Minggu, 23 September 2018 12:39 WIB
pmk

News in Depth

Asa Poros Ketiga Masih Menyala

Redaktur:

Mantan Panglima TNI, Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo mencium tangan Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono. Foto: istimewa

INDOPOS.CO.ID - Momen unik terjadi saat acara buka bersama di kediaman Chairman Trans Corp Chairul Tanjung (CT), Jl Teuku Umar, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (2/6) lalu. Gatot Nurmantyo tertangkap kamera memegang dan mencium tangan Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Aksi itu langsung mencuri perhatian publik. Adegan cium tangan itu punya banyak makna, alasan politis berbalut silaturahmi. 

”Ada dua hal dari aksi cium tangan itu. Pertama, sebagai bentuk penghormatan yang muda kepada yang lebih tua, terlebih sama-sama tentara. Satu lagi urusan  politik. Dan, saya lebih melihat ini sebagai pendekatan politik santun yang dilakukan Gatot ke SBY,” tutur Pengamat Komunikasi Politik Universitas Paramadina Hendri Satrio kepada INDOPOS di Jakarta, Minggu (3/6) lalu.

Gatot telah dideklarasikan para pendukungnya menjadi Calon Presiden (Capres) 2019. Hanya sayang, belum ada kendaraan politik yang mengusung.

”Ya, tidak bisa dipungkiri, pasti publik akan mengira aksi cium tangan itu untuk meraih kendaraan politik untuk Pilpres,” ujarnya.  Meski begitu, lanjut Hendri, akan sulit bagi Demokrat untuk melepas Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan menggantikannya dengan Gatot. 

”Semua berpulang kepada SBY.  Apakah dia rela,” seloroh Hendri. 

Ketua DPP Partai Golkar Ace Hasan Syadzily mengatakan, aksi cium tangan itu tidak perlu ditafsirkan macam-macam. Aksi itu hanya bagian silaturahmi Gatot kepada SBY.

”Itu kan silaturahmi biasa saja. Pak Gatot kan mantan Panglima TNI yang diangkat pada masa Presiden SBY,” kata Ace. 

Namun, Ace juga menduga cium tangan ke SBY bagian dari manuver Gatot. Sehingga, dia menilai aksi tersebut memiliki tujuan politik.

”Ya, sebagai bagian dari langkah-langkah Pak Gatot, apa yang dilakukannya tentu memiliki maksud politik tertentu,” tandas Ace. Sekretaris Fraksi PKB Jazilul Fawaid juga menyebut, ada makna politik dalam aksi cium tangan itu.

”Itu bisa menandakan Pak Gatot serius untuk maju. Sebagai ikhtiar ya sah-sah saja,” ungkapnya.

Namun Jazilul mengatakan, di luar tujuan politis, cium tangan itu juga bisa berarti rasa hormat Gatot terhadap SBY selaku senior saat masih aktif di TNI. Untuk kans poros ketiga, Jazilul menyebut itu bisa saja terwujud.

Namun, ketika ditanya apakah PKB akan masuk ke dalam rombongan poros ketiga, Jazilul mengatakan belum ada pembahasan sejauh itu. ”Belum ada komunikasi serius dengan PKB termasuk Cak Imin (Muhaimin Iskandar, red). Hanya say hello,” tutur dia.

”Namun, politik itu kan seni mengolah kemungkinan. Jadi, semua bisa saja," tutupnya.

Sementara itu, Partai Demokrat menafsirkan peristiwa cium tangan SBY itu sebagai hal lumrah. ”Yang mencium tangan Pak SBY sebagai tanda menghormati, banyak,” ucap Wasekjen Partai Demokrat Rachland Nashidik.

Dia menilai Gatot mencium tangan SBY juga sebagai bentuk penghormatan. SBY kelahiran 9 September 1949 dan Gatot Nurmantyo lahir pada 13 Maret 1960. ”Menghormati orang yang lebih tua,” ujar Rachland. 

Tapi ketika dikaitkan dengan bahasa politik,  ucap Rachland,  peristiwa itu juga sebagai bentuk penegasan bahwa SBY dan Demokrat sangat berperan di Pemilu 2019 nanti. ”Tafsir politiknya, Pak Gatot dengan mencium tangan Pak SBY berarti mengakui bahwa Pak SBY dapat memainkan peran penting dalam percaturan politik 2019,” tuturnya menambahkan. 

Ketua Divisi Komunikasi Publik Partai Demokrat Imelda Sari turut menilai peristiwa itu wajar saja terjadi. Soalnya, Gatot adalah junior SBY di TNI. SBY juga merupakan pemimpin negara.

Semua faktor itu dilingkupi suasana Ramadan. ”Suasana bulan Ramadan, silaturahmi adalah hal yang baik. Apalagi sejak lama beliau (Pak SBY) dikenal oleh Mas Gatot semasa tugas di TNI sebelumnya,” ucap Imelda singkat. (dil) 

 


TOPIK BERITA TERKAIT: #koalisi-keumatan #gatot-nurmantyo #sby 

Berita Terkait

PD Benarkan SBY Diminta Jadi Penasehat Prabowo

Politik

SBY Absen di Sidang Tahunan

Nasional

Ini Alasan SBY tak Antar Prabowo Daftar Capres

Politik

IKLAN