Selasa, 19 Juni 2018 04:01 WIB
bjb idul fitri

makanmakan

Menggugah Selera dengan Bumbu Ikan

Redaktur:

INDOPOS.CO.ID - Lobster di Jakarta menjadi salah satu hidangan seafood yang paling memikat. Selain ukurannya yang sangat besar,  rasanya pun membuat selera makan bertambah walaupun diolah dengan bumbu apapun.

Tapi ingat, nggak semua Lobster di restoran Jakarta itu sama nikmatnya. Kalau kamu mau berburu Lobster, paling tidak datanglah ke Ritus (kafe & restoran). Rumah makan yang berada di Gedung Filateli, Pasar Baru, Jakarta Barat ini menghadirkan beragam makanan laut yang memiliki cita rasa berbeda.

BACA JUGA : Viral! Install Aplikasi Lazada sekarang dapat Diskon Hingga 80% dan Gratis Ongkir Selama Ramadhan

Direstoran tersebut menu lobster dikenal dengan Pesmol lobster. Meski umumnya bumbu pesmol dipadukan dengan ikan, atau ayam. Namun, resto ala Ritus kini menyuguhkan inovasi dalam memadukan pesmol dengan lobster.

Menu makanan ini tentu mampu menggugah selera dan memanjakan lidah pecinta seafood. Tak bisa dipungkiri, memang sajian menu makanan lobster selalu identik dengan kemewahan. Apalagi bumbu pesmol tidak terlalu strong, melainkan rasanya cukup smoot. ”Daging lobsternya sendiri telah mengeluarkan citarasa manis, jadi bumbu pesmolnya berguna sebagai penyeimbang daging lobsternya,” ujar Executive Chef Ritus, Erari Dio.

"Jadi lobster itu mempunyai daging yang manis, ini salah satu menu utama kita losbter pesmol ini karena perpaduannya cukup sempurna ya, bumbu pesmol dicampur dengan daging lobster," sambungnya.

Erari mengatakan di resto ala Ritus tak terlalu  kuat.  ”Ini kita masih nonjolin lobsternya sendiri. Jadi balance antara pesmol dan lobsternya," tambahnya.

Cara penyajiannyan, sambung dia, pertama pisahkan dulu daging sama badan lobsternya, terus di tumis daging lobsternya dan mix sama bumbu pesmolnya, baru di balikin lagi ke cangkang yang setelah direbus.

"Setelah itu, daging sama cangkangnya dipisah, lalu direbus dan bersihin, baru masukan lagi, sementara, jika diluar makan lobster harus dikorek-korek dagingnya, disini kita bikin lebih mudah jadi tamu bisa liat cangkang tapi dagingnya udah terpotong tanpa menempel-nempel," ungkapnya.

Menurut pria asal Bali, menu pesmol lobster ini menjadi menu andalan di ala Ritus. Daging lobsternya memiliki tekstur lembut dan rasa dagingnya pun manis. ”Jadi ketika dicampur dengan bumbu lobsternya ini jd salah satu perpaduan yang sempurna.

Kenapa pesmol lobsternya jadi menu utama? Erari melanjutkan lobsternya sendiri sudah elegan dan eksklusif, ditambah lagi punya tesktur enak dan lembut. ”kalau kita tau trik masaknya, bisa lembut dan mengeluarkan rasa manis, dagingnya udah manis," tutur Erari

Alhasil, rasanya yang lezat membuat pengunjung tak akan rugi mengeluarkan kocek untuk merasakan sensasi Pesmol Lobster. Bahkan, pada grand openning, Jumat (11/5) menu tersebut langsung ludes.

"Lobster signature kita, hari ini abis tadi itu bener-bener last, semua bilang ini adalah hal yang unik dan perpaduan yang sangat baik. Banyak orang yang exaited, banyak mereka yang makan pesmol sama lobster normali meraka makan sama ikan dan ayam," imbuh Erari.

Diketahui, komposisi pesmol lobster terdiri ini dari, lobster biasanya pakai bumbu kuning, sereh, lengkuas, jahe, ketumbar kunyit, ada daun salam, daun jeruk dimix jadi satu.

Bagaimana, penasaran dengan menu Pesmol Lobster, ayo segera datang ke Restoran ala Ritus, Jalan Pos No 1-2, Pasar Baru, Jakarta Pusat. Tempatnya mengusung konsep tempat yang pop modern, dengan gaya Art Deco dan pilar-pilar yang akan membawa kembali ke suasana masa kolonial.

Cruncy, Krim Bakar Sereh Bikin Mulut Melelah

Ala Ritus tak hanya menyajikan menu utama yang menggugah selera. Tapi, menyuguhkan, menu makanan penutup yang tak kalah menarik. Krim Bakar Sereh namanya. Krim bakar sereh ini terinspirasi dari creme brulee, yang merupakan dessert paling populer di Eropa.

Maka tak heran, krim bakar sereh menjadi makanan penutup yang kerap di gemari setiap pengunjung disini. Karena berbahan custard, dessert ini begitu lembut dengan ciri khas lapisan karamel renyah di atasnya. Meski biasanya, creme brulee disajikan dengan coklat vanila, green tea. Sementara, ala Ritus menyulapnya dengan rasa yang lebih Indonesia dibuat dengan rasa rempah dan itu yang sangat bikin beda.

"Kita bikin dengan sereh, jadi kita kombinasikan wanginya sereh dengan krim ini. Ditengahnya itu krim bakar serehnya," ujar Executive Chef ala Ritus, Erari Dio

Sebelumnya, sereh itu diblender lalu diambil exstraknya. Ini pakai sereh yang fresh bukan sirup dan bukan powder. Karena ini asli sereh berarti wangi sereh juga. Untuk, menetralkan krim bakar sereh ini ditambahkan dengan buah-buah yang seger. "Ada coklat yang dicairin, centili, terus ada fresh buah. biasanya kalau makan terasa kenyang, jadi buah-buah itu yang bikin netral," tambah Executive Chef ala Ritus, Erari Dio.

Selain itu, krim bakar sereh ini juga mampu mengatur kadar gulanya yang manis. Tentu akan lebih memudahkan customer yang menyantap makanan ini. Dan atasnya dibakar sama gula jadi cruncy-cruncy ada karamelnya.

"Krim bakar satu gak terlalu manis, kita atur kadar manisnya supaya orang tidak eneg, dibikin bener-bener lembut banget masuk mulut itu bener-bener lembut banget," tutur pria asal Bali itu.

Tongseng Iga Kambing Bisa Jadi Pilihan 

Selain lobster, Ala Ritus restoran dan café juga menyajikan menu daging. Salah satunya Tongseng Iga Kambing, menu makanan ini sukses menjadi menu andalan dari restoran ala Ritus.

Dibuat dengan tulang yang masih melekat pada tulang, serta tambahan lainnya yaitu sayur-sayuran seperti, bawang putih, kol, lada, dan tomat menjadikan menu ini sangat cocok dinikmati saat jam makan siang.

”Tongseng Kambing pada dasarnya, banyak pada umumnya, tapi yang membuat beda dengan tongseng lainnya, pertama dari bahan. Kita pakai iga kambing, dan daging kambingnya kita import," ujar Executive Chef ala Ritus, Erari Dio.

Agar mendapat testur yang lebih mudah diatur kadar kematangangannya. pemilihan dagingnya sendiri di import. ”Jelas kita pakai iga, daging iga. biasanya orang pakai daging paha, atau yang lain. Tapi kalau kita pakai iga, daging iga itu empuk kita lebih mudah atur tingkat kematangannya,” jelasnya.

Menggunakan daging import sebagai bahan utama lantaran dari segi tersktur daging import lebih unggul dari daging lokal. Selain itu, aroma yang ditimbulkan dari daging kambinh import lebih soft.

"Kelemahan daging lokal aga sedikit bau, lama masaknya, akhirnya teskturnya keburu hancur, teskturnya jelek blm dpt tesktur yang kita mau udah keburu hancur, bau kambingnya kuat banget," imbuh pria bertubuh besar itu.

"Akhirnya kita pakai import karna baunya soft bahkan, bisa ilang baunya orang makan daging kambing seperti makan daging sapi  tapi kita tetap masak," tambahnya.

Keunggulan lain dari daging import ini terdapat jumlah daging yang menempel pada bagian tulang iga lebih banyak, dibanding daging lokal. Tentu, akan lebih membangkitkan selera makan pengunjung yang datang kesini dan menambah kelezatan saat menyantapnya

"Daging jauh lebih banyak import kalau lokal aga sedikit berantakan itu salah satu alasan kita pilih import karna dagingnya lebih bagus dan lebih top," terangnya.

Demi menunjang penampilan tongseng iga kambing ini, diberi sayuran kol yang diroll, yang dipadukan dengan cabai, tomat, bawang goreng dan cabai direbus secara bersamaan.

Lebih nikmat, di dalam menu ini terdapat Edible Flowers yang merupakan istilah untuk jenis tanaman bunga yang aman untuk dikonsumsi. Tak hanya itu, tekstur, rasa, dan aromanya yang unik menjadikan bunga kini makin populer sebagai bahan kreatif dan inovatif dalam dunia kuliner.

"Edible Flowers  (bunga yang bisa di makan) setiap menu kita karna ala Ritus itu ritual salah satu makannnya bunga. Untuk rasa kita bikin manis gurih, lebih gurih ada yang suka tongseng itu manis jadi kita kasih spesial kecil sendiri, biar tamu bisa atur tingkat manisnya," bebernya.

Makin Nikmat dengan Bir Pletok

Mengusung tema restoran khas nusantara, ala Ritus juga menghadirkan minuman khas betawi, yakni Bir Peletok. Minuman ini konon sudah ada sejak masa kolonial Belanda. Oleh karenanya, bagi warga Betawi minuman ini sudah tak asing lagi. Walau ada nama Bir, tapi jangan salah minuman ini 100% tanpa alkohol.

Terbuat dari rempah-rempah asli, bir pletok menjadi salah satu warisan kuliner Betawi yang tidak ada matinya ialah bir pletok. Bahkan, bir pletok masih eksis di banyak perayaan Betawi salah satunya pernikahan.Barista ala Ritus, Rizky Adimalik menutukan, bahwa kelebihan minuman buatannya ini terdiri dari rempah-rempah yang cukup komplek. Untuk itu, dengan meminum ini akan terasa lebih enak dan nikmat.

"Tentu yang bikin beda rempahnya, karena rempah di ala Ritus lebih komplek dibanding tempar lain. Minum bir pletok kaya gini, inget nih kaya masa kecil dulu. Tapi, ketika mereka minum mocktail buatan gua, mereka kembali ke massa kini," ujar Barista ala Ritus, Rizky Adimalik saat berbincang dengan Indopos..

Uniknya, cara menuangkan  minumam ini menggunakan tutup bambu, pas dibuka menimbulkan bunyi "peletok" maka tercetuslah minuman ini menjadi bir pletok. Tak menutup kemungkinan, kedepan bir pletok akan dicampur dengan varian rasa yang lain. Seperti, susu kental manis, maupun coklat.

"Inovasi kedepan nanti bisa dimix sama susu kental manis, atau sama coklat itu akan tambah unik lagi," ungkap Rizky Adimalik.

Rizky pun berharap, agar generasi penerus bangsa tidak melupakan warisan budaya sendiri. Oleh karenanya, ala Ritus tetap menjaga minuman bir pletok ini."Mengajak anak-anak muda agar lebih care lagi karena mempunyai minuman yang bagus asli Indonesia banget," tuturnya.

Bir pletok ala Ritus ini terdiri dari, Jahe emprit, Kalulaga, Biji Pala, Cengkeh, Sereh, Kayu secang, dan Gula batu. (cr2)


TOPIK BERITA TERKAIT: #indoposmakanmakan #kuliner 

Berita Terkait

IKLAN