Rabu, 26 September 2018 09:59 WIB
pmk

Fashion

Keindahan Makassar Dalam Busana

Redaktur:

CANTIK-Keindahan bumi Makassar tertuang dalam rancangan Mel Ahyar untuk menyemarakkan Hari Raya. Foto: Dewi Maryani/ INDOPOS

INDOPOS.CO.ID – Mel Ahyar mengajak pengunjung menyelami keindahan bumi Makassar, Sulawesi Selatan lewat koleksi dari lini busananya, Happa. Ia kembali menghadirkan 'Tapak Rentak', yakni koleksi busana wanita pre-fall 2018 miliknya dalam gelaran Ramadan in Style.

“Tapak Rentak memiliki napas persatuan empat suku besar yang mendiami Makassar yakni, Bugis, Makassar, Mandar dan Toraja,'' ujar Mel. 

Mel menjelaskan, masing-masing suku memiliki kekhasan termasuk dalam seni tarinya. Suku Makassar memiliki Tari Pakarena. Ia mencerminkan karakter perempuan Gowa yang sopan, lembut dan patuh. Gerakan tarian menggambarkan siklus kehidupan manusia. 

Sedangkan tari Pajoge dari Bugis biasa digunakan sebagai sambutan untuk para pendatang. Toraja memiliki tari Pa'gellu yang dihadirkan sebagai hiburan serta memeriahkan suatu acara. Jika Bugis punya tari Pajoge, maka Mandar memiliki tari Pa'tuddu untuk menyambut tamu. 

Keragaman bentuk tarian pun dituangkan ke dalam tampilan busana yang beraneka warna. Mel menggunakan warna-warna cerah seperti kuning, oranye, tosca, merah dan biru. Ia pun menyelipkan warna-warna bumi untuk melukiskan karakter penari yang lembut dan rendah hati. 

Ia banyak melakukan eksplorasi pada tenun Pakduredure dan tenun Lagosi. Mel mempertemukan motif kotak-kotak tenun Pakduredure dengan motif bunga-bunga kontras tenun Lagosi. Selain kedua wastra ini, ia juga menggunakan tenun Toraja dengan motif seperti alur-alur lurus. Mel juga menggunakan kain-kain transparan atau organdi tenun khas Makassar. 

Mel banyak menggunakan beads atau manik-manik pada busana. Ia tidak mengaplikasikan penuh pada busana, tetapi hanya pada bagian tertentu seperti dada, lengan, maupun kerah. Terdapat manik dengan tatanan runut, ada pula yang 'berantakan' namun tetap terlihat cantik. 

Manik-manik itu mengingatkan orang akan ragam hias khas Toraja. Namun Mel mengakui dirinya tak sepenuhnya menggunakan manik asli Toraja. ''Kami pilih beads yang lumayan mendekati. Kalau yang asli kan pakai kayu. Sebagian pakai yang menyerupai (yakni) akrilik yang menyerupai kayu. Kalau yang kayu itu memang perawatannya lumayan spesifik karena dia bisa luntur dan enggak tahan lama,'' kata Mel.

Bila diperhatikan lagi, Mel menghadirkan sesuatu yang berbeda dari yang pernah ia tampilkan bersama 'Tapak Rentak'. Seolah ingin turut memeriahkan bulan suci Ramadan dan perayaan Lebaran, ada rasa yang berbeda yang disuguhkan Mel. ''Sebagian koleksi yang sekarang itu adalah khusus dibuat extended dari Tapak Rentak yang lebaran, tapi sebagian lagi memang kita bikin lebih modest,'' tukasnya.

Mel rupanya punya alasan tersendiri mengapa ia tak memilih putih pada koleksi lebarannya. Selain warna dan etnik menjadi jantung utama koleksi Mel Ahyar, ia pun ingin membidik pasar millennial yang suka mix and match. ''Generasi millennial itu aku perhatiin lebih senang dengan warna gitu. Jadi nggak yang Lebaran banget gitu,'' ungkapnya.

Ya, tunik-tunik ini bisa dikenakan bersama celana panjang. Namun Mel menyebut jika dikenakan tanpa celana pun, tunik masih terbilang sopan sebab potongannya panjang hingga betis. Ia sengaja tidak menghadirkan busana yang 'sangat' gamis atau kaftan meski bertepatan dengan bulan Ramadan dan jelang Lebaran. 

Tak melulu lekat dengan kerudung, ia memberikan pilihan penggunaan turban. Scraf ia modifikasi menjadi turban yang menutup rambut secara keseluruhan. ''Kalau pun ingin pakai kerudung bisa banget,'' pungkasnya. (dew)

 


TOPIK BERITA TERKAIT: #fashion #busana 

Berita Terkait

WICSF 2018 Padukan Kuliner dan Fashion

Fashion

Fall Winter 2018 yang Customizes

Fashion

IKLAN