Senin, 24 September 2018 05:09 WIB
pmk

Ekonomi

Pengamat: Ekonomi Indonesia Alami Simalakama

Redaktur: Ali Rahman

ilustrasi. Foto : Dok INDOPOS

INDOPOS.CO.ID - Ekonom Salamudin Daeng menilai, kondisi perekonomian Indonesia saat ini mengalami simalakama.

Hal ini menyusul hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Tambahan Bank Indonesia (BI) yang memutuskan untuk menaikkan 25 basis points (bps) 7-Day Reverse Repo Rate (BI 7-Day RR Rate). Suku bunga acuan kini berada di level 4,75 persen dari 4,50 persen pada, Rabu (30/5).

Padahal dua minggu sebelumnya BI telah menaikkan suku bunganya. Alhasil, dengan kenaikan yang begitu cepat kemungkinan akan melukai pertumbuhan.

Salamudin melihat, apa yang dilakukan pemerintah tersebut merupakan satu-satunya cara yang dapat ditempuh untuk memperkuat rupiah.

"Suku bunga tinggi diharapkan akan membuat investor akan tertarik membeli surat utang pemerintah," ujar dia kepada INDOPOS di Jakarta, Kamis (31/5).

Akan tetapi, menurutnya, suku bunga tinggi justru akan mendorong bank-bank mengalami kesulitan liquiditas karena harus bertanding dengan pemerintah yang menetapkan suku bunga tinggi.

Ia menjelaskan, sebenarnya pemerintah bisa melakukan intervensi pasar dengan menggunakan cadangan devisa yang ada yakni dengan memborong rupiah dengan cadangan mata uang asing yang dimilikinya.

Kemudian efek yang terjadi adalah cadangan devisa ini akan menambah beban keuangan otoritas moneter yang harus menanggung biaya atas operasi pasar semacam itu.

Sebab, cadangan devisa dalam USD bukan milik pemerintah semua tapi milik swasta dan asing yang harus kembalikan pada pemiliknya dalam bentuk dolar atau mata uang asing lainnya. "Risikonya pemerintah bisa bangkrut," pungkas peneliti Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) ini. (jaa)


TOPIK BERITA TERKAIT: #salamudin-daeng #rdg-bi #suku-bunga-bi 

Berita Terkait

IKLAN