Senin, 23 Juli 2018 09:16 WIB
BJB JULI V 2

Jakarta Raya

Kualitas Udara Jakarta Terburuk di Dunia

Redaktur:

ANTRE - Sejumlah pengemudi angkutan kota (angkot) tengah bergantian mengisi Bahan Bakar Gas (BBG), di lokasi pengisian Jalan Perintis Kemerdekaan, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Rabu (16/5). JOESVICAR IQBAL/INDOPOS

INDOPOS.CO.ID - Wakil Gubernur DKI Jakarta, Sandiaga Uno, menyebut kualitas udara di ibu kota terburuk di dunia. Hal ini membuatnya khawatir dengan kondisi kesehatan masyarakat.

"Kemarin Jakarta dapat rekor nomor satu yang enggak boleh diselebrasi, indeks kualitas udara terburuk di dunia per hari kemarin. Ngunggulin Lahore, Dhaka, Beijing. Tahun kemarin level lima, kemarin Jakarta nomor satu, nomor satu yang enggak membanggakan," ujar Sandiaga, saat menghadiri peluncuran Jakpro Gas Converter Kit Utilization Program (Jackup), di Jalan Perintis Kemerdekaan, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Rabu (16/5).

Sebagai orang yang gemar olahraga lari, dan kerap menghirup udara di jalanan ibu kota, Sandiaga mengaku sangat terkejut dengan buruknya kualitas udara Jakarta ini.  Sehingga ia memastikan mendukung Jackup yang diinisiasi oleh PT Jakarta Utilitas Propertindo (JUP), demi mewujudkan program pengendalian pencemaran udara melalui konversi bahan bakar minyak (BBM) ke bahan bakar gas (BBG).

"Kami Pemprov DKI sangat dukung acara ini, program seperti hari ini saya dukung. Kebijakan kedepan kami dukung dengan totalitas. Jadi perintah saya, saya ingin tidak semuanya pemerintah, tapi asosiasi juga terlibat dan all out," tambahnya.

Bukti dukungan Sandi ditunjukkan dengan menghadiri perhelatan tersebut ditengah agenda padat yang harus dijalankannya. Bahkan, saat itu juga Sandiaga memerintahkan kepada Asisten Deputi Gubernur bidang Transportasi Sunardi Sinaga, agar segera mengambil langkah lanjutan.

"Saya tugaskan Pak Sunardi Sinaga bikin laporan kerja sama dengan Jakpro, apa yang diputuskan kami wujudkan segera," terangnya.

Dirut PT Jakarta Utilitas Propertindo Chairul Hakim, mengaku tengah mendorong peningkatan populasi penggunaan BBG di Jakarta. Menurutnya, PT Jakarta Propertindo melalui anak usahanya PT Jakarta Utilitas Propertindo meluncurkan program Jackup untuk kepemilikan converter kit. Program Jackup ini memberikan kemudahan bagi pengusaha transportasi umum, seperti angkot, taksi konvensional dan online, bisa mendapatkan alat converter kit tanpa harus membayar uang muka. "Program ini sudah kita soft launching tiga bulan lalu dan sangat diminati konsumen, khususnya sektor transportasi umum. Mereka merasakan manfaatnya dari sisi keuangan yang lebih ekonomis," ucap Hakim.

Seperti diketahui, salah satu kendala masyarakat malas beralih menggunakan BBG dari Bahan Bakar Minyak (BBM), karena mahalnya harga alat konversi atau converter kit tersebut. Lewat program ini, pemilik kendaraan bisa mendapatkan alat itu dengan cara mencicil. Diharapkan, program ini bisa membantu khususnya bagi pengusaha transportasi umum. Dampaknya, pengusaha transportasi umum misalnya, dapat menghemat biaya operasional bahan bakar.

Seperti diketahui, selisih harga antara BBM Premium dan BBG cukup signifikan, yakni Rp 3.450. Harga BBM Premium sebesar Rp 6.550 per liter, sementara BBG Rp 3.100 ISP. Dengan program Jackup, peserta akan membeli BBG sebesar Rp 4.600 perliter dengan rincian Rp 3.100 ISP harga BBG dan tambahan Rp 1.500 sebagai cicilannya. "Dengan begitu mereka akan tetap menghemat sebesar Rp 1.950 per liter. Sehingga setiap pengendara yang melakukan konversi BBG, dapat menghemat sebesar Rp 1 juta per bulan," ucap dia. Chairul mengatakan, sejak digulirkan tiga bulan lalu, peserta Jackup sudah 200 kendaraan. Sedangkan targetnya, tahun ini bisa menembus 1.000 kendaraan yang mengunakan converter kit dari program Jackup.

Salah seorang pengemudi angkot 26 jurusan Rawamangun-Kalimalang, yang telah menggunakan BBG selama satu setengah bulan, mengaku penggunaan BBG lebih hemat. Biasanya saat masih menggunakan BBM, dirinya menghabiskan biaya Rp 150 ribu untuk mengisi bahan bakar per hari. “Namun setelah menggunakan BBG, hanya butuh Rp 80 ribu saja untuk mengisi bahan bakar per hari,” jelasnya.

Hanya saja, Bambang mengaku penggunaan BBG juga ada kendalanya. Yaitu, terbatasnya lokasi pengisian BBG. Di wilayahnya hanya ada satu tempat pengisian, yakni di dekat asrama Brimob Pulogadung. “Kami harus mengantre panjang, sehingga membuang waktu sangat lama. Kami harapkan lokasi pengisian BBG diperbanyak lagi,” tandasnya. (ibl)

Grafis

-Kualitas udara di Jakarta terburuk di dunia, mengalahkan Lahore, Dhaka, dan Beijing.

-Wagub DKI Sandiaga khawatir kesehatan warga terancam karena polusi.

-Salah satu upaya penanganan dengan konversi bahan bakar minyak (BBM) ke bahan bakar gas (BBG).

-Program konversi dilaksanakan dengan peluncuran Jakpro Gas Converter Kit Utilization Program (Jackup)

 


TOPIK BERITA TERKAIT: #kesehatan 

Berita Terkait

IKLAN