Jumat, 17 Agustus 2018 12:28 WIB
pmk

Opini

Operasi Gelap 'Kudeta Merangkak' Teror Publik Rusia-Turki-Iran

Redaktur:

Publik Indonesia, pakar-pakar operasi klandestin intelijen, analis intelijen keamanan nasional, dan aktivis gerakan pro-Palestina juga pimpinan dunia Islam lainnya, serius menganalisis peta aktual perang kombinasi hibrid-asimetris koalisi AS-Inggris-Israel-Saudi dan manuver kontra-intelijen Rusia, Turki, Iran dan Palestina paska-relokasi Kedubes AS di Israel dari Tel Aviv ke Jerusalem, pada 14 Mei lalu.

Hal ini difokuskan untuk membaca detail dan update monitoring setiap skenario terbaru operasi-operasi klandestin "Bendera Palsu" (False Flag Operation) ciptaan intelijen negara asing yang andal menciptakan alasan hak moral internasional untuk menyalahkan, meneror,  dan menyerang negara lain di kawasan Timur Tengah, Kaukasus, Asia Selatan, dan sasaran di Asia Tenggara yang telah dijadikan negara target  misi operasi intelijen klandestin.    

Termasuk di Indonesia paska-tertangkapnya Osman Khalid al-Amin,  (Operator unit 999 Cyber Propaganda Intelligence), proyek rahasia intelijen gabungan AS-Israel-Saudi) yang menyamar sebagai direktur media propaganda AMAQ milik kelompok ISIS. AMAQ diterbitkan di Asia Tenggara dengan nama Al-Fatihin yang bermakna "Para Penakluk" pada 20 Juni 2016 yang kala itu juga bertepatan dengan bulan Ramadan.                                                   

Jaringan AL-FATIHIN diatur oleh unit-unit United Cyber Agitator ISIS yang dikomandoi Bahrum Naim dan Bahrumsah melalui aplikasi TELEGRAM bersama  : Cyber Army Al Nusantara Mujahidin, Cyber Army Kumpulan Gagak Hitam Malaysia, Family Cyber Muslim Army Indonesia,  dan unit Cyber Army Harakatul Islamiyyah Filipina. Al-Fatihin  populer di mata publik dan aparat keamanan Indonesia, setelah memprovokasi serangan teror gereja, aparat Kepolisian di Surabaya dan Pekan Baru atas nama ISIS.

"Al-Fatihin menopang pesan-pesan (ISIS) yang menyerukan kepada kelompok-kelompok militan di Indonesia dan Filipina untuk bersatu dan bersumpah setia kepada Abu Bakr Al-Baghdadi," tulis Jasminder Singh dan Muhammad Haziq Jani, analis terorisme di Nanyang Technological University, Singapura, dalam makalah penelitian mereka berjudul "Al-Fatihin: Islamic State’s First Malay-Language Newspaper". Analis tersebut dikutip TIME, Kamis 17 Mei. 

Kepolisian Daerah Jawa Timur dilaporkan sudah melacak surat kabar ISIS itu. Media itu disebarkan secara rahasia di internal kelompok Jemaah Ansharut Daulah (JAD) yang telah berafiliasi dengan ISIS. JAD oleh polisi dinyatakan terlibat dalam serangan bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya, Minggu 13 Mei lalu.        

JEBAKAN OPERASI TEROR " BENDERA PALSU " DI RUSIA.

Sebelumnya sejak Oktober 2017, provokasi teror ISIS terhadap gereja dan polisi sudah lebih dulu dilakukan di Rusia. ISIS mengklaim bertanggung jawab atas penembakan dua polisi pada Minggu 1 Oktober 2017 dan membunuh lima orang sipil di sebuah gereja ortodoks di Kizlyar, Provinsi Dagestan di Wilayah Kaukasus Utara Rusia pada Minggu (18/2). Provokasi itu dikutip CNN.

Melalui juru bicaranya, Patriarch Kirill, gereja ortodoks Rusia mengecam keras serangan tersebut, Mereka menyebutnya sebagai " kejahatan mengerikan’’ untuk memprovokasi konfrontasi antara umat Kristen Ortodoks dengan umat Islam Dagestan.     

Serangan lanjutan terhadap polisi dan gereja kembali dilakukan ISIS di Grozny, Ibu Kota Chechnya, Rusia. Gereja Michael  the Archangel diserang namun berhasil digagalkan. Empat anggota ISIS dan dua polisi terbunuh pada Minggu 19 Mei.                              

‘’Tiga dari penyerang diidentifikasi sebagai penduduk Republik Chechnya, sementara pemimpin kelompok teroris berasal dari Republik Ingushetia,’’ ujar Presiden Chechnya, Ramzan Kadyrov. Para penyerang berusia antara 18 dan 19 tahun. Para teroris "menerima perintah (untuk melakukan serangan) dari salah satu negara Barat,” kata Presiden Kadyrov, mengutip data intelijen dan dilansir RT(21/5).                                            

JEBAKAN OPERASI GELAP " KUDETA MERANGKAK " DI TURKI.       

Fenomena serangan teror klandestin di Indonesia dan Rusia, juga termonitoring di Turki.  Menteri Energi Turki Berat Albayrak mengatakan,  publik Ankara secara alamiah akan melihat Israel sebagai tersangka utama jika Presiden Erdogan jadi target pembunuhan.

"Sebuah laporan berita diterbitkan di website Amerika yang mengata kan Israel akan mengirim pembunuh dan melakukan serangan terhadap presiden. Saya katakan ini, publik sedang membicarakan hal ini. Jika presiden sedikit dirugikan, Israel akan menjadi tersangka secara alamiah," kata Albayrak, yang dilansir Daily Sabah, Kamis (24/5).

Ikhwal Erdogan dijadikan target pembunuhan itu awalnya di laporkan Veterans Today. "Kudeta sedang dalam perencanaan untuk dimulai dengan pembunuhan Erdogan. Israel sedang merencanakannya; kita mendapatkannya dari mana-mana, terutama kontak kita di Angkatan Darat Turki," bunyi laporan yang ditulis oleh Gordon Duff dan diterbitkan pada 15 Mei.

Laporan kontroversial itu muncul menjelang kunjungan Erdogan ke Bosnia-Herzegovina. Intelijen Turki juga telah menerima pemberitahuan tentang kemungkinan plot terhadap Erdogan, yang direncanakan akan dilakukan selama kunjungannya ke Bosnia. Erdoğan mengatakan bahwa dia tidak menerima pemberitahuan seperti itu untuk pertama kalinya baik di dalam maupun di luar negeri.

Artikel Veterans Today juga menam bahkan; "AS sekarang percaya bahwa mereka tidak dapat menyerang Iran tanpa membunuh Presiden Turki Erdogan, dan bahwa Putin tanpa Erdogan di sisinya, akan mundur untuk mendukung Assad atau menawarkan penjualan senjata lebih lanjut ke Iran."

Merespons perkembangan situasi teror tekanan politik koalisi AS terhadap Turki, Presiden Rusia Vladimir Putin menilai AS tidak akan berhasil menekan Presiden Erdogan lantaran Turki membeli sistem rudal pertahanan S-400 Rusia. Saat ini, Washington mengancam tak pasok jet tempur F-35 ke Ankara karena membeli senjata Moskow.  "Saya mengalami kesulitan untuk menjelaskan tekanan ini. Sikap seperti itu terhadap Turki tidak adil," ujar Putin, yang dilansir Daily Sabah, Sabtu (26/5).                                                      

JEBAKAN OPERASI GELAP " KUDETA MERANGKAK " DI IRAN.                    

Konfrontasi teror aktor hibrid menunggangi tokoh dan kelompok antipemerintah serta skenario operasi gelap klandestin asimetris menjebak jaringan kelompok teroris-separatis di Rusia, Asia Tenggara, Turki, Iran, Suriah, dan Palestina terus di operasionalkan oleh operator perang intelijen AS-Israel-Saudi.

Seorang mantan pejabat Mossad mengatakan, AS, Israel dan Saudi, bisa membantu menggulingkan rezim di Iran melalui kudeta. Haim Tomer, mantan pejabat Mossad yang memimpin Intelijen, Kontra-Terorisme dan Divisi Internasional, secara eksplisit berbicara tentang opsi perubahan rezim di Teheran selama wawancara dengan Jerusalem Post, Jumat, (18/5).

Menurutnya, Iran adalah "negara Islam Khomeinist" yang ingin menghancurkan Israel. "Kita dapat mengatasi ancaman itu sendiri; senja ta nuklir, rudal Iran konvensional. Kita dapat bertahan menghadapi itu," katanya. Tomer mengatakan, kebijakan Presiden AS Donald Trump terhadap Iran telah menciptakan "pembukaan besar untuk secara hati-hati mempertimbangkan perubahan rezim sebagai tujuan formal. Israel dapat secara diam-diam membantu memfasilitasi perubahan rezim dan AS dapat mendukungnya di berbagai bidang, sedangkan Saudi dapat membiayai upaya tersebut," ujarnya.

Tomer, yang sekarang bekerja sebagai penasihat investasi dan teknologi mengatakan,  Mossad telah melakukan banyak hal di Iran sebelumnya. Tomer mengakui untuk menjalankan opsi kudeta di Iran tidak mudah. Sebab, Korps Garda Revolusi Iran dan milisi Basiji sangat kuat. Jika itu tidak berhasil, lebih baik untuk membuat warga Iran berperang di antara mereka sendiri ".

SKENARIO OPERASI GELAP INTELIJEN KLANDESTIN ASING

Harian New York Times (NYT) dalam laporannya, Senin 21 Mei memberitakan pertemuan utusan putra mahkota Saudi dan UEA dengan putra sulung Donald Trump sebelum pilpres 2016. Berdasarkan laporan ini, pertemuan di Trump Tower itu berlangsung tiga bulan sebelum pilpres AS dimulai, tepatnya pada 3 Agustus 2016 yang diatur oleh Erik Prince, mantan direktur perusahaan jasa tentara bayaran Black Water.

Pertemuan itu juga dihadiri oleh seorang ahli strategi Israel dan bertujuan untuk memenangkan Trump dalam pilpres. Saudi dan UEA diwakili oleh seorang bernama George Nader, yang saat itu tengah menggodok rencana rahasia untuk mengacaukan ekonomi Iran, menciptakan rasa tidak percaya di tengah para pejabat Iran, dan menghalangi investasi perusahaan-perusahaan asing di Negeri Mullah. George Nader berkata kepada Trump Jr bahwa putra mahkota Saudi dan UEA ingin membantu agar ayahnya menang dalam pilpres AS. Menurut NYT, Muhammad bin Salman dan Muhammad bin Zayed berharap pemenang pilpres AS adalah orang yang memiliki sikap tegas terhadap Iran dan kelompok Suni seperti Ikhwanul Muslimin Mesir.

Dynno Chressbon,        

Pengamat Intelijen

 


TOPIK BERITA TERKAIT: #opini #dynno-chressbon 

Berita Terkait

IKLAN