Kamis, 16 Agustus 2018 07:07 WIB
pmk

Hukum

Tempati Blok Kriminal Umum, Ini Kabar Pemred Obor Rakyat…

Redaktur: Juni Armanto

LEBIH RELIGIUS-Setiyardi Budiono, pemimpin redaksi (pemred) Tabloid Obor Rakyat sebelum dipenjara. Foto: IST/FB

INDOPOS.CO.ID - SUASANA di dalam Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas 1 Cipinang, Jakarta Timur menjelang siang itu tampak ramai. Sejumlah pengunjung terlihat bahagia dapat bertemu dengan warga binaan atau narapidana. Kala itu memang jadwal kunjungan pagi dari pukul 09.00 WIB hingga 12.00 Wib.

Di salah satu sudut ruangan, terdapat satu gazebo lengkap dengan kolam air mancur. Pemandangannya tampak asri. Di salah satu sisi, terdapat sebuah keluarga berkumpul dan bercengkerama. Seorang pria mengenakan kaos santai bersama satu perempuan berpenampilan hijab ditemani satu anak lelaki dan satu perempuan.

Sang pria adalah Setiyardi Budiono, pemimpin redaksi (pemred) Tabloid Obor Rakyat yang divonis hukuman penjara selama satu tahun. Saat itu, dia tengah dikunjungi istri, Wieny Soraya dan kedua anaknya, yakni Rania Qanita, 11, dan Rishad Maulana, 7.  ”Kakaknya satu lagi, Satria Seno, 15, lagi di Bandung,” ujar Ardi, sapaan Setiyardi kepada INDOPOS yang berkunjung ke Lapas Cipinang belum lama ini.

Kehadiran Rania dan Rishad untuk memberitahu kepada ayahnya bahwa mereka naik kelas. Ini dibuktikan dengan dua buku rapor yang dilampirkan. ”Kalau Rania naik ke Kelas 7 (SMP, Red),” ujar Ardi.

Di gazebo itu tak hanya keluarga Ardi saja, namun ada dua keluarga lainnya. Sementara sejumlah pegawai lapas terkadang memperhatikan jalannya suasana kunjungan. ”Istri saya setiap hari datang berkunjung (ke lapas, Red). Kebetulan rumah tidak terlalu jauh. Hanya 10 menit saja dari rumah ke lapas. Keluarga saya tinggal di Kebon Nanas,” jelasnya.

Obrolan santai lalu berlanjut. Ardi mengaku satu sel dengan Darmawan Sepriyosa, redaktur pelaksana (redpel) Obor Rakyat. Keduanya memang divonis satu tahun penjara lantaran terbukti melakukan penistaan dengan tulisan terhadap Joko Widodo (Jokowi) pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014 dan melanggar Pasal 310 ayat (2) KUHP jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Sebelumnya, Selasa, 22 November 2017, mereka divonis Pengadilan Negeri Jakarta Pusat (PN Jakpus) selama delapan bulan penjara. Keduanya pun banding ke Pengadilan Tinggi (PT) Jakarta, namun hukuman mereka malah ditambah menjadi satu tahun penjara. Selanjutnya di tingkat kasasi ditolak Mahkamah Agung (MA) berdasarkan Putusan MA No: 546 K/Pid.sus/2017 tanggal 1 Agustus 2017. Keduanya lalu dieksekusi pada Selasa petang, 8 Mei 2018.

Ardi ditangkap Tim Tabur (Tangkap Buron) Kejaksaan Agung (Kejagung) di kawasan Gambir, Jakpus, sedangkan Darmawan di daerah Tebet Timur, Jakarta Selatan. ”Setelah dari Kejagung, kami langsung dibawa ke Lapas Cipinang dan ditempatkan di blok masa pengenalan lingkungan (mapenaling) selama seminggu bersama warga binaan baru lainnya,” ujar Ardi.

Dia masih ingat, kala itu menempati sebuah ruangan yang juga dijadikan musala kecil. Jadi setiap menjelang Subuh, Ardi sudah harus bangun. ”Saya bangun awal sekali,” ujar Ardi.  Sejak itu pula, Ardi tak pernah ketinggalan mengikuti Salat Subuh berjamaah.

Usai menjalani masa mapenaling, Ardi dan Darmawan menempati sel di Blok Tipe 5 berkapasitas 10 orang. Blok itu diperuntukkan untuk kasus kriminal umum seperti pembunuhan, pemerasan, dan sebagainya. Kemungkinan hanya Ardi dan Darmawan yang berprofesi sebagai jurnalis. ”Kayaknya hanya kita saja (profesi wartawan, Red),” ujar mantan wartawan Majalah Tempo antara 1998 sampai akhir 2017 itu.

Bentuk blok yang dihuninya seperti huruf ‘U’. Di ujung tengahnya terdapat ruangan yang dijadikan musala, sedangkan di sisi-sisinya ruangan sel. ”Di dalam sel yang saya tempati terdapat tempat tidur dan toilet,” jelas Ardi.

Selama di dalam sel, dia banyak mendapatkan pelajaran baru, termasuk mendalami ilmu Agama Islam. Bahkan, dia kursus atau les private Bahasa Arab dari seorang tahanan lain. ”Dia warga binaan juga. Saya banyak belajar Bahasa Arab dari dia, bahkan saya bayar dia,” katanya.

Kebetulan tahun depan keduanya keluar bersamaan dari Lapas Cipinang. ”Jika keluar nanti, saya tetap mau belajar agama dari dia. Selain itu, mau ngajak buka usaha warung sop kambing. Keluarga dia kebetulan juga menggeluti bisnis yang sama. Jadi sudah ada pengalaman,” ujarnya.

Ardi mengaku banyak mendapat dukungan moril. Tak hanya dari keluarga dan orang tua, tapi juga dari rekan dan sahabatnya. ”Alhamdulillah hampir setiap hari saya dikunjungi mereka,” ujarnya.

Hidupnya kini terasa ringan, lebih religius, dan dijalani apa adanya. ”Saya merasa enjoy sekarang,” tandasnya. Menyesal atas perbuatannya? Bagi Ardi, perbuatannya adalah risiko perjuangan. ”Apa yang saya lakukan dulu itu negative campaigns, bukan black campaigns. Jadi itu wajar, karena Prabowo (Capres 2014 Prabowo Subianto, Red) juga diserang. Ibarat sepak bola, ada dua tim kesebelasan bertanding. Seharusnya selesai pertandingan, kedua tim bersalaman dan berpelukan (damai, Red),” jelasnya. (aro)

 

 


TOPIK BERITA TERKAIT: #tabloid-obor-rakyat #lapas-cipinang 

Berita Terkait

IKLAN