Jumat, 20 Juli 2018 08:18 WIB
BJB JULI V 2

Headline

Poros Rusia-Iran-Turki Kalahkan Proxy AS-Saudi-Israel di PBB

Redaktur: eko satiya hushada

INDOPOS.CO.ID - Pemerintah AS menyatakan kekesalan atas disetujuinya resolusi yang berisi desakan kepada Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Gutteres untuk membuat mekanisme perlindungan bagi warga Palestina oleh Majelis Umum PBB. Resolusi itu juga berisi kecaman terhadap penggunaan kekuatan berlebih tentara Israel terhadap demonstran Palestina.

Duta Besar AS untuk PBB, Nikki Ha ley menyatakan, Majelis Umum PBB bersikap bias karena hanya mengutuk Israel, tapi tidak sedikitpun menyinggung mengenai HAMAS, yang menurutnya menjadi sumber masalah.

Setidaknya ada 120 negara menyetujui resolusi tersebut, 45 negara abstain,  dan delapan negara menolak. Selain AS dan Israel, negara lain yang menolak resolusi tersebut adalah Australia, Kepulauan Marshall, Mikronesia, Nauru, Kepulauan Solomon,  dan Togo.

PM Israel, Benjamin Netanyahu menyampaikan pujian khususnya kep ada Dubes AS untuk PBB, Nikki Haley. Pujian ini disampaikan setelah Haley kembali membela Israel dala m sidang Majelis Umum PBB. "Israel menghargai dukungan kuat administrasi Trump soal Israel di PBB dan pernyataan tegas Duta Besar Haley, yang mengungkapkan kemunafikan bias terhadap Israel di PBB," kata Netanyahu, seperti dilansir Sputnik pada Kamis (14/6).

Sebelum muncul resolusi PBB tersebut, publik Indonesia, Iran, Turki, Rusia,  dan Timur Tengah mengutuk aksi militer Israel yang membunuh Razan Ashraf Al Najjar, 21 tahun, paramedis perempuan Palestina ketika sedang bertugas menolong para demonstran aksi protes " Great March Return" yang tewas dan terluka ditembak sniper Israel di Khan Yunis, Jalur Gaza, Jumat, 1 Juni.

AKSI HEROIK MALAIKAT PALESTINA DAN TEROR GADIS ISIS ISRAEL

Gadis pemberani ini sempat menul is dalam unggahan medsosnya. Ia  mengaku tidak akan kembali atau menyerah. "Tembak saya dengan pelurumu. Saya tidak takut," katanya. Wakil PBB untuk Timur Tengah Nickolay Mladenov, merespons kejadian ini dalam sebuah tweet bertuliskan “Petugas medis #BukanTarget!”

“Petugas medis itu bukan hanya pekerjaan laki-laki. Itu juga pekerjaan perempuan. Kami punya satu tujuan: menyelamatkan hidup dan mengevakuasi orang-orang. Dan mengirim pesan kepada dunia: Tanpa senjata, kami bisa melakukan apa pun,” tambahnya. Kekuatan yang saya perlihatkan di hari pertama unjuk rasa [Great March of Return], saya tantang Anda untuk mencarinya di jiwa orang lain,” Ujar Razan Najjar  kepada New York Time, yang mewancarainya sebagai petugas medis dan dikutip PressTV, Minggu (3/6).

Sabreen al-Najjar, ibunda Razan al-Najjar menyampaikan curahan hatinya kepada masyarakat dunia bahwa putrinya memang diincar pasukan Israel karena dianggap mendukung "teroris" dalam demonstrasi Great March of Return. "Saya menginginkan keadilan bagi Razan. Dia bekerja tanpa bayaran." kata Sabreen, dikutip CNN, Senin (4/6).

Berbeda dengan gadis pemberani Palestina yang tewas ditembak pasukan sniper Israel, otoritas keamanan AS mengatakan, mereka telah menangkap seorang wanita asal Israel yang tinggal di Wisconsin karena melatih anggota ISIS secara online untuk mengolah dan menyimpan buku tentang membuat bom, racun,  dan rompi bunuh diri.

Departemen Kehakiman AS mendakwa Waheba Issa Dais dengan mencoba memberikan dukungan materi kepada ISIS melalui media sosial. Dais, yang sudah mendapat izin tinggal di AS sejak 1992, menggunak an sejumlah akun media sosial, termasuk akun orang lain, untuk mempromosikan ISIS dan memfasilitasi rekrutmen, menurut dakwaan.

Melansir Al Arabiya Kamis (14/6), Dais membuat perpustakaan virtual instruksi tentang cara membuat bom, senjata biologis, racun,  dan rompi bunuh diri untuk membantu pendukung ISIS dalam merencanakan serangan teroris di seluruh dunia.

AKSI TEROR "SNIPER HANTU ISRA EL" DAN OPERASI " REFERENDUM AL-QUDS" IRAN DI PALESTINA.

Menanggapi operasi teror " sniper hantu " militer Israel, pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei mengecam Israel dengan menyebut negara Yahudi itu sebagai "tumor ganas" di Timur Tengah yang harus dilenyapkan. Israel adalah tumor kanker ganas di wilayah Asia Barat yang harus dihapus dan diberantas, itu mungkin dan itu akan terjadi," lanjut Khemenei, yang dikutip Times of Israel, Selasa (5/6).

“Normalisasi hubungan dengan Israel, baik terbuka atau tertutup, dan pemindahan kedubes AS ke al-Quds, tak akan menyelesaikan problem Rezim Zionis. Israel dibuat atas fondasi pembantaian dan pengusiran sebuah bangsa dari tanahnya. Sebab itu, tiadanya legalitas Israel telah terpatri di benak Umat Islam. Peta Palestina akan selalu t rekam dalam memori bersejarah geografi dunia,”lanjutnya.

Pemimpin Revolusi Islam Iran ini kembali menegaskan pentingnya referendum di antara warga Palestina, baik Muslim, Kristen, atau Yahudi, serta dibentuknya pemerintahan Palestina berdasarkan referendum ini. Referendum dan pembentukan pemerintahan Palestina berdasarkan suara warga, akan berujung pada kehan curan Rezim Zionis. Kehancuran rezim ini akan terwujud tak lama la gi. Umat Islam akan memperoleh kembali kemuliaan dan persatuan dengan kehancuran Rezim Zionis Israel,”pungkasnya seperti dikutip Al-Alam, Jumat (15/6)

ADU STRATEGI POROS RESISTENSI RUSIA-IRAN-TURKI DAN TAKTIK PRO XY HANTU AS-SAUDI-ISRAEL

Sementara itu, menanggapi desakan Israel agar penasehat militer dan intelijen Iran segera meninggalkan Suriah,  Dubes Rusia untuk Lebanon Alexander Zasypkin menyatakan,  sejauh ini tidak memungkinkan keluarnya Iran dan Hizbullah dari Suriah. “Sebab, penumpasan terorisme masih belum terealisasi,” ujarnya dalam wawancara dengan Radio al-Nour, Selasa (12/6).

Dia menambahkan, “Perhatian ter hadap isu ini berasal dari kubu lawan untuk menanamkan keraguan dan menciptakan problema antara Poros Resistensi dan Rusia. Ini tak dapat diterima. Poros Resistensi dalam kubu antipendudukan Israel atas Palestina yang terdiri atas Iran, Suriah, Irak, Hizbullah, dan kelompok-kelompok pejuang bersenjata Palestina dan lain-lain.

Zasypkin juga menekankan bahwa “hubungan antara Rusia dan Poros Resistensi di Suriah adalah hubungan kerja sama”, sedangkan “keberadaan Amerika Serikat di Suriah justru merupakan bagian dari penyebab kompleksitas di negara ini.”

Pernyataan dubes Rusia tersebut langsung memancing kemarahan  PM Israel. Benjamin Netanyahu, memperingatkan bahwa pihaknya akan mengambil tindakan lebih lanjut terhadap Iran dan sekutunya di Suriah. Itu dilakukan untuk mencegah mereka membangun basis militer di kawasan utara Israel.

Netanyahu mengatakan kepada para menteri tentang skenario baru menghadapi kemenangan poros resistensi di PBB, dengan bentuk manuver baru. Yakni,  meminta bantuan penasehat presiden AS untuk melobi Saudi dan Mesir menekan Palestina, Iran, Libanon,  dan Suriah. Selanjutnya Netanyahu menambahkan , ia telah membicarakan hal itu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin dan Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo selama akhir pekan.

"Saya menegaskan kembali prinsip-prinsip kami tentang Suriah. Per tama, Iran perlu menarik diri dari Suriah. Kedua, kami akan mengambil tindakan dan sudah mengambil tindakan terhadap upaya-upaya untuk membangun kehadiran militer Iran dan proksinya," katanya seperti dikutip dari Xinhua, Minggu (17/6).

Pihak Palestina pun tidak tinggal diam dan terus menyerang diplomat Israel-Saudi dan AS. Juru bicara Otoritas Palestina, Nabil Abu Rudeina, mengatakan bahwa tur regional yang akan dilakukan penasihat Gedung Putih Jared Kushner dan utusan khusus Presiden AS Donald Trump untuk Timur Tengah Jason Greenblatt pada pekan depan tidak akan menghasilkan apa-apa. Menurut media Israel, Kushner dan Greenblatt akan mengunjungi Israel, Mesir,  dan Arab Saudi.

"Tanpa menghormati resolusi KTT Arab dan mereka dari Dewan Keamanan PBB dan terutama tanpa kesepakatan rakyat Palestina (upaya perdamaian AS) akan ditakdirkan gagal dan akan mengguncang wilayah tersebut," kata Abu Rudeina seperti dikutip dari Al Arabiya, Min ggu (17/6).                      

Dynno Chressbon, Pengamat Intelijen


TOPIK BERITA TERKAIT: #dynno-chressbon #pengamat-intelijen #pbb 

Berita Terkait

IKLAN