Nasional

Nah Lho, Negara yang Suka Impor Diprediksi Pertama Kena Krisis Pangan

Redaktur: Sicilia
Nah Lho, Negara yang Suka Impor Diprediksi Pertama Kena Krisis Pangan - Nasional

Foto : Ilustrasi

INDOPOS.CO.ID - Sejumlah anak muda milenial mengambil inisiatif mengampanyekan pentingnya kemandirian dan ketahanan pangan melalui Forum Pendaringan. Pasalnya, World Resources Institute (WRI), Bank Dunia, dan UNDP telah mengingatkan ancaman krisis pangan serta bahaya kelaparan akan terjadi dalam tiga dekade mendatang.

Koordinator Pendaringan Aida Syamsuhadi mengatakan, negara-negara yang memenuhi kebutuhan pangannya melalui kebijakan impor akan menjadi yang pertama-tama terkena dampak krisis pangan. Bahkan, 10 tahun lebih awal dari negara-negara lainnya.

Keteledoran yang dipicu oleh kebijakan impor yang serampangan bukan hanya menciptakan ketergantungan. Lebih buruk dari itu, impor yang tak terkendali dicemaskan mengganggu kedaulatan dan ketahanan pangan untuk jangka waktu yang lebih panjang.

”Kita semua tentu ingin Indonesia secara fundamental kokoh. Sudah saatnya kita mengarahkan fokus perhatian pada penguatan sendi-sendi ketahanan pangan. Profesi petani, peternak, dan nelayan diakui amat penting. Tapi ketiga profesi ini relatif belum cukup banyak merasakan kebijakan yang berpihak,” ungkap Aida dalam keterangan tertulisnya kepada INDOPOS, Kamis (17/5).

Menurut pendapatnya, seakan ada pihak di negeri ini yang tidak suka petani, peternak, dan nelayan kuat. ”Makanya, petani, peternak, dan nelayan kita seperti sengaja dibiarkan tanpa aturan yang mampu melindungi, menjaga, dan merawat kesinambungan,” ujarnya.

Sementara itu, seorang peternak muda penggagas penyelenggaraan Kuliah Whatsapp (KulWA) yang ditujukan bagi para petani, peternak dan nelayan Nur Agis Aulia menambahkan, tak hanya sekadar menjadi arena diseminasi pengetahuan atau tukar informasi dari mereka yang telah berhasil menorehkan banyak prestasi di sektor pangan saja. Dia menyebut, di forum ini pula petani, peternak, dan nelayan dapat berkonsolidasi dan mengorganisasi diri untuk memperjuangkan kebijakan yang berpihak.

”Pendaringan akan kami dorong sebagai tempat untuk mengadvokasi berbagai isu yang dianggap melemahkan kehidupan petani, peternak, dan nelayan di Indonesia. Kami juga menyadari, di masa depan para petani, peternak, dan nelayan harus mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Digitalisasi produk pertanian, misalnya, sangat penting bagi semua pemangku kepentingan. Sekaligus juga upaya kami untuk memudahkan konsumen terhubung langsung dengan petani, peternak dan nelayan," bebernya. (aen)

Berita Terkait

Megapolitan / Ibu Kota Ketergantungan Pangan dengan Daerah

Megapolitan / Duh, Marak Pangan Olahan Tak Kantongi Izin

Kesra / Data Dinilai Bias, Disarankan Pemutakhiran

Nasional / Petani di Ujung Senja, Roadmap Pangan Capres Tak Jelas

Ekonomi / Solusi Pangan melalui Sustainable Farming 

Nasional / Kementan Geber Peningkatan Pangan Lokal


Baca Juga !.