Jumat, 16 November 2018 02:18 WIB
pmk

Nasional

Dalam Sejarah Teror Bom di Indonesia, Baru Sekarang Pelakunya Sekeluarga

Redaktur: Riznal Faisal

Tim Gegana Polda Jatim menyisir Gereja Kristen Indonesia Wonokromo di jalan Diponegoro. Disana ditemukan bom yang masih aktif dan berhasil dijinakkan. Foto: DJawa Pos

INDOPOS.CO.ID – Dalam dua aksi serangan bom di Surabaya dan meledaknya bom rakitan di Rusunawa Wonocolo, Sidoarjo, terungkap kalau para pelakunya dari melibatkan isteri dan anak-anak. Artinya ada pola baru yang dilakukan pelaku terorisme dalam beraksi, termasuk membuka sel jaringan baru serta mengaktifkan sel yang selama ini tidur.

Ketua Presidium Indonesia Police Watch Neta S Pane menilai pola baru itu, kalau tidak segera diantisipasi pemerintah dan aparat keamanan maka segera menjadi fenomena baru yang diikuti para teroris lain.

”Pemboman tiga gereja dilakukan sekeluarga, di Sidoarjo juga sekeluarga, di Mapolrestabes Surabaya juga sekeluarga. Pola seperti ini baru pertama kali dilakukan. Mungkin mereka (pelaku) berpikir itu lebih efektif,” ujar Neta di Jakarta, Senin (14/5).

Dia menambahkan, pelaku melibatkan anak kecil dan wanita yang merupakan keluarga teroris dalam menjalankan aksinya jelas baru pertama kali di Indonesia. ”Bahkan dalam serangan bom di tiga gereja, ternyata dilakukan dari keluarga yang ekonominya mapan. Ini juga fenomena baru,” tutur Neta.

Dari rentetan kasus tersebut, kata Neta, kalau program deradikalisasi yang selama ini digalang pemerintah ternyata gagal. ”Buktinya terus saja bermunculan sel jaringan teroris baru, dan di saat yang sama sel yang selama ini tidur ternyata bangun lagi. Jadi pemerintah harus mengevaluasi ulang berbagai hal sehingga situasi keamanan kembali kondusif,” papar Neta.

Neta juga menilai Polda Jawa Timur sangat kedodoran dalam manajemen deteksi dini dan antisipasi dini. Terbukti kejadian beruntun di Surabaya dan Sidoarjo. Menurutnya, dari berbagai kejadian ini maka terkesan kepolisian dan intelijen tidak berdaya dan tidak solid.

”Kalau aksi-aksi teroris ini tidak segera dihentikan. Maka masyarakat semakin resah dan merasa tidak aman, sementara bulan suci Ramadhan sudah di depan mata. Bagaimanapun masyarakat butuh situasi aman saat melaksanakan ibadah Ramadhan,” pungkasnya.

Sebelumnya Kapolri Jenderal Tito Karnavian menyebutkan, dalam dua aksi serangan bom di Surabaya, baru pertama kali ini melibatkan satu keluarga berikut anak yang masih kecil. ”Melibatkan keluarga dan anak kecil dalam aksi teror bom memang baru pertama kali ini terjadi di Indonesia,” ujar Tito di Mapolda Jawa Timur. (ind)


TOPIK BERITA TERKAIT: #bom-gereja-gpps-arjuno #bom-gereja-santa-maria #bom-gereja-surabaya #bom-di-mapolrestabes-surabaya #teror-bom #terorisme 

Berita Terkait

Tangkal Aliran Dana Kelompok Teroris

Nasional

FBI Lacak Pengirim Paket Bom

Internasional

Bom Jatuh, Terduga Teroris Dilumpuhkan

Headline

Empat Napiter Tewas di Nusakambangan

Nasional

Serangan dari Dalam Iran, 25 Orang Tewas, 70 Luka-Luka

Internasional

Bom Bunuh Diri Tewaskan 68 Orang

Internasional

IKLAN