Minggu, 18 November 2018 09:46 WIB
pmk

Ekonomi

Neraca Perdagangan Tidak Boleh Defisit

Redaktur: Ali Rahman

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution (tengah) usai jumpa pers Penguatan Koordinasi Untuk Stabilisasi dan Mendorong Pertumbuhan Ekonomi di kantor Kemenkeu, Jakarta, Senin (28/5).

INDOPOS.CO.ID - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution akan mendorong neraca perdagangan surplus. Pasalnya kalau neraca perdagangan defisit, akan menimbulkan persepsi yang kurang baik.

"Kita memang tidak boleh neraca perdagangannya defisit. Coba lihat negara lain, negara yang defisit begitu tekanannya lebih besar. Ini sih persepsi," ujar Darmin pada jumpa pers Penguatan Koordinasi Untuk Stabilisasi dan Mendorong Pertumbuhan Ekonomi di kantor Kemenkeu, Jakarta, Senin (28/5).

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, selama periode Januari hingga April 2018, neraca perdagangan Indonesia defisit sebesar USD 1,31 miliar. Walaupun defisit dan terjadi pelemahan rupiah, kondisi fundamental perekonomian Indonesia tetap kuat.

"Saya tidak pernah bilang krisis. Jangan bilang pemerintah hanya memberi perhatian pada neraca BUMN. Tapi juga kepada seluruh usaha sektor riil," jelas Darmin.

Terkait stabilisasi dan mendorong pertumbuhan ekonomi, pihaknya akan terus berkoordinasi untuk melakukan penguatan dari tekanan eksternal. Seperti stabilisasi nilai tukar, inflasi yang rendah, defisit fiskal yang sehat.

Lebih lanjut Darmin mengatakan, transaksi perdagangan akan didorong menjadi positif. Yakni melalui penguatan bauran kebijakan moneter BI, kebijakan fiskal oleh Kementerian Keuangan (Kemenkeu), ketersediaan bahan pokok strategis dan perkembangan sektor riil pada umumnya. "Juga penguatan pengawasan lembaga keuangan oleh OJK," pungkasnya.

Sementara itu, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, bauran kebijakan antar instansi maupun di masing-masing instansi akan ditingkatkan. Kemenkeu menurutnya akan tetap bersama BI, OJK, dan LPS untuk menjaga sistem keuangan nasional tetap terjaga dan stabil.

Sementara itu, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menegaskan Ketahanan perekonomian Indonesia, cukup kuat. Indonesia menurutnya, sudah mengalami periode soal gejolak ekonomi dunia. Seperti yang terjadi di Yunani, Brexit dan sebagainya.

"Dan kita tetap kuat. kondisi ekonomi fundamental cukup baik. Inflasi rendah. Kita juga mempunyai bantalan-bantal yang cukup kuat menghadapi tekanan eksternal. Cadangan devisa kita USD 124 miliar, lebih dari cukup," pungkasnya. (dai)

 


TOPIK BERITA TERKAIT: #neraca-perdagangan #darmin-nasution #sri-mulyani #perry-warjiyo 

Berita Terkait

IKLAN