Minggu, 23 September 2018 09:30 WIB
pmk

Liga Champions

Sibak Mitos Pecundang di Final Liga Champions

Redaktur:

Foto: INT

INDOPOS.CO.ID - Partai puncak untuk berebut si Kuping Besar tersaji dini hari nanti. Sang juara bertahan Real Madrid yang didaulat jadi tuan rumah berhadapan dengan tim elit asal Liga Primer Inggris, Liverpool.  Dalam dua musim terakhir, Real Madrid menjadi raja di arena itu. Kalau klub yang bermarkas di Santiago Bernabeu itu mampu melakukannya, maka inilah gelar ke-13.

Nah, mayoritas klub tampaknya tidak suka dengan dominasi Real itu. Yang belakangan muncul di Ukraina sebagai negara penyelenggara final kali ini, sentimen anti-Real Madrid terasa cukup kental. Cukup dua musim terakhir, final 2016 dan 2017 itu yang menjadi milik Real. Tidak untuk final di Olimpiyskiy, Kiev, dini hari nanti WIB (Siaran Langsung SCTV/ beIN Sports 1/ beIN Sports 2 pukul 01.45 WIB). Nah, sentimen itu akan dibebankan di pundak Liverpool. ''Kami tidak sesering Real merasakan atmosfer final (Liga Champions). Tapi ini sepak bola, kami punya keempatan. Kami akan coba,'' ucap Juergen Klopp, dikutip The Telegraph. Ini final pertama Liverpool setelah menanti satu dekade. Ini final ketiganya Liverpool setelah ditekuk AC Milan 1-2 di Athena pada  2007.

Real sudah tiga kali ini datang ke final dalam tiga musim terakhir. Artinya, inilah final Liga Champions keempatnya dalam lima musim terakhir. Begitu pula dengan potensi starting eleven-nya. Hanya Isco dan Raphael Varane yang tak masuk komposisi Zinedine Zidane dalam final pertamanya di San Siro, Milan, dua musim lalu.

Musim lalu, nyaris tak ada bedanya dengan musim ini. Bandingkan dengan Liverpool di final kali ini. Klopp pelatih pecundang di Wembley pada final edisi 2013 semasa masih melatih Borussia Dortmund. Klopp pun pecundang di final Liga Europa 2016 saat dikalahkan Sevilla 1-3 di St Jakob-Park, Basel.

Begitu pula Jordan Henderson dkk yang tak satu pun pernah mencium bau atmosfer final Liga Champions. Kecuali Porto, kejutan final 2004 lawan sesama klub kuda hitam AS Monaco, setelah itu belum ada lagi klub “hijau” jadi raja. Ingat, final Liga Champions selalu soal mental. Musim lalu, saat Juventus lolos ke final semua berpikir itu akhir dari Real.

La Vecchia Signora menawan sejak di fase grup. Unbeaten dan klub dengan defense-nya yang terbaik. Nyatanya dalam final justru dipermak Sergio Ramos dkk dengan skor telak 4-1 di Millenium Stadium, Cardiff, Wales. Juve itu mirip Liverpool musim ini. Jordan Henderson dkk di musim ini jadi klub dengan penyerangan terbaik dan sekali kalah. ''Kami yang menentukan sejarah kami sendiri,'' klaim Kloppo, sapaan akrab Klopp.

Meski “hijau” di final, bek kanan Liverpool Andy Robertson menyebut, tak ada istilah di final mereka gugup. Berbicara di situs resmi klub, atmosfer Etihad (perempat final saat berhasil mengalahkan Manchester City) dan Olimpico (semifinal lawan AS Roma) telah menempa kami dan itu yang jadi alasan kami tak perlu gugup Sabtu malam nanti,'' koar Robbo, sapaannya.

Zizou, sapaan Zidane, seperti dikutip Marca menyebut sentimen itu wajar adanya. Tidak ada bedanya dengan jargon Anyone But United yang sering membayangi Manchester United di era Sir Alex Ferguson, Real terlalu dominan dalam Liga Champions. Zidane siap menjawab apa yang membuatnya gusar itu.

Jargon anti-Real. ''Kami menang bukan karena kami punya pengalaman lebih. Itu takkan berarti apa pun. Ini laga (final) lainnya. Kami akan tunjukkan itu. Dan, kami ingin bisa tunjukkan bahwa kami bisa memenangkannya lagi,'' tutur Zidane yang berpotensi jadi entrenador pertama di Liga Champions sukses hat-trick juara.

Senada dengan Zidane, bek kiri Marcelo pun menganggap pengalaman bukan jadi alasan timnya mudah menjinakkan Liverpool. ''Kalau mudah, untuk apa kami berlatih keras dalam tiap sesi latihan dan tiap laga. Tetap sama. Final selalu sulit,'' sebut Marcelo yang akan langsung berhadapan dengan Salah, top scorer Liverpool.

Di sini kunci taktikalnya. Dengan komposisi yang tak jauh beda, kunci ada di taktik Zidane. Di lini belakang, beranikah dia memainkan Dani Carvajal yang baru pulih dari cedera, langsung di sisi kanan defense Real. Head to head melawan cairnya pergerakan trio Roberto Firmino. Sadio Mane, dan Salah. (ren)


TOPIK BERITA TERKAIT: #final-liga-champions #liga-champions 

Berita Terkait

Morata Bisa Ikuti Idolanya

Liga Champions

Penggoda Hati Sarri

Liga Champions

Jamu Roma, Madrid Tunggu Teka-teki Lopetegui

Liga Champions

Inter Milan Coret Tiga Pemain untuk Liga Champions

Liga Champions

IKLAN