Sabtu, 22 September 2018 08:25 WIB
pmk

Opini

Terorisme, Negara-Bangsa dan Kekhalifahan

Redaktur: Ali Rahman

Oleh: Yanuardi Syukur,

Peneliti Pusat Kajian Antropologi FISIP UI

Aksi terorisme yang dilakukan oleh ISIS (daulah maupun sel-selnya) adalah bertujuan untuk satu: menghancurkan negara-bangsa dan membangun kekhalifahan.

Di mata mereka, negara-bangsa bukanlah sistem yang tepat sesuai dengan "mandat dari Tuhan". Pertama, karena dalam negara-bangsa, hukum Allah tidak menjadi pedoman utama, melainkan hukum buatan manusia lewat berbagai lembaga, sebutlah trias politika: legislatif, eksekutif, dan yudikatif. Sementara itu, sistem kekhalifahan, hukum Allah menjadi yang utama dan menjadi panduan bagi semua orang.

Negara-bangsa dalam konteks Indonesia tidak mudah pembangunannya. Awalnya, kekuatan-kekuatan kesultanan/kerajaan begitu dominan di negeri ini, tapi kemudian ketika kolonialisme tiba, mereka mulai mencerabut hak-hak para sultan/raja. Kolonialisme Belanda di masa-masa terakhir pada akhirnya dikalahkan oleh bersatunya kesadaran nasional para pemuda dan rakyat untuk bersatu dalam wadah Indonesia.

Ketika kita merdeka, perdebatan soal dasar negara juga sangat alot. Terjadi perang di berbagai tempat, baik itu karena ketidakpuasan pemerintah daerah atas pusat (sentral versus periferi), atau juga karena kedekatan pemerintah Bung Karno dengan komunis. Khusus soal komunisme, perjuangan DI/TII tidak melepaskan diri dari pengaruh untuk melawan ideologi komunisme yang ketika itu sangat kuat di masa Bung Karno.

Perang demi perang terjadi di negeri kita. Akan tetapi negara-bangsa kita masih tetap utuh, kecuali Timor Timur yang akhirnya lepas di masa Presiden B.J. Habibie. Akan tetapi, daerah-daerah lainnya di negeri masih tetap eksis dan setia kepada Indonesia. Pun demikian dengan berbagai otoritas tradisional seperti kesultanan/kerajaan juga tetap berpihak pada negara ini.

Ini berbeda dengan pemikiran pro-ISIS. Mereka menganggap bahwa negara-bangsa adalah sistem yang tidak tepat, thagut, dan itu harus dilawan. Mereka pun menawarkan--tepatnya sih "memaksakan"--penerapan kekhalifahan di tingkat dunia. Itulah yang terjadi di Irak dan Suriah, dan para pengikutnya harus berbaiat, taat dan patuh serta berjuang untuk daulah tersebut.

Apa yang terjadi di negeri kita dengan terorisme adalah bagian dari upaya pro-ISIS untuk menghancurkan negara-bangsa dan menegakkan kekhalifahan. Mereka melihat bahwa sistem kita ini bukan sistem Islam, melainkan sistem yang kafir karena tidak menjadihan hukum Allah di atas segala-galanya. Menurut mereka, sistem khalifah lebih cocok. Maka, ketika mereka dimusuhi oleh negara-bangsa, mereka pun melakukan gerilya, resistensi dengan cara-cara yang brutal seperti yang dipertontonkan dalam aksi terorisme belakangan ini.

Hemat saya, negara-bangsa adalah konsep yang masih sangat relevan untuk kita sekarang. Apalagi untuk Indonesia yang sangat multi-budaya, negara-bangsa adalah suatu "kalimatun sawa" (titik temu) antara entitas yang sangat beragam di jazirah Nusantara ini. Sedangkan sistem kekhalifahan bukanlah satu-satunya sistem yang dapat mewujudkan kedamaian bagi manusia. Kita bisa menggunakan sistem yang tepat untuk kedamaian banyak orang, dan itu ada pada sistem negara-bangsa. (*)


TOPIK BERITA TERKAIT: #opini #yanuardi-syukur 

Berita Terkait

Houston

Opini

Hukuman Baru yang Dicepatkan

Opini

Dikepung Massa, Jokowi Bernasib Seperti Ahok?

Opini

Cari Resep Yang Mahal

Opini

Jalan Ikhlas untuk Pejuang Panjang

Opini

Awan Kiasan untuk Pemburu Turis

Opini

IKLAN