Rabu, 26 September 2018 08:08 WIB
pmk

Nasional

Seruan Mantan Jenderal Kembali ke UUD 45 Asli Makin Menggema

Redaktur: Ali Rahman

Seminar sekaligus peringatan Harkitnas, dengan mengambil tema 'Bangkit, Bergerak, Berubah, atau Punah' yang diprakarsai Rumah Kebangkitan Indonesia dan Ikatan Alumni Resimen Mahasiswa DPP DKI Jakarta, di Gedung Konvensi Taman Makam Pahlawan Nasional, Kalibata, Jakarta Selatan, Minggu (20/5).

INDOPOS.CO.ID - Seruan para mantan jenderal untuk kembali ke Undang-Undang Dasar 1945 asli, makin menggema. Mereka tidak ingin seruan hanya terhenti di acara peringatan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) saja, namun terus berlanjut dan digelorakan dalam kegiatan sehari-hari.

“Seluruh peserta yang hadir saat peringatan Harkitnas di Kalibata beberapa hari lalu, akan bertindak sebagai fasilitator untuk mengajak kembali ke UUD 45 asli,” ujar Mayjen TNI (purn) Prijanto di Jakarta, Senin (28/5).

Prijanto yang saat ini tergabung dalam Gerakan Kebangkitan Indonesia (GKI) ini mengatakan, ajakan untuk kembali ke UUD 45 asli dilaksanakan melalui edukasi dan sosialisasi. “Sasarannya adalah seluruh rakyat, termasuk juga di lingkungan kampus,” kata mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta tersebut.

Lebih lanjut Prijanto menceritakan, dalam sejarah UNCI PBB (United Nation Comimisons for Indonesia) dibentuk untuk mendamaikan Indonesia-Belanda. Namun Belanda melakukan propaganda, yang berisi kabar “Indonesia dan TNI sudah hancur”. Kemudian, Jenderal Sudirman mendengar propaganda tersebut, langsung merancang serangan ke Yogyakarta. Serangan Umum 1 Maret 1949, walaupun hanya 6 jam menduduki Yogyakarta, namun tujuan untuk menunjukkan Indonesia dan TNI masih ada, berhasil dan membuat dunia terbelalak.

“Sejarah itu memberikan ilham bagi kami untuk mengadakan Peringatan Harkitnas, 20 Mei 2018 lalu, dengan menggandeng Ikatan Alumni Resimen Mahasiswa Indonesia (IARMI) Jakarta. Peringatan Harkitnas di gedung Konvensi TMPN Kalibata,” jelasnya.

Kendati acara hanya berlangsung 2,5 jam, lanjut Prijanto, namun diharapkan bisa membuka mata siapapun, bahwa kemanunggalan TNI-Rakyat masih ada dan telah membuahkan bersatunya para purnawirawan dengan rakyat, untuk menyikapi situasi negara dan bangsa. Acara tersebut pun menjadi topik di beberapa media.

“Mantan Jenderal Berkumpul, Serukan Kembali ke UUD 45 Asli”, selama 3 hari menembus hampir 150 ribu pembaca dengan share hampir 1.500. Komentar positif membanjiri berita tersebut. Sasaran tercapai, walau hanya 2,5 jam, rakyat kini mengetahui, masih banyak Perwira purnawirawan dan rakyat yang bermental patriotik dan militan. Hasratnya tidak pernah padam. Ajakan untuk Kembali ke UUD 1945 asli menggelinding di masyarakat bak bola salju,” tegasnya.

Sebelumnya, pada peringatan Harkitnas di Kalibata 20 Mei lalu, diikuti lebih 100 purnawirawan dari berbagai angkatan kelulusan. Memulai acara, peserta menyahut menyanyikan Hymne Taruna, ketika Ketua Panitia Prijanto memberikan prakata menyanyikan hymne tersebut.

BIAR BADAN HANCUR LEBUR
KITA KAN BERTEMPUR
MEMBELA KEADILAN SUCI
KEBENARAN MURNI

DI BAWAH DWI WARNA PANJI
KITA KAN BERBHAKTI
MENGORBANKAN JIWA DAN RAGA
MEMBELA IBU PERTIWI
DEMI ALLAH MAHA ESA
KAMI NAN BERSUMPAH
SETIA MEMBELA NUSA DAN BANGSA
TANAH TUMPAH DARAH

Suasana berubah haru, hikmat membangkitkan jiwa kejuangan. Cetusan kesetian hati dan tekad para purnawirawan kepada nusa, bangsa dan tumpah darahnya, membangun suasana dalam gedung penuh semangat patriotisme.

Tema peringatan “Bangkit, Bergerak, Berubah atau Punah” mengajak rakyat Indonesia untuk bangkit dan bergerak jiwa, pikiran, ucapan dan perilakunya, sesuai peran, kapasitas dan kesempatan masing-masing, untuk mengelola semua aspek Astagatra, agar berubah menjadi ketangguhan dan keuletan bangsa untuk mencapai cita-cita Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, aman, tenteram, adil dan makmur. Apabila abai, lalai, tak peduli terhadap perkembangan lingkungan strategis global, regional dan nasional, hanya satu kata yang pas, kita akan “Punah” tutur Prijanto.

Masih penjelasan Prijanto, tema peringatan karena adanya pernyataan dari beberapa tokoh. Konon Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pernah mengatakan, telah terjadi “Revolusi Senyap” setelah reformasi dan diamandemennya UUD 1945. Jenderal TNI (Purn) Widjojo Soejono menyebut telah terjadi “Invasi Senyap”. Sedangkan Letjen TNI (Purn) Sayidiman Suryohadiprojo mengindikasi terjadinya “Penetrasi Senyap” sehingga asing bisa menguasai Indonesia tanpa harus menduduki dengan kekuatan senjata.

Laksamana TNI (Purn) Slamet Soebijanto mantan Kasal mengatakan kepunahan Indonesia bukan berarti tidak ada secara fisik, tetapi punahnya nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan kita. Nilai-nilai asing telah menggeser nilai-nilai Pancasila. Mantan Dankormar, Letjen TNI Mar (Purn) Suharto malah lebih tajam; akibat UUD 1945 dikudeta, mengakibatkan situasi dan kondisi buruk saat ini. Sedangkan para aktivis menyebutnya, musuh sudah berada di ruang keluarga sehingga kedaulatan nyaris punah.

Kegalauan atas negara bangsa sangat mewarnai acara Harkitnas. Jenderal TNI (Purn) Djoko Santoso memimpin ‘Mengheningkan Cipta’ mengajak mendoakan arwah pahlawan dan mendoakan Ibu Pertiwi yang sedang bersusah hati. Pengantar tersebut persis dengan lantunan paduan suara “Ibu Pertiwi” dari Menwa Jakarta.

Dirigen paduan suara tidak ingin larut dalam kesedihan. Dirigen paduan suara tidak kurang akal, kurang lebih 460 undangan, diajaknya menyanyi lagu “Maju Tak Gentar” sebagai curahan semangat.

Maju tak gentar, Membela yang benar
Maju tak gentar, Hak kita diserang

Maju serentak, Mengusir penyerang
Maju serentak, Tentu kita menang

Bergerak, bergerak, Serentak, serentak
Menerkam menerjang terkam

Tak gentar, tak gentar, Menyerang menyerang
Majulah majulah menang

Dalam menyikapi tema, menjawab pertanyaan undangan, nara sumber Taufiequrachman Ruky, Hariman Siregar, Ichsanuddin Noorsy, Salamuddin Daeng pada acara ‘Ngobrol Bersama Tokoh’ dengan gamblang memberikan ilustrasi dan informasi keadaan negara. Semua sepakat dan mengajak untuk kembali ke UUD 1945 asli untuk selanjutnya disempurnakan, sabagai solusi mengatasi keadaan saat ini. Sesungguhnya seruan ajakan kembali ke UUD 1945 sudah bergulir lama.

Konsepsi Kaji Ulang UUD hasil amandemen dan beberapa orang utusan yang membawanya sudah ada di Lemkaji MPR RI. Di saat peringatan Harkitnas 2018, secara faktual para Purnawirawan TNI/Polri bersama rakyat juga telah menggulirkannya. Bagaimana dengan TNI yang memiliki Sapta Marga dan Sumpah Prajurit ? Bagaimana pula dengan Polri yang memiliki Tri Brata ? Apakah TNI dan Polri tidak sadar bahwa Konsitusi hasil amandemen keluar dari roh Pancasila? Mari kita tunggu. (nas)

 


TOPIK BERITA TERKAIT: #kembali-ke-uud-1945 #mantan-jenderal #mayjen-tni-purn-prijanto 

Berita Terkait

IKLAN