Rabu, 17 Oktober 2018 05:08 WIB
pmk

Opini

Hijrah dan Halal: "Unsur WOW" Muslim Milenial

Redaktur: Ali Rahman

oleh: Yanuardi Syukur, Mahasiswa Program Doktor Antropologi FISIP UI

Hijrah dan halal adalah dua hal wow--penting dan luar biasa--yang lekat dalam keseharian Muslim Milenial (1982-2004). Salah satu cara untuk menangkap fenomena ini adalah dengan memperhatikan lalu-lalang percakapan, dialog, bahkan konflik yang ada di media sosial seperti Facebook, Instagram, dan Twitter.

Kata “hijrah” secara umum dimaknai dalam beberapa hal, seperti: perubahan pemikiran, perubahan penampilan, menjadi muallaf (yang sebelumnya non-muslim), mengagumi ulama, menghadiri pengajian (online dan offline), mengikuti komunitas, hadir dalam gathering, dan ikut dalam solidaritas keislaman. Berbeda dengan tren hijrah generasi sebelumnya yang cenderung tertutup, generasi milenial memperlihatkan keterbukaan ketika memilih berhijrah yang terlihat dari aktivitas media sosial mereka.

Tren Hijrah

Bagi publik figur, hijrah memiliki tiga kemungkinan. Pertama, mendapatkan ketenangan spiritual dan semacam kepastian hidup; kedua, mendapatkan komunitas baru, dan ketiga, membuka peluang kapitalisasi hijrah itu untuk kepentingan finansial.

Pertama, kehidupan masyarakat urban memang kurang sisi spiritual. Tak jarang orang kota yang menjadi pecandu narkoba, pergaulan bebas, dan tidak bahagia. Salah satu cara untuk bahagia adalah dengan mereguk air spiritualitas. Kedua, mendapatkan komunitas baru adalah salah satu kebaikan bagi mereka yang berhijrah karena dengan begitu mereka tidak merasa sendirian dalam kehidupannya. Dan ketiga, tak jarang orang yang berhijrah kemudian menjadi fashion icon (atau jadi desainer), tampil di fashion week, membuka toko/resto/travel Islami, dan pada akhirnya mendapatkan uang.

Bagi orang biasa (selain public figure, maksudnya), hijrah juga sama—mendapatkan ketenangan dan kepastian hidup. Nyaris tidak ada sesuatu yang dapat membuat orang jadi tenang, mantap, dan pasti selain agama. Karena, agama dapat memberikan penjelasan yang meyakinkan terkait tiga pernyataan substansial manusia: (1) darimana kita berasal? (2) dimana kita sekarang? dan (3) mau kemana kita nanti?

Jadi, urusan profan (dunia) dan sakral (spiritual) —mengutip Emile Durkheim, sudah ada paket komplit dalam agama. Dalam penjelasan lain, kata Guru Besar Antropologi Universitas Michigan C.P. Kottak, agama itu dapat menjelaskan soal manusia sebagai makhluk spiritual (spiritual beings), kekuasaan dan kekuatan (powers and forces), ritus-ritus peralihan (rites of passage), hingga penjelasan soal ketidakpastian (uncertainty), kegelisahan (anxiety), dan penghiburan (solace).

Tampak di sini bahwa kesadaran spiritual generasi milenial semakin meningkat. Mereka sharing video pengajian, membuat video, bahkan mereka membuat berbagai event yang berkaitan dengan agama. Ada semacam kerinduan untuk menjadi religius di masyarakat urban, terutama.

Niat dan Akhlak

Hijrah tidak bisa dilepaskan dengan niat. Itulah kenapa dalam hadis populer disebutkan bahwa “segala amal tergantung pada niat.” Selanjutnya, disebutkan bahwa “…siapa yang berhijrah karena Allah dan Rasul-nya maka dia akan mendapatkan Allah dan Rasulnya.” Pun demikian sebaliknya jika hijrahnya mengejar dunia, dia dapat juga dunia itu.

Berarti, niat sangat penting bagi mereka yang berhijrah. Setelah niat, mereka melanjutkan dengan akhlak mulia. Maka, banyak anak-anak milenial yang mulai membatasi komentarnya, memosting video pengajian, atau menggunakan kosakata Islam (dan Arab) sebagai tanda identitas mereka.

Tentu saja yang tak terlupakan adalah dalam pakaian. Akhlak mulia diperlihatkan dalam pemilihan pakaian. Di antara yang pakai hijab kecil, sedang, bahkan ada yang pakai cadar. Kelompok yang bercadar bahwa membuat berbagai komunitas dan gathering untuk saling menguatkan dalam berislam.

Jika dulu orang bercadar agak malu menampakkan dirinya, kini sudah berubah. Milenialis yang bercadar tidak ragu untuk berfoto, tampil modis, dan menampakkan fotonya di media sosial. Tubuh bercadar bertransformasi dari sesuatu yang punya "aturan ketat" menuju “otonomi tubuh”, yaitu tubuh yang dapat ditampilkan lewat media foto, video, dan lain sebagainya. Singkatnya, cadar bukan alasan untuk tidak modis, bahkan kini tak jarang yang turun ke jalan dalam demonstrasi—sesuatu yang dulu jarang sekali kita lihat (setidaknya bagi saya).

Tren Halal

Soal halal juga menjadi perhatian generasi milenial. Secara umum, ini semacam kebutuhan akan kepastian produk/komoditas atau aktivitas yang diridhai Allah. Mereka ingin produk yang mereka konsumsi atau pergaulan yang mereka jalani berada dalam ridha-Nya.

Tren halal juga terlihat dari kalimat mereka “pengen dihalalin” yang bermakna untuk punya hubungan dengan lawan jenis yang halal alias dalam ikatan pernikahan. Kata “dihalalin” itu cukup tren di media sosial. “Baru semester 4, tapi rasanya pengen dihalalin saja,” kata seorang muslimah milenial. Status ini semacam “sinyal minta dihalalin” yang dapat memancing milenialis lawan jenis untuk sekedar stalking, likes, retweet, love, atau langsung japri ngajak kenalan, "Assalamu Alaikum, boleh kenalan?"

Berarti, fenomena halal ini terkait dengan kepastian. Manusia butuh kepastian, pun dengan generasi milenial. Kepastian hidup menjadi salah satu idaman bagi mereka. Oppa-oppa Korea yang ganteng-ganteng juga jadi imbas dari halal ini. Para muslimah milenial—yang senang "Drakor" (Drama Korea)—juga punya imajinasi mendapatkan pasangan hidup yang gantengnya kayak orang Korea. Judul salah satu media online menulis begini: “Gantengnya 10 artis Korea pakai baju koko, bikin wanita ingin dihalalin.”

Jadi, ketika seseorang menggunakan atribut yang diasosiasikan sebagai “pakaian Islam” seperti baju koko—kendati itu dari Cina sebenarnya—muslimah milenial pun ingin mendapatkan laki-laki seperti itu, atau minimal orang Indonesia yang gantengnya kayak gitu. Entah ungkapan “pengen dihalalin” itu serius atau tidak, tapi itu semacam ekspresi keagamaan yang ditampakkan oleh generasi milenial.

Di Twitter misalnya, ketika melihat lelaki ganteng, seorang muslimah—seakan menjadi representasi teman-temannya—menulis begini, ”Duh ya, ampun masnya tuh ya…Lama-lama gue minta dihalalin juga nih..” Ada semacam kesan (atau terkesan) dengan kesempurnaan fisik yang terlihat dari wajah para aktor—entah itu Korea atau bukan. Mungkin ini semacam ketakjuban standar perempuan terhadap laki-laki yang dianggap punya “unsur wow” dalam dirinya.

“Provokasi Ekspresif” yang Sudah Halal

Orang yang sudah halal kadang berlebihan dalam berekspresi di media sosial. Misalnya, sepasang suami-istri muda yang sedang jatuh-cinta menampakkan kemesraan yang ekspresif. Mereka memosting foto dan tulisan yang—pada hal tertentu agak intim. Hal itu punya dampak positif, yaitu kesan bahwa dia merupakan pasangan yang bahagia, bahkan ideal. Akan tetapi, kesan lainnya adalah “provokasi ekspresif” bagi mereka yang kebetulan masih single-merana.

Ekspresi romantisme yang—dianggap berlebihan itu—dapat membuat milenialis lainnya ngebet menikah. Tapi problemnya mereka belum punya ilmu yang memadai, bahkan belum punya kematangan psikologi. Dalam beberapa kasus, ada pasangan muda yang kenalan di media sosial, kemudian saling-suka, menikah, dan tidak lama kemudian bubar.

Beberapa orang yang tidak senang dengan “milenialis ekspresif” itu mengatakan bahwa seharusnya di media sosial kita juga memiliki rasa malu. Tidak semua hal harus dipublikasikan. Atau, tidak semua hal harus orang lain tahu. Mengutip hadis Nabi, “Sesungguhnya sifat malu tidaklah mendatangkan apa-apa kecuali kebaikan.” (HR. Bukhari).

Produksi Kesenangan

Apa yang terlihat dari fenomena hijrah dan halal adalah satu hal: produksi kesenangan. Orang yang berhijrah dan menampakkan hijrahnya di media sosial sesungguhnya tengah memproduksi kesenangan baik kepada dirinya maupun orang lain. Ada rasa senang ketika orang lain juga mendapatkan hidayah, turut berhijrah, dan mengikuti yang halal-halal.

Produksi kesenangan ini terkait sekali dengan kekuasaan (power). Mengutip filsuf post-strukturalis kelahiran Poitiers Perancis, Michel Foucault (1926-1984), “Kekuasaan dapat menjadi instrumen untuk memproduksi kesenangan.” Di tangan kaum milenial, ponsel yang mereka kuasai menjadi alat yang efektif untuk memproduksi kesenangan-kesenangan personal dan komunal.

Saat ini, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa umumnya milenialis memproduksi kesenangan di akunnya masing-masing. Kesenangan itu bisa berbentuk senang membaca tulisan orang, senang memproduksi konten (artikel, gambar, dan video), dan juga kesenangan ketika dapat men-follow (atau di-follow) oleh orang tertentu (bisa public figure, etc.) dan dapat berkontribusi dalam komentar di akun-akun tokoh/organisasi yang mereka senangi. Semua itu dilakukan untuk mendapatkan kesenangan. (*)

*Tulisan dibawakan pada "Open Talk Ramadhan" Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI), di Jakarta, 9 Juni 2018.


TOPIK BERITA TERKAIT: #yanuardi-syukur #opini 

Berita Terkait

Prabowo Istimewa di Mata K.H. Maemoen Zubair

Opini

Anies Tutup Reklamasi, Apa Mau Loe?

Netizen

Caci Maki di Forum Tertinggi

Opini

Houston

Opini

Hukuman Baru yang Dicepatkan

Opini

Dikepung Massa, Jokowi Bernasib Seperti Ahok?

Opini

IKLAN