Rabu, 17 Oktober 2018 05:06 WIB
pmk

Lifestyle

Bahayanya Pelecehan Verbal

Redaktur:

Ilustrasi.

INDOPOS.CO.ID - Cyber harassment atau pelecehan di dunia maya adalah jenis kasus terbanyak kedua dari berbagai kasus kekerasan terhadap perempuan yang dilaporkan ke Komnas Perempuan. Hal ini baru saja dialami oleh penyanyi popdut Via Vallen. Psikolog Tara de thouars, BA, M.Psi pun angkat bicara mengenai hal ini. ''Sering kali perempuan itu dilihat berdasarkan tubuh dan objek seksual, itu yang menyebabkan perempuan menyadari apapun itu tubuhnya akan selalu dinilai oleh orang lain,'' ujarnya ketika dihubungi INDOPOS, Rabu (6/6).

Penulis buku Dear Me! ini menjelaskan, perempuan dari segi sosial dikonstruksikan jadi sosok yang tidak boleh agresif, melainkan menjadi sosok yang lebih diam, harus sabar menahan segala emosi, dan tidak bersikap berlebihan.

 ''Dua alasan tadi membuat kebanyakan perempuan cenderung diam saat terjadi pelecehan seksual. Karena ketika hal tersebut terjadi yang ada dibenak perempuan ialah bagaimana kalau nanti saya yang disalahkan, lingkungan melihat saya oh mungkin baju saya terlalu terbuka, terlalu seksi atau mungkin saya memancing terjadi pelecehan, atau kalau ingin marah dan berteriak tidak akan ada yang percaya, kemudian berpikir apakah saya bertidak berlebihan? Atau jangan-jangan itu dilakukan tidak disengaja,'' tukasnya.

Hal tersebutlah sebetulnya yang memicu masalah, seakan-akan hak perempuan itu adalah untuk diam dan menerima.

Lalu apa yang bisa dilakukan ketika terjadi pelecehan seksual, verbal dan non-verbal?  Saat menerima pelecehan, harusnya jangan takut bersuara karena bagaimana pun perempuan itu memiliki hak untuk dihargai, punya hak untuk dihormati, punya hak sepenuhnya untuk tubuhnya. “Kamu mau ngapain, mau pake apa, itu hak kamu, dan kamu punya hak untuk mengekspresikan pendapat, seringkali di budaya kita hak tersebut, bukan hal yang terkesan lumrah,'' imbuhnya.

''Tapi sebaiknya tidak melihat apa yang orang lain katakan, tapi yakini dalam diri sendiri bahwa perempuan punya hak yang sama dengan laki-laki. Jadi bila ada kejadian yang tidak nyaman harusnya kita bergerak melindungi diri kita sendiri, bukan malah menutupi demi khawatir akan penilaian orang lain,'' tandasnya.

Sementara itu, Anindya Restuviani Co-Director Hollaback! Jakarta, komunitas lawan pelecehan mengungkapkan, kita perlu memahami pelecahan. ''Pelecehan itu ada beberapa jenis, jadi nggak serta merta yang namanya pelecehan itu harus bentuk fisik seperti dipegang, harus diraba. Ada juga pelecehan verbal, apalagi dengan keberadaan dunia digital seperti saat ini, banyak juga pelecehan yang dilakukan di dunia cyber atau digital, seperti kasus Via Vallen sendiri masuk ke kategori pelecehan verbal atau bentuk ucapan yang disampikan melalui teks, jadi ini termasuk pelecehan digital,'' tukasnya.

Lantas, apa sih parameter terjadinya pelecehan? ''Parameter pelecehan itu dapat terjadi ada relasi kuasa antara pelaku dan target, relasi kuasa merasa berhak melakukan. Terjadi pelecehan ketika kita merasa tidak nyaman, contohnya ketika di jalan pria melakukan catcall bilang hay cantik. Ada beberapa orang yang merasa itu pujian, adapula yang merasa pelecehan karena merasa tidak nyaman mendapat catcall, karena  Itu sebenarnya sudah merebut ruang pribadi perempuan,'' imbuhnya.

''Jadi tergantung dari diri kita sendiri nyaman atau tidak nyamannya,'' tambahnya.

Namun sayangnya masih banyak pengacuhan dari perempuan ketika mendapatkan pelecehan karena perempuan tersebut menganggap hal tersebut normal atau biasa saja. ''Padahal, jika dilihat di paramida pelecehan, pelecehan berat dapat terjadi diawali dengan perlecehan ringan seperti pelecehan verbal, seperti kebiasaan menggoda-goda perempuan. Jadi jika dianggap biasa saja hal tersebut, pelaku justru berpikir untuk melakukan pelecehan verbal, karena saat pelecehan ringan korban hanya diam saja. Jadi kalo dibiasakan tadinya pelecehan verbal, bisa ke fisik akhirnya terjadi pelecehan pada perempuan, bahkan sampai meninggal,'' tukasnya.

''Nah yang bisa kita lakukan jika terjadi pelecehan sebaiknya speak up. Jadi apa yang dilakukan Via Vallen sudah benar, metode dokumentasi seperti screen shoot itu benar, agar si pelaku jera. Sebetulnya banyak sekali terjadi pelecehan seperti yang dialami Via Vallen, namun banyak yang tidak berani berkata jujur karena alasan keamanan, takut disalahkan, atau takut dibilang lebay,'' katanya.

Namun Anindya mengingatkan, ketika kita melakukan speak up, kita harus perhatikan keamanan kita sendiri. ''Harusnya korban kekerasan juga di support bukan malah  dipojokan ini yang mambuat koran pelecehan jarang melaporkan kejadianya. Menghilangkan trauma dari pelecehan itu butuh proses panjang. Trauma ga akan selesai kalo lingkungan malah memojokkan korban. Ditambah lagi , hukum Indonesia itu belum mengenal pelecehan seksual yang jenisnya Seperti ini. Definisi pelecehan di Indonesia masih sangat sempit. Jadi korban pelecehan seksual dalam dunia Maya, atau verbal harassment nggak punya ruang untuk melapor,'' pungkasnya. (dew)

 

 

 

 


TOPIK BERITA TERKAIT: #pelecehan-verbal #pelecehan-seksual 

Berita Terkait

IKLAN