Senin, 24 September 2018 12:48 WIB
pmk

Piala Dunia 2018

Jangan Coba-Coba Bersiul di Negeri Beruang Merah

Redaktur: Maximus thomas woda Wangge

Fans menikmati pertandingan di bar. Udara Rusia yang dingin memaksa mereka menenggak minuman beralkohol, termasuk vodka. Foto: AFP

INDOPOS.CO.ID - Salah satu kutipan favorit saya datang dari sastrawan berpengaruh Prancis Gustave Flaubert. Dia mengatakan kira-kira seperti ini. ''Perjalanan akan membuat kamu menjadi orang yang rendah hati. Kamu akan melihat sendiri betapa kecilnya kamu di hadapan dunia''.

Saat berkunjung ke luar negeri atau ke luar daerah dengan budaya yang sangat berbeda, kita mau tidak mau akan menjadi pribadi yang tidak pongah. Kita harus beradaptasi, belajar mengerti, dan berusaha memahami tradisi serta tata cara yang berlaku di daerah tersebut. Kata-kata tersebut bisa jadi klise. Namun, memahami budaya setempat sangat penting supaya tidak mengalami disorientasi nilai dan tidak dilindas keadaan.

Banyak piknik ke luar negeri bisa membikin perspektif kita sangat kaya, pandangan menjadi terbuka, dan tak mudah menjustifikasi. Kita mencoba memahami dulu pokok soalnya, alih-alih langsung melakukan penilaian berdasarkan standar moral kita sendiri.

Ambil contoh soal kebiasaan minum-minum orang Rusia yang terkenal itu. Bagi kita yang beragama Islam, alkohol tentu saja adalah barang haram. Namun bagi orang Rusia, minum-minum adalah tradisi yang sudah bertahan sangat lama.

Bahkan dalam upacara keagamaan penting bangsa Slavik, yakni Maslenitsa, minum-minum adalah bagian yang tidak terpisahkan. Mereka berkumpul, menceritakan lelucon, serta berbagi pengalaman dengan gelas berkuping atau botol di tangan.

Selain soal adat-istiadat, bangsa Rusia juga memiliki tujuan pragmatis dalam minum-minum ini. Misalnya untuk membantu melawan hawa yang menusuk pada musim dingin. Lalu merekatkan persahabatan. Minuman nasional Rusia, Vodka, ditemukan pada 1860 dan menjadikan kebiasan mengonsumi alkohol secara luas tetap bertahan sampai lebih 150 tahun belakangan. Atau bahkan mungkin sampai 150 tahun ke depan.

Memang, konsumsi alkohol warga Rusia adalah yang tertinggi di dunia. Namun, tetap saja, pemerintah menegakkan aturan-aturan tertentu. Misalnya batas waktu pembelian. Tadi malam, saya mendapatkan teguran keras dari pengelola toko serba ada di daerah Leningradsky Prospekt, Moskow. Sebab, saya masuk begitu saja ke seksi khusus minuman beralkohol.

Seorang pria yang saya taksir berusia 40-an itu, memasang muka masam sambil menunjuk jam dinding yang berada tepat di atasnya. Jarum menunjuk pukul 23.02. ''Ne dopuskayetsya,'' katanya lantas menggerak-gerakkan jari telunjuk. Isyarat nggak boleh.

Setelah itu barulah saya tahu bahwa waktu pembelian minuman keras diperpendek. Batasnya dimajukan. Dari yang awalnya bisa membeli sampai pukul 23.00, sekarang konstitusi Rusia hanya memperbolehkan sampai pukul 22.00. Padahal kan saya hanya melihat-lihat saja. Sama sekali tidak ada niatan untuk membeli. Tapi sudahlah, terlalu sulit untuk menjelaskannya. Haha.

Kebiasaan lain yang remeh-temeh juga bisa membawa masalah kalau kita tidak mengetahuinya. Misalnya soal bersiul. Orang Rusia beranggapan bahwa bersiul adalah tindakan hina yang hanya dilakukan oleh manusia tak beradab dan rendah. Kita akan mendapatkan pandangan-pandangan mengerikan jika bersiul di area-area keramaian. Namun, di Indonesia, orang bersiul bisa jadi merupakan bentuk ekspresi kebahagiaan.

Jadi memang, penting sekali untuk saling memahami dan tidak merasa paling benar sendiri. Berpegang teguh pada prinsip-prinsip moral dan agama pribadi, tentu adalah hal yang diwajibkan. Namun, kita tidak berhak menghakimi orang lain hanya karena dia berbeda cara dan pandangan hidup dengan kita.

Akhirulkalam, selamat merayakan Idul Fitri 1439 Hijriah. Selamat mudik, selamat berlibur, dan berbagi kasih sayang dengan keluarga tercinta. Semoga kita menjadi pribadi-pribadi yang baik dan penuh kasih. Salam hangat dari kami di Rusia. (ainur rohman)

 


TOPIK BERITA TERKAIT: #piala-dunia-2018 

Berita Terkait

IKLAN