, bukan tergantung  dari jumlah personelnya. Tapi kewaspadannya, orangnya. Saya bilang tadi, semua markas, semua kantor kepolisian. Apakah itu polsek, polres, harusnya meningkatkan kewaspadaan,” tegas Setyo. 

Hingga berakirnya wawancara, Setyo tak berkenan menjawab secara gamblang soal kabar adanya rencana serangan teroris ke Mako Brimob dan mapolres. “Tidak Siaga 1. Siaga 1 setelah ada kegiatan tadi (aksi 115),” tegas Setyo sambil berlalu.  

Terpisah, pengamat teroris dari Fisipol Universitas Indonesia kepada INDOPOS membenarkan  tentang rencana penyerangan Mako Brimob dan Mapolres oleh kelompok JAD pimpinan Aman Abdurahman alias Oman. Walau demikian, menurut Chaidar, instruksi serangan, bukan dari Oman, tetapi dari anggotanya yang berada di rutan Mako Brimob.

Rencana serangan itu, terkait dengan kerusuhan di dalam rutan. Karenanya, kerusuhan di dalam rutan, adalah insiden by design atau dengan perencanaan yang matang.  Kepolisian telah menerima informasi rencana serangan tersebut. Sehingga wajar saja, jika Kamis (10/5) malam, Mako Brimob dijaga ketat hingga radius ratusan meter.

“Yang pasti bukan atas perintah Aman Abdurrahman, atau bahkan Bahrun Naim,” tegas Chaidar.  Aman Abdurrahman sendiri, kini berada di Rutan Mako brimob, karena sedang menjalani sidang atas kasus bom Thamrin. Sebelumnya ia ditempatkan di Nusakambangan.

Chaidar menilai, rangkaian kerusuhan di mako Brimob dan serangan dari luar ke Mako brimob serta ke mapolres, terdapat banyak kelemahan. Sehingga polisi mampu mengatasinya.

“Teroris itu riil, bukan rekayasa. Cuma memang sekarang semakin melemah, amburadul, tidak ada kepemimpinan jihad yang kuat lagi setelah Ustadz Abubakar Basyir ditangkap,” kata Chaidar.

Kaderisasi di kalangan teroris, kata Chaidar, hanya diberi pelatihan tempur.Sementara mereka lemah pada soal wawasan, strategi dan bahkan emosi. Ini tergambar dalam insiden kerusuhan rutan Mako Brimob, yang berakhir dengan penyerahan diri. Padahal, jika mereka teroris sejati, tak ada kata menyerah, bahkan dapat ‘dikalahkan’ dengan negosiasi nasi bungkus.

Rencana Serangan Mako Brimob

Dua insiden yang menguatkan dugaan bakal adanya aksi teroris pekan ini, yakni penikaman anggota Polri di kawasan Mako Brimob, kelapa Dua, Jumat dini hari (11/5). Kemudian penangkapan empat anggota teroris di Tambun, Kabupaten Bekasi, Jabar.

Bripka Marhum Frenje, 41,  tewas akibat ditikam berkali-kali oleh pelaku.

Penusukan anggota Intel Brimob (Intelmob) Bripka Marhum Frenje itu terjadi sekitar pukul 00.30 di halaman kantor Sat Intelmob Mako Brimob, Kelapa Dua Depok .  

Setyo Wasisto menjelaskan, awalnya pada Kamis tengah malam (10/5) sekitar pukul 24.00 WIB, korban keluar dari Mako Brimob dengan tujuan pengamanan di depan RS Bhayangkara Brimob, Kelapa Dua. Namun setibanya di depan rumah sakit, korban melihat seseorang (pelaku) dengan gerak-gerik yang mencurigakan.

Kecurigaan bertambah kuat lantaran pelaku terus menerus memperhatikan ke arah dalam Mako Brimob. Bripka Marhum langsung menghampiri pelaku untuk menanyakan maksud dan tujuannya. Namun ketika ditanyakan, yang bersangkutan hanya diam saja.

Melihat gelagat tidak baik, korban langsung menghubungi rekannya sesama anggota Intelmob untuk segera datang ke lokasi. Tak lama kemudian,  dua anggota Intelmob Briptu Rahmat Muin dan Briptu Gruisce langsung bergerak ke arah Bripka Marhum berada.

Selanjutnya, Bripka Marhum menggiring pelaku ke arah markas Satuan Intel Korps Brimob. Namun, baru saja tiba di parkiran markas Satuan Intel Korps Brimob, pelaku langsung mengeluarkan sebilah pisau dari balik celananya.

Pelaku langsung menghunjamkan  bertubi-tubi pisaunya ke dada dan perut Bripka Marhum. Jeritan kesakitan korban didengar oleh Briptu Rahmat Muin dan Briptu Gruisce yang berjarak hanya sekitar sepuluh meter di belakang korban. Keduanya langsung berlari mendatangi korban.

Melihat korban tergeletak dan pelaku menghunus pisau siap  menyerang lagi. Kontan Briptu Rahmat Muin dan Briptu Griusce melepaskan tembakan beberapa kali ke tubuh pelaku. Beberapa butir peluru yang menembus dada pelaku membuatnya tewas di tempat.

Selanjutnya, Briptu Rahmat Muin dan Briptu Gruisce dibantu rekan-rekan mereka yang lain langsung melarikan Bripka Marhum ke RS Bhayangkara Brimob untuk diselamatkan. Namun setiba di rumah sakit itu korban dinyatakan dokter sudah meninggal dunia. Selanjutnya korban dievakuasi ke RS Polri Kramat jati untuk diotopsi.

Saat jasad pelaku digeledah, diketahui ditemukan KTP pelaku. Dari KTP pelaku diketahui bernama Tendi Sumarno, pekerjaan mahasiswa, kelahiran Muna 24 Desember 1995, beralamat di Kampung Buniara RT 022 / RW 004 Desa Buniara Tanjung Siang, Jawa Barat.

”Pelaku menyembunyikan pisaunya di bawah kemaluannya sehingga tidak terdeteksi saat digeledah. Barang bukti pisau sudah disita. Penyelidikan sedang dilakukan untuk mengungkap latar belakang pelaku,” ujar Setyo.

Ia menambahkan, jasad korban sudah diambil keluarganya untuk segera dimakamkan. ”Kami himbau kepada segenap anggota Polri dimanapun berada untuk meningkatkan kewaspadaannya,” pungkas Setyo.

Penangkapan Lima Anggota Teroris

Sementara dari Tambun, Kabupaten Bekasi, Jabar dilaporkan, dua terduga teroris berinisial RA, 37, dan JG, 29, terpaksa dilumpuhkan dengan timah panas. Pasalnya, keduanya diduga hendak melawan saat diamankan.  Sebelum ditangkap, keduanya diduga hendak menyerang Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, Jabar, Kamis (10/5) sekitar pukul 01.35 WIB.

Aksi mereka lebih dulu tercium oleh aparat kepolisian yang langsung menangkapnya Jalan Underpass Desa Mekarsari Rt 1/16, Tambun, Kabupaten Bekasi, Jabar. Selain RA dan JG, juga diamankan dua terduga teroris lainnya yakni, AM, 37, dan HG, 39. 

“Keempatnya lalu dibawa sekitar 05.30 WIB,” kata Setyo Wasisto.

Namun dalam perjalanan menuju ke Jakarta, RA dan JG  telah melakukan perlawanan terhadap aparat yang membawa mereka. “Terduga teroris tersebut (RA dan JG) memberontak dan berusaha mencekik anggota hingga borgol terlepas. Mereka juga sempat berusaha merebut senpi anggota yang mengawal. Lalu anggota lakukan tindakan tegas dan terukur sesuai prosedur sehingga keduanya tertembak,” jelasnya. 

Setelah dihadiahi timah panas, RA dan JG langsung dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara, Kelapa Dua, Depok. “Setelah 2 jam dirawat, RA meninggal dunia. Sedangkan JG hingga kini masih dalam perawatan,” ujarnya. 

Dari hasil pemeriksaan sementara, keempat terduga teroris tersebut diduga merupakan jaringan JAD Bandung, Jabar.  Patut diduga mereka akan ikut melakukan aksi kerusuhan di Mako Brimob. Pasalnya, dari tangan mereka petugas berhasil mengamankan sejumlah barang bukti yang di antaranya, 1 buah sangkur, 1 buah belati, amunisi kaliber 9 mm, 25 buah paku tembak, 25 buah ketapel, 3 busur besi, 69 butir peluru gotri, 2 golok dan 48 peluru senapan angin.

Di lokasi kejadian, INDOPOS menemui Ade, 50, warga setempat yang melihat aksi penangkapan lima teroris tadi. “Ada lima orang yang ditangkap,” kata Ade.

Ade menceritakan, penangkapan itu dilakukan oleh polisi berpakaian preman sekitar 20-an orang. Mereka yang ditangkap menggunakan minibus. Namun, saat akan ditangkap kata Ade, para terduga teroris melakukan perlawanan. “Terdengar lima kali tembakan. Satu orang di antaranya tertembak di bagian kaki,” paparnya.

Penangkapan berdurasi 15 menit itu sempat mencuri perhatian warga. Apalagi, sempat terjadi perlawan. Terlihat beberapa orang membawa senjata tajam seperti celurit dan golok. Namun, pernyataan warga berbeda dengan pernyataan Mabes Polri. Sebab, dalam keterangan pers disebutkan hanya empat yang diamankan, termasuk yang meninggal. 

Terpisah, Ketua Presidium IPW Neta S Pane, dari informasi valid yang diperoleh pihaknya diketahui pelaku penyerangan terhadap Bripka Marhum Frenje sebenarnya ada tiga orang. Namun dua orang lolos dan satu orang yang tertangkap, yakni Tendi Sumarno. Namun meski tertangkap, justru Tendi yang menyerang dengan cara menikam korban hingga tewas.         

Neta bahkan mengatakan, tiga pelaku itu membawa bahan peledak dengan tujuan meledakkan Mako Brimob Kelapa Dua Depok. ”Dari informasi A1 (sangat dipercaya), Kamis malam 10 Mei 2018 pukul 23.45 dua Intel Brimob melihat tiga lelaki yang mencurigakan di sekitar Mako Brimob. Sepertinya ketiganya diduga membawa bahan peledak. Saat Intel Brimob hendak membekuk ketiganya, hanya satu yang tertangkap. Namun yang tertangkap itupun menikam bertubi-tubi korban sehingga meninggal dunia,” papar Neta dalam siaran persnya, Jumat (11/5).

Ia menilai dari kejadian tersebut menunjukkan SOP (Standar Operasional Prosedur) Polri masih lemah. Petugas seharusnya melakukan pemeriksaan di sekujur tubuh terhadap seseorang yang dicurigai. Menurutnya, setiap petugas seharusnya menerapkan SOP yang benar ketika mengamankan seseorang yang dicurigai. Pemeriksaan tubuh dan barang bawaan orang yang dicurigai wajib dilakukan.

Terkait pernyataan pejabat Polri yang menyebutkan kalau pelaku menyembunyikan pisaunya di bawa kemaluan, menurut Neta, kurang logis kalau SOP penggeledahan dilakukan dengan benar. ”Kalau pisau disembunyikan di bawah kemaluan seharusnya bisa terdeteksi saat dilakukan penggeledahan di sekujur tubuh seperti halnya penggeledahan terhadap calon penumpang di Bandara. Kejadian ini menunjukkan dikap profesional, kepekaan, kepedulian, dan ketaatan terhadap SOP semakin rendah,” pungkas Neta. (ind/ydh/dny/esa)

Komentar telah ditutup.