Jumat, 21 September 2018 09:29 WIB
pmk

Kesehatan

Cegah Sakit Tenggorokan dan Perut Selama Berpuasa

Redaktur:

BIJAK-Diskusi bertajuk Makan Bijak di Jakarta, Rabu (23/5) mengajak masyarakat mengonsumsi makanan yang tepat sehingga pencernaan lebih terjaga dan lebih nyaman menjalankan ibadah puasa. Foto: Joesvicar Iqbal/INDOPOS

INDOPOS.CO.ID - Saat puasa, tubuh mendapat berbagai manfaat. Itu seperti mendapat kesempatan berisitirahat bagi alat pencernaan dan memperbaiki proses regenerasi saluran cerna. Namun, puasa juga memberikan risiko dehidrasi yang menyebabkan kering dan turunnya daya tahan tubuh. Sehingga itu akan mudah terkena risiko infeksi kuman pada rongga mulut kita seperti sakit tenggorok dan sariawan. 

Kesehatan tenggorok ketika berpuasa perlu dijaga agar ibadah puasa bisa berjalan dengan maksimal. Untuk mencegah infeksi tenggorok saat puasa, penting untuk memperhatikan pilihan makanan dan minuman yang dikonsumsi ketika sahur dan berbuka serta rutin melakukan kebiasaan gargle/kumur saat sahur dan sebelum tidur.

''Pada saat berpuasa, tubuh kita tidak diisi dengan nutrisi selama hampir 14 jam. Ketika berbuka atau sahur, tubuh membutuhkan penyesuaian kembali dengan apa yang masuk ke dalam tubuh, begitu juga dengan tenggorok. Untuk mencegah infeksi pada tenggorok, pilihlah makanan dan minuman yang sesuai dengan suhu tubuh normal manusia yaitu 37 derajat celcius. Makanan dan minuman yang terlalu panas atau dingin bisa memicu reaksi stress pada mukosa tenggorok sehingga kuman lebih mudah masuk. Hindari juga makanan berminyak seperti gorengan karena dapat menyebabkan iritasi pada tenggorokan,'' ujar Ketua Department Ilmu Gizi RSCM FKUI, dr. Fiastuti Witjaksono, SpGK di Jakarta, Senin (21/5).

Fiastuti menambahkan, selain menghindari makanan dan minuman pemicu radang, penting untuk mengkonsumsi makanan yang sehat dan seimbang untuk menjaga daya tahan tubuh ketika puasa. Pada saat puasa, waktu makan terbagi menjadi tiga, yaitu ketika sahur, berbuka, dan setelah tarawih. ''Pada saat sahur, utamakan mengkonsumsi makanan lengkap yang mengandung karbohidrat, protein, sayur, dan buah serta air putih 2-3 gelas,'' tukasnya.

Dr. Fias mengungkapkan, hindari minuman yang manis karena dapat mempercepat rasa lapar muncul. Saat berbuka, awali dengan makanan atau minuman yang manis untuk mengganti kadar glukosa darah yang sudah turun selama berpuasa seperti teh manis, kurma, dan kolak. Lanjutkan dengan makan lengkap yang mengandung karbohidrat, protein, lemak, sayur dan buah serta minum 3-4 gelas air putih. ''Setelah tarawih bisa diisi kembali dengan makanan kecil serta air putih 1-2 gelas,'' ucapnya.

Pada saat risiko infeksi tenggorok meningkat ketika berpuasa, masyarakat dianjurkan untuk menjaga kesehatan tenggorok dengan gargle menggunakan cairan kumur antiseptik. Gargle merupakan cara berkumur yang benar yakni dari rongga mulut hingga pangkal tenggorok. Berdasarkan hasil penelitian, cairan kumur antiseptik yang mengandung Povidone-Iodine terbukti dapat mengurangi jumlah bakteri dan virus pada rongga mulut sebanyak 99.9 persen dengan efektivitas tinggi dan waktu singkat. Berkumur dengan cairan penyegar mulut yang tidak tepat akan membuat rongga mulut kita terasa kering, dimana kondisi rongga mulut yang kering akan memudahkan bakteri berkembang.

''Povidone-Iodine 1 persen merupakan zat antimikroba yang memiliki manfaat untuk menjaga kebersihan daerah mulut dan tidak menimbulkan resistensi dan sudah terbukti secara klinis dapat membunuh kuman seperti bakteri, jamur ataupun virus di area mulut dan tenggorok secara efektif.  Povidone – Iodine 1 persen telah juga  aman digunakan pada rongga mulut dan juga daerah tenggorok karena memiliki spectrum yang luas, dapat membantu mempercepat penyembuhan luka infeksi di rongga mulut, dan membantu menghentikan pendarahan,'' kata Educator & Trainer Mundipharma Indonesia, dr. Mery Sulastri.

''Kami menganjurkan pada masyarakat untuk gargle selama 30 detik menggunakan cairan antiseptik Povidone-Iodine seperti Betadine® Obat Kumur yang terbukti dapat mengembalikan kadar flora normal dalam 120 menit. Dan selama bulan puasa, masyarakat direkomendasikan untuk gargle dua kali sehari, yaitu saat sahur setelah selesai makan dan sebelum tidur,'' tutup dr. Mery.

Di tempat yang terpisah, Assistant Brand Manager Mylanta Dinda Parameswari, mengatakan, di bulan Ramadhan pola makan warga DKI Jakarta meningkat dari biasanya. Tidak teraturnya makan keseharian dapat menimbulkan masalah bagi perut. Sehingga pola hidup sehat harus dijaga, selain itu sampah yang tentunya meningkat dapat diantisipasi lebih dini.

Bukan hanya makan yang tidak teratur, mengonsumsi makanan secara tidak bijak, misalnya makan berlebihan juga dapat mempengaruhi kesehatan perut salah satunya seperti rasa begah dan tidak nyaman di perut.  "Di bulan puasa, Mylanta ingin mengajak masyarakat Indonesia untuk lebih bijak dalam mengonsumsi makanan sehingga pencernaan lebih terjaga dan lebih nyaman dalam menjalankan ibadah puasa," tandasnya mengajak warga Jakarta berkampanye dalam kegiatan bertajuk Makan Bijak di Jakarta, Rabu (23/5) siang kemarin.

Sebagai produk yang telah hadir, sambungnya, dalam membantu masyarakat Indonesia mengatasi gejala sakit maag, Mylanta berinisiatif untuk mengajak masyarakat Indonesia menerapkan kebiasaan makan secara bijak melalui kampanye bertajuk “Makan Bijak”. Selain dapat membantu mengurangi sampah makanan, makan secara bijak juga baik bagi kesehatan perut. Terutama saat bulan Ramadhan seperti saat ini, dengan mengonsumsi makanan secara tidak berlebih juga dapat membantu menjalani ibadah puasa dengan lebih nyaman.

Berdasarkan Food Sustainability Index 2017 yang dirilis oleh The Economist Intelligence Unit (EIU), terdapat hampir satu miliar orang menderita kelaparan, tetapi sepertiga makanan hilang atau terbuang.  Limbah makanan sesuai dengan empat kali jumlah yang dibutuhkan untuk memberi makan orang-orang yang menderita kurang gizi di seluruh dunia. Adapun untuk kategori limbah dan bahan makanan yang terbuang (Food Loss and Waste), Indonesia menempati peringkat kedua terbawah atau hanya lebih baik dari Arab Saudi.

Arief Daryanto, Ph.D. yang merupakan Direktur dan Peneliti bidang Ekonomi Agribisnis Institut Pertanian Bogor (IPB) menjelaskan, saat membahas mengenai ketersediaan atau ketahanan pangan (food security), seringkali kita hanya fokus pada cara untuk meningkatkan produksi makanan tanpa memikirkan bagaimana mengatasi tingkat food loss & waste. Padahal food loss & waste merupakan persoalan penting yang kini menjadi perhatian negara-negara di dunia karena dapat mempengaruhi tingkat ketahanan pangan suatu negara. "Berimbas pada pemerataan kesejahteraan masyarakat," ungkapnya.

Guna membantu masyarakat dalam memahami lebih jauh mengenai apa yang dimaksud dengan ‘kehilangan pangan’ (food loss) dan ‘sampah makanan’ (food waste), lebih jauh Arief menerangkan bahwa food loss adalah makanan yang hilang sebelum sampai ke tangan konsumen (kehilangan yang terjadi saat makanan dalam tahap pengolahan dan/atau distribusi), sedangkan food waste adalah kehilangan yang terjadi pada tahap konsumsi.

Mengenai tingkat food loss & waste, lebih jauh Arief mengatakan, menurut data dari FAO, sekitar 1,3 trilyun ton makanan hilang setiap tahunnya di seluruh dunia dengan rincian tingkat kehilangan saat produksi 10 persen, kehilangan saat tahap pengolahan paska panen & distribusi mencapai 7 persen, kehilangan selama pengolahan sebesar 1 persen, kehilangan saat pemasaran 6 persen, serta kehilangan saat tahap konsumsi mencapai 9 persen.

Annisa Paramitha dari Waste4Change, organisasi yang bergerak di bidang lingkungan menyebutkan, konsumen Indonesia dihadapkan pada berlimpahnya pilihan makanan, namun tidak semua pilihan itu merupakan makanan yang baik atau sehat untuk dikonsumsi. Saat 40 persen masyarakat Indonesia dinyatakan kurang gizi, sekitar 10 persen yang lain justru mengalami obesitas (kelebihan berat badan). Dengan tingkat sampah makanan yang mencapai 13 juta ton per tahunnya, kita sebenarnya bisa memenuhi kebutuhan pangan 28 juta orang yang hidup di bawah garis kemiskinan.

"Dengan mengurangi sampah makanan, selain dapat mengatasi krisis pangan, kita juga bisa mengurangi dampaknya terhadap kerusakan lingkungan misalnya seperti menurunkan tingkat gas metana," ulasnya.

Annisa menambahkan, salah satu solusi untuk mengurangi angka food loss & waste di Indonesia adalah dengan mendorong masyarakat untuk makan secara bijak atau tidak berlebihan. Karenanya, kami sangat mengapresiasi langkah inisiatif yang dilakukan Mylanta® dengan meluncurkan kampanye ‘Makan Bijak’ menjelang bulan Ramadhan, dimana tingkat konsumerisme masyarakat justru cenderung meningkat.

"Mylanta berharap dengan mengajak masyarakat untuk menerapkan kebiasaan makan secara bijak, dapat turut berkontribusi dalam mengurangi angka sampah makanan, sehingga dapat tercipta lingkungan dan kesejahteraan yang lebih baik di sekitar kita. Karenanya, mari Makan Bijak, Baik untuk Perutmu, Baik untuk Lingkunganmu!," tutup Dinda Parameswari. (dew/ibl)

 

 


TOPIK BERITA TERKAIT: #kesehatan 

Berita Terkait

Sunglasses Tangkal Katarak Dini

Kesehatan

Seksi Sixpack Tanpa Sit Up

Kesehatan

Ketua MUI : Vaksin MR Wajib

Nasional

Lasik, Tindakan Cepat Persiapan Lama

Kesehatan

Mengetahui Manfaat Daun Kelor

Kesehatan

IKLAN