Rabu, 14 November 2018 03:53 WIB
pmk

Internasional

Arkady Babchenko yang Kobarkan Lagi Perseteruan Ukraina-Rusia

Redaktur:

DRAMA KEMATIAN - Arkady Babchenko wartawan Rusia yang sempat diduga meninggal menggelar konfrensi pers. AFP

INDOPOS.CO.ID - Arkady Babchenko membangkitkan kembali perseteruan Ukraina dan Rusia. Dua negara yang secara geografis adalah tetangga itu pernah bersitegang gara-gara Crimea. Kini hubungan keduanya kembali renggang karena drama kematian jurnalis 41 tahun tersebut.

”KINI dunia bisa melihat dengan jelas wajah musuh kami. Bukan Ukraina yang seharusnya dikecam. Tapi Rusia,” tegas Presiden Ukraina Petro Poroshenko seperti dilansir Al Jazeera kemarin (2/6).

Dia membela skenario yang dirancang aparat Ukraina guna membongkar kedok Rusia meski terpaksa menjadikan Babchenko umpan. Setelah sekitar dua bulan dirancang, drama itu dipentaskan pada 29 Mei lalu.

Babchenko yang sedang dalam perjalanan pulang menuju apartemennya di Kiev, Ukraina, ditembak seorang pria bersenjata. Sejumlah timah panas yang menembus punggung bapak satu putri (dan enam anak angkat) itu membuatnya roboh ke tanah. Dia pun lantas dinyatakan tewas. Begitu kabar kematian Babchenko tersiar, Security Service of Ukraine alias Sluzhba Bezpeky Ukrayiny (SBU) menyalahkan Rusia.

Borys Herman, pebisnis yang bermitra dengan produsen senjata Ukraina-Jerman, kemudian diamankan. Kabarnya, dialah yang menyewa pembunuh bayaran seharga USD 15.000 (sekitar Rp 208,4 juta) untuk menghabisi nyawa Babchenko. Investigasi awal polisi mengarah pada keterlibatan Rusia dalam upaya pembunuhan itu. Namun, Moskow membantah keras tudingan tersebut.

Reporters Without Borders atau Reporters Sans Frontieres (RSF) menyebutkan bahwa sejak Presiden Vladimir Putin kembali ke Kremlin pada 2012, kebebasan pers di Negeri Beruang Merah itu terampas. Tokoh 65 tahun tersebut memang tidak lantas menjadikan Rusia sama dengan Iran atau Tiongkok. Kendati sebenarnya mengatur publikasi media, Moskow tidak melakukannya secara terang-terangan.

”Jika tidak mau diambil alih pemerintah, media-media laris dihabisi. Tidak ada celah bagi media untuk menanyakan patriotisme rezim Putin dan munculnya aliran neo-konservatif di Rusia.” Demikian bunyi keterangan tertulis RSF dalam siaran persnya awal Juni. Putin, menurut RSF, telah membungkam media dengan intimidasi dan ancaman. Itulah salah satu alasan yang membuat Babchenko angkat kaki dari Rusia.

Pria berkepala plontos teresbut meninggalkan tanah kelahirannya pada Februari 2017. Itu dilakukan setelah dia menuliskan reaksi jujurnya atas kecelakaan maut yang menewaskan kru dan penumpang pesawat Tu-154 pada 2016.

Di laman Facebook, dia mengaku tak sedih saat mendengar berita duka itu karena Rusia terus-terusan membombardir Syria. Sebelum akhirnya menetap dan bekerja di Ukraina, Babchenko dan keluarganya tinggal di Praha.

Dalam catatan yang dipublikasikan The Guardian pada 24 Februari 2016, Babchenko menyebut ungkapan belasungkawa media dan jurnalis Rusia atas insiden di Syria itu palsu. ”Saya tidak sedih. Saya juga tidak menyesalkan insiden yang menewaskan jurnalis-jurnalis pemerintah itu,” ujar Babchenko. Tapi, karena Kremlin mewajibkan rakyat berduka, dia pun manut. Atau, setidaknya tutup mulut.

Di bawah Putin, kualitas pers Rusia sebagai negara pecahan Uni Soviet turun drastis. Sebab, kebebasan berpendapat dan berekspresi direnggut Kremlin. Mereka yang masih bertahan terpaksa diam. Sedangkan mereka yang pilih hijrah ke negara lain seperti Babchenko masih bisa berkoar-kora meski selalu dibayangi ancaman dan intimidasi.

Kendati demikian, RSF mengaku tak bersimpati kepada Babchenko dan SBU yang memilih kebohongan sebagai jalan untuk mengungkap kejahatan Rusia. ”Ini adalah fake news terbesar sepanjang sejarah,” ungkap Ruth Brown, jurnalis New York Post, dalam tulisannya 30 Mei lalu. Sama dengan Brown, sejumlah jurnalis lain dari berbagai penjuru dunia pun menyayangkan skenario Babchenko.

Sehari setelah diberitakan tewas, Babchenko muncul dalam jumpa pers bersama para petinggi SBU di Kiev. Dia kembali hidup. Atau, tepatnya, membuktikan bahwa dia masih hidup sekaligus mengakui kebohongannya.

Bagi RSF, drama kematian jurnalis yang gencar mengkritik Putin dan Presiden AS Donald Trump itu adalah blunder. Babchenko justru menodai kinerja jurnalistik.

Kemarin Amnesty International (AI) mengungkapkan keprihatinan yang sama. ”Keselamatan jurnalis dan para aktivis di Ukraina masih tetap menjadi kekhawatiran terbesar kami sampai sekarang. Kasus Babchenko sama sekali tidak mengubah itu semua,” ungkap seorang jubir AI dalam jumpa pers. Sebaliknya, kasus tersebut justru membuat tugas jurnalistik kian penuh risiko.

Novaya Gazeta, harian yang pernah menaungi Babchenko, ikut buka suara. Seorang mantan kolega Babchenko, Pavel Kanygin, mengatakan bahwa akting rekannya itu telah membuat karir jurnalistiknya tamat. ”Dia sudah mati sebagai jurnalis. Sebab, dia telah melanggar etika dan berkoalisi dengan agen rahasia,” tegasnya.

Namun, Direktur SBU Vasily Hrytsak tidak menggubris kritik RSF dan AI. Dia menyebut skenario kematian Babchenko sukses besar. Sayang, sampai sekarang, SBU masih tidak mau memublikasikan hasil investigasinya terkait kematian palsu Babchenko. Sebaliknya, Kremlin terus membantah. Tampaknya, babak baru ketegangan Ukraina dan Rusia telah dimulai. (hep/c10/dos/jpg)


TOPIK BERITA TERKAIT: #perseteruan-ukraina-dan-rusia 

Berita Terkait

IKLAN