Jumat, 14 Desember 2018 07:38 WIB

Lifestyle

Perlunya Dampingi Anak Saat Nonton Televisi

Redaktur:

Ilustrasi.

INDOPOS.CO.ID - Pelaku bom bunuh diri yang mengguncang tiga gereja di Surabaya, Minggu pagi (13/5) benar-benar mengejutkan. Yakni melibatkan satu keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan empat orang anaknya. Dan ibu serta dua putri kecilnya meninggal di lokasi kejadian.

Menanggapi itu, Menteri Kesehatan Nila F Moeloek mengaku tak habis pikir, ada orangtua yang tega melibatkan buah hatinya dalam aksi terorisme. ''Kalau saya lihat foto keluarga itu kayak keluarga harmonis. Saya nggak ngerti bagaimana anak juga dilibatkan dalam aksi teror. Anak kan pasti kita jaga. Kalau dicubit orang saja kita nanya kenapa dia cubit. Normalnya begitu. Tapi ini justru dilibatkan,'' ujar Nila di Jakarta, Senin (14/5).

Menurut Menkes Nila, pola asuh berperan besar dalam menentukan masa depan anak di masa mendatang. Selain itu, pendidikan juga turut memengaruhi bagaimana pola asuh orangtua terhadap buah hatinya. ''Saya melihat gaya pengasuhan penting luar biasa. Namun kalau orangtua tidak berpendidikan, maka cara mendidiknya akan berbeda dengan yang berpendidikan. Yang berpendidikan juga belum tentu sempurna. Saya juga nggak mengerti apa yang ada di pikiran mereka,'' tukasnya.

Sementara itu, Psikolog Nathanel EJ Sumampauw M,Psi dari Universitas Indonesia mengatakan, orangtua harus menyadari, kedepannya sang anak akan tumbuh di masyarakat yang terdiri dari berbagai kelompok.

Dia mengatakan, tentu ada perasaan kesal mengapa kelompok tersebut tega melakukan hal tragis ini, tetapi jangan sampai memberikan stereotype negatif kepada anak. ''Tidak bijak ketika orangtua menyudutkan satu oknum dan mengeneralisasikannya ke satu kelompok tertentu,'' katanya. Sebaiknya, lanjutnya, sejak kecil anak harus dihadapkan untuk berinteraksi dengan anak lain yang memiliki keberagaman ras, agama, bentuk fisik, bahasa, dan lain-lain.

Dia mengimbau agar orangtua memberikan penjelasan yang berimbang disertai dengan contoh tertentu untuk meyakinkan sang anak. ''Misalnya yang melakukan hal itu (aksi teror) dari agama X. Sebagai orangtua, kita harus bisa menjelaskan bahwa ada juga orang dari agama X yang berperilaku baik dan tidak mengarah ke aksi terorisme tersebut. Sehingga anak akan berpikir bahwa yang salah adalah pelakunya, bukan agamanya,'' imbuhnya.

Jaringan Narasi Damai Nusantara (NDN) mengungkapkan, anak-anak harus tahu bahwa tidak ada agama yang mengajarkan permusuhan. ''Meski memiliki perbedaan dalam beberapa hal, namun secara garis besar semua agama mengajarkan kebaikan,'' ujar Sekjen NDN, Khoirul Anam.

Sementara itu ada enam poin utama panduan yang sangat berguna bagi orangtua dari Kemendikbud. Yakni cari tahu apa yang anak pahami. Bahas secara singkat apa yang terjadi seperti fakta-fakta yang sudah terkonfirmasi dan ajak anak menghindari isu spekulasi.

Hindari anak dari paparan televisi dan media sosial yang sering menampilkan gambar dan adegan mengerikan bagi anak, terutama anak di bawah usia 12 tahun.

Identifikasi rasa takut anak yang mungkin berlebihan. Pahami bahwa tiap anak memiliki karakter unik. Jelaskan bahwa kejahatan terorisme sangat jarang namun kewaspadaan tetap diperlukan.

Bantu anak mengungkapkan perasaannya terhadap tragedi yang terjadi. Bila ada rasa marah, arahkan pada sasaran yang tepat yaitu pelaku kejahatan. Hindari prasangka pada identitas golongan.

Jalani kegiatan keluarga bersama secara normal untuk memberikan rasa nyaman serta tidak tunduk tujuan teroris yang mengganggu kehidupan kita. Kebersamaan dan komunikasi yang rutin penting untuk mendukung anak.

Dan terakhir, ajak anak berdiskusi dan mengapresiasi kerja polisi, TNI dan petugas kesehatan yang melindungi, melayani dan membantu saat masa tragedi. Diskusikan lebih banyak tentang sisi kesigapan dan keberanian mereka daripada sisi kejahatan pelaku teror. (dew)

 

 


TOPIK BERITA TERKAIT: #dampingi-anak 

Berita Terkait

IKLAN