Selasa, 25 September 2018 08:24 WIB
pmk

Headline

Pemerintah Kembali Impor Beras, Alasannya...

Redaktur:

INDOPOS.CO.ID - Pemerintah kembali mengeluarkan izin impor beras sebanyak 500 ribu ton, persis impor jilid pertama sebelumnya. Izin impor beras bagi Badan Urusan Logistik (Bulog) ini, merupakan kesepakatan bersama antara Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Menteri Pertanian, Menteri BUMN, dan eks Direktur Utama Perum Bulog, pada Februari 2018 lalu.

"Ada permintaan dari Bulog atas  perintah dari rapat koordinasi. Maka saya mengeluarkan surat Persetujuan Import (SPI)," kata Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita kepada INDOPOS di kantornya, Kamis (24/5). 

Dikatakan, pemerintah telah menerbitkan izin impor kedua bagi Bulog sebesar 500 ribu ton dengan tenggat waktu Juli mendatang. Keputusan ini menurutnya bukan hal baru, melainkan sudah ditentukan sejak awal tahun 2018. 

Keputusan itu, diambil agar stok beras Bulog memenuhi cadangan optimal, yakni 1,5 juta ton. Jika mengandalkan penyerapan dalam negeri, maka pemenuhan cadangan itu dinilai tak akan optimal.

Berkaca pada data Bulog per 23 Mei 2017, realisasi pengadaan dalam negeri sebanyak 791.911 ton. Jika ditotal dengan pengadaan luar negeri, maka total cadangan Bulog saat ini sudah mencapai 1,32 juta ton. 

Sehingga, jika ingin menambah cadangan lagi, mau tak mau kebijakan impor harus dilakukan. "Kalau tidak ada impor, maka akan ada kelangkaan. Impor ini dilakukan atas cerminan kekurangan suplai," ujarnya. 

Ia melanjutkan, lelang pengadaan yang dilakukan Bulog pun dilakukan sejak lama. Bahkan, saat tampuk kepemimpinan Bulog masih diduduki oleh Djarot Kusumayakti. 

Karena melalui lelang, maka tidak enggan disebut sembunyi-sembunyi. "Itu semua tender terbuka kok. Perintah kami hanya berikan ke Bulog. Lalu Bulog lakukan tender terbuka. Dan itu sudah lama," jelasnya.

Dengan tambahan izin impor ini, kuota beras impor tahun ini tercatat 1 juta ton. Sebelumnya pada Januari lalu, pemerintah memutuskan untuk mengimpor 500 ribu ton beras khusus dari Thailand dan Vietnam demi mengantisipasi harga beras yang tak kunjung turun.

Di sisi lain, Enggartiasto Lukita mengatakan, harga beras di pasar relatif stabil di atas harga eceran tertinggi (HET). Berdasarkan laporan dari Bandung, Jawa Barat harga beras Rp.8.950 dan Rp.11.000 yang premium.

" Kalau masih ada, begitu beras ada langsung kita drop," terangnya.

Ketika ditanya soal mafia pangan, Enggar enggan berkomentar. Sikap yang sama ditunjukkan Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Tjahya Widayanti. Ketika koran ini mengkonfirmasi soal mafia pangan, ia enggan berkomentar lebih jauh.

"Saya enggak dengar soal mafia pangan. Jadi saya tidak mau komentar," ungkap Tjahya Widayanti kepada INDOPOS.

Ia memastikan beras di pasar aman. " Kalau terjadi gejolak di pasar, ya tinggal kita bagi aja beras impor," kata Tjahya Widayanti. (nas)

 


TOPIK BERITA TERKAIT: #impor-beras #beras-impor 

Berita Terkait

Bulog Tolak Impor, Stok Cukup Hingga Juni 2019

Headline

Stop Impor Beras

Headline

IKLAN