Sabtu, 18 Agustus 2018 08:01 WIB
pmk

Kesehatan

93 Persen Remaja Ogah Makan Sayur

Redaktur:

Ilustrasi sayur mayur.

INDOPOS.CO.ID - Generasi muda menentukan masa depan suatu bangsa. Masa remaja seringkali dianggap sebagai periode hidup yang paling sehat. Di masa ini, tumbuh kembang seseorang terjadi sangat pesat jika diimbangi dengan aktivitas fisik dan nutrisi yang tepat.

Menkes Nila Moeloek menerangkan, di dalam masa remaja terjadi apa yang dinamakan growth spurt atau pertumbuhan cepat, juga pubertas. 

Pada fase tersebut, jelasnya, terjadi pertumbuhan fisik disertai perkembangan mental-kognitif, psikis, juga terjadi proses tumbuh kembang reproduksi yang mengatur fungsi seksualitas. ''Remaja merupakan masa yang sangat berharga bila mereka berada dalam kondisi kesehatan fisik dan psikis, serta pendidikan yang baik,'' ujar Nila dalam paparannya yang disampaikan oleh Plt Dirjen Kesehatan Masyarakat Kemenkes, dr. Pattiselano Robert Johan, MARS, di Jakarta, Selasa (15/5).

Pola makan remaja yang tergambar dari data Global School Health Survey tahun 2015, antara lain tidak selalu sarapan (65,2 persen), sebagian besar remaja kurang mengonsumsi serat sayur buah (93,6 persen) dan sering mengonsumsi makanan berpenyedap (75,7 persen). Di antara remaja itu juga kurang melakukan aktifitas fisik (42,5 persen). ''Apabila cara konsumsi ini berlangsung terus menerus dan menjadi kebiasaan pola makan tetap para remaja, maka akan meningkatkan resiko terjadinya penyakit tidak menular,'' katanya.

Nila menyatakan, remaja mudah dipengaruhi oleh teman sebaya dan media sosial sehingga rawan terpengaruh oleh perilaku yang tidak sehat, atau mendapatkan informasi kesehatan dan gizi yang tidak benar (hoax). Misalnya, mengikuti pola diet selebritis, mengonsumsi jajanan yang sedang hits namun tidak bergizi, atau kurang beraktifitas fisik karena terlalu sering bermain games sehingga malas gerak (mager).

Tak hanya itu, lanjutnya, permasalahan yang dialami remaja cukup kompleks, mulai dari masalah prestasi di sekolah, pergaulan, penampilan, menyukai lawan jenis dan lain sebagainya. Berbagai hal tersebut bisa membawa pengaruh terhadap perilaku dan status kesehatan remaja itu sendiri. ''Remaja sebenarnya memiliki kemampuan untuk membuat pilihan, bagaimana pola makan dan berperilaku hidup yang sehat, serta bagaimana menjadi pribadi yang bermanfaat,'' imbuhnya.

Mengenai kesehatan, Plt. Dirjen Kesehatan Masyarakat Kemenkes RI, dr. Pattiselano Robert Johan, MARS mengungkapkan, ada empat masalah kesehatan yang mengintai remaja di negara kita.

Yang pertama adalah Anemia. Salah satu masalah yang dihadapi remaja Indonesia, menurut dr Johan adalah masalah gizi mikro nutrien, yakni sekitar 12 persen remaja laki-laki dan 23 persen remaja perempuan mengalami anemia, yang sebagian besar diakibatkan kekurangan zat besi.

Anemia di kalangan remaja perempuan lebih tinggi dibanding remaja laki-laki. Kondisi ini, kata dia, dapat berdampak buruk terhadap penurunan imunitas, konsentrasi, prestasi belajar, kebugaran remaja dan produktivitas. ''Selain itu, secara khusus anemia yang dialami remaja putri akan berdampak lebih serius, mengingat mereka adalah para calon ibu yang akan hamil dan melahirkan seorang bayi, sehingga memperbesar risiko kematian ibu melahirkan, bayi lahir prematur dan berat bayi lahir rendah (BBLR),'' paparnya.

Kabar baiknya, anemia dapat dihindari dengan konsumsi makanan tinggi zat besi, asam folat, vitamin A, vitamin C dan zink, dan pemberian tablet tambah darah (TTD). Pemerintah memiliki program rutin terkait pendistribusian TTD bagi wanita usia subur (WUS), termasuk remaja dan ibu hamil.

Remaja Indonesia banyak yang tidak menyadari bahwa mereka memiliki tinggi badan yang pendek atau disebut stunting. Rata-rata tinggi anak Indonesia, kata dr Johan, lebih pendek dibandingkan standar WHO, yaitu lebih pendek 12,5 cm pada laki-laki dan lebih pendek 9,8 cm pada perempuan.

Stunting sendiri dapat menimbulkan dampak jangka pendek, di antaranya penurunan fungsi kognitif, penurunan fungsi kekebalan tubuh, dan gangguan sistem metabolisme tubuh yang akhirnya bisa menimbulkan risiko penyakit degeneratif, seperti diabetes mellitus, jantung koroner, hipertensi, dan obesitas. ''Pencegahan dan penanganan stunting menjadi salah satu prioritas nasional guna mewujudkan cita-cita bersama yaitu menciptakan manusia Indonesia yang tinggi, sehat, cerdas, dan berkualitas,'' tukasnya.

Remaja yang kurus atau kurang energi kronis bisa disebabkan karena kurang asupan zat gizi, baik karena alasan ekonomi maupun alasan psikososial seperti misalnya penampilan.

Kondisi remaja KEK meningkatkan risiko berbagai penyakit infeksi dan gangguan hormonal yang berdampak buruk di kesehatan. Kabar baiknya, kondisi ini sebenarnya dapat dicegah dengan mengonsumsi makanan bergizi seimbang.

Dari data Global School Health Survey 2015 ditemukan bahwa 93,6 persen remaja kurang mengonsumsi sayur dan buah, dan 75,7 persen diantaranya sering mengonsumsi makanan berpenyedap. 

Tak hanya itu, 42,5 persen remaja juga cenderung menerapkan pola sedentary life, sehingga kurang melakukan aktivitas fisik. Hal-hal ini meningkatkan risiko remaja menjadi gemuk, overweight, bahkan obesitas. ''Obesitas dapat meningkatkan risiko penyakit tidak menular seperti hipertensi, penyakit kardiovaskuler, diabetes mellitus, kanker, osteoporosis dan lain-lain yang berimplikasi pada penurunan produktivitas dan usia harapan hidup,'' ungkapnya.

Ia menambahkan, sebenarnya obesitas pada remaja dapat dicegah dengan mengatur pola dan porsi makan dan minum, perbanyak konsumsi buah dan sayur, banyak melakukan aktivitas fisik, hindari stres dan cukup tidur. (dew)


TOPIK BERITA TERKAIT: #kesehatan 

Berita Terkait

Cukup Pilates, Skoliosis Hilang

Kesehatan

Bye-Bye Kulit Kendur

Kesehatan

Diabetes Masih Dianggap Enteng

Kesehatan

Konsumsi Vitamin dan Buah, hingga Konsultasi ke Dokter

News in Depth

Gara-Gara Medsos, Tidur Susah Nyenyak

Kesehatan

Tips Hilangkan Bau usai Makan Bawang Putih

Kesehatan

IKLAN