Kamis, 15 November 2018 03:02 WIB
pmk

Indobisnis

Peran Chevron Tingkatkan SDM Indonesia

Redaktur: Ali Rahman

INDOPOS.CO.ID - Peran swasta untuk meningkatkan sumber daya manusia (SDM) di Indonesia sangat dibutuhkan. Baik di bidang energi, pertanian, maupun yang lainnya. Sebab, jika hanya ditangani pemerintah, tentu tidak akan mampu.

Dalam hal ini, beberapa pihak swasta telah mengambil andil sesuai bidangnya masing-masing. PT. Chevron Pacific Indonesia, salah satunya. Perusahaan energi terintegrasi, terdepan dan terbesar di dunia ini telah bermitra dengan masyarakat dan pemerintah Indonesia sejak tahun 1924 atau 94 tahun silam.

Dengan keahlian karyawan dan ditopang pengaplikasian teknologi terdepan, Chevron berhasil menciptakan efek ekonomi positif berganda yang bermanfaat dalam mendukung perkembangan dan kesejahteraan Indonesia.

Perusahaan yang memiliki moto ‘Human Energy’ atau Energi Insani ini berinvestasi sosial. Kegiatan itu mulai aktif dilakukan sejak tahun 1950 melalui berbagai program Corporate Social Responsibility (CSR) atau tanggung jawab sosial terhadap lingkungan.

Yanto Sianipar, Senior Vice President Policy, Government and Public Affairs Chevron IndoAsia Business Unit, induk usaha PT. Chevron Pacific Indonesia menilai, program itu dijalankan dengan dasar penguatan masyarakat untuk perekonomian berkelanjutan. “Strategi ini terus berubah mengikuti dinamika yang berkembang di masyarakat. Tujuan akhirnya, untuk menciptakan kemandirian masyarakat secara ekonomi,” jelasnya, kepada INDOPOS, Minggu (24/6).

Investasi sosial Chevron ini memiliki empat area fokus, yakni pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan lingkungan. Secara khusus, program tersebut meliputi dukungan pendidikan berupa beasiswa bagi siswa lokal setingkat SMA yang berprestasi melalui program Darmasiswa Chevron Riau (DCR). Juga kemitraan di bidang teknologi petroleum dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Universitas Gadjah Mada (UGM).

Tak hanya itu, ada juga pelatihan kejuruan bagi pemuda dan perempuan guna membantu mendapatkan pekerjaan dan menyiapkan diri menjadi wirausahawan, serta membangun dua politeknik, yakni Politeknik Caltex Riau (PCR) dan Politeknik Aceh.

“Kami juga mendukung pengembangan ekonomi, di antaranya melalui usaha lokal (Local Business Development/LBD) dan pelatihan pengembangan kapasitas bagi petani, peternak, perempuan, serta pengusaha mikro dan kecil,” beber Yanto.

Riau, Kalimantan Timur, dan Jawa Barat menjadi target utama. Di tiga provinsi ini sudah ada empat pusat wirausaha mikro dan kecil yang menjadi pusat penjualan lebih dari 200 produk lokal, di antaranya makanan olahan, batik, tenun, dan kerajinan tangan.

“Ini merupakan kegiatan yang tidak terpisahkan dari kegiatan operasional perusahaan, makanya Chevron tidak segan-segan menggelontorkan dana yang tidak sedikit dari dana murni perusahaan,” ujarnya.

Hasil studi Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) UI dan IHS, hingga 2013, Chevron telah berkontribusi Rp 125 triliun terhadap Produk Domestik Bruto Indonesia, dan menyumbang Rp 101 triliun ke negara melalui pendapatan pemerintah dari migas atau government lifting entitlements dan pajak.

Chevron berkontribusi cukup besar bagi Indonesia. Di periode 2009 - 2013, pemerintah menerima pendapatan dari blok migas yang dikelola Chevron dan mitranya sebesar Rp 455 triliun. Jumlah itu setara dengan biaya pembangunan jalan lintas Sumatera dari Aceh ke Lampung sepanjang 2.700 km.

“Pendapatan rata-rata per tahun yang dihasilkan dari operasi Chevron, sekitar Rp 91 triliun atau setara dengan 7,7 persen APBN di tahun tersebut. Jumlah itu setara dengan biaya membangun 41 ribu klinik kesehatan,” paparnya.

Untuk di Riau, rencana peningkatan SDM yang berkualitas sudah digagas sejak tahun 1999 oleh kepala darah setempat yang kemudian dibicarakan dengan mantan Presiden Direktur PT. Caltex Pacific Indonesia Baihaki Hakim.

Tak berlama-lama, Pemprov Riau langsung menyediakan lahan untuk lokasi pembangunan politeknik di Rumbai, sementara PT. Caltex Pacific Indonesia yang kemudian berubah menjadi PT. Chevron Pacific Indonesia, membangun gedung dan sarana perkuliahan sekaligus mengelola pengoperasiannya pada tahun 2001.

Ketua Yayasan Politeknik Chevron Riau (PCR), Robinar Djajadisastra mengatakan, awal pendirian, pendanaan politeknik disokong penuh oleh Caltex dan bantuan anggaran dari Pemprov Riau. Pada tahun 2007, perguruan tinggi ini akhirnya berhasil mandiri.

“Alhamdulillah, tak kurang dari 1.400 alumni yang memiliki kemampuan kompetitif dilahirkan dari perguruan tinggi ini. Banyak yang sudah bekerja di perusahaan multi nasional dan nasional,” katanya.

Saat ini, sudah banyak peningkatan, mulai dari pembenahan sarana belajar mengajar, penambahan gedung perkuliahan, laboratorium, hingga peningkatan kualitas tenaga pengajar guna mencapai cita-cita menjadi perguruan tinggi terdepan di Tanah Air. Sederet penghargaan berhasil diraih sebagai bukti komitmen yang tinggi dari PCR dalam mempersiapkan SDM lokal andal untuk masa depan.

Salah satunya perolehan 18 hibah penelitian dari Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti). PCR juga sudah tercatat sebagai politeknik swasta terproduktif dalam hal penelitian menurut Koordinator Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) wilayah X, meliputi Sumatera Barat, Riau, Jambi dan Kepulauan Riau.

Ia berharap berharap penelitian dosen tidak hanya sampai pada tahap pelaporan hasil, tapi harus sampai pada tahap lanjutan, berupa publikasi ilmiah yang merupakan salah satu cara untuk menyebarluaskan hasil penelitian dibaca dan dijadiikan rujukan bagi peneliti maupun akademisi lainnya.

Di Indonesia, Chevron mengoperasikan blok migas di bawah pengawasan dan pengendalian SKK Migas berdasarkan kontrak bagi hasil atau Production Sharing Contract. Investasisosial di bidang pendidikan telah menjadi fokus Chevron di Indonesia sejak 1957, bermula dengan pendirian SMAN 1, sekolah negeri pertama di Pekanbaru.

Direktur PCR, Dr Hendriko ST, M. Eng mengatakan, prestasi PCR sudah cukup diakui, baik di Riau maupun di tingkat nasional dan regional. Sejumlah perusahaan lokal, nasional, maupun multinasional terkemuka telah menjaring tenaga kerja di kampus PCR.

“PCR dipercaya sebagai Tempat Uji Kompetensi (TUK) Bidang Telematika oleh Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) dan sebagai Testing Center bidang Tekonologi Informasi oleh Pearson Vue,” ungkapnya.

Kehadiran perguruan tinggi ini dirasakan sebagai jalan pencapaian visi Riau 2020, yakni sebagai pusat perekonomian dan kebudayaan Melayu dalam lingkungan masyarakat yang agamis dan sejahtera, di Asia Tenggara. Serta, visi pembangunan nasional 2005 - 2025, yaitu mewujudkan Indonesia yang mandiri, maju, adil, dan makmur.

Tak hanya itu, lahan produktif yang ‘tidur’ dengan hamparan cukup luas di Riau juga menjadi perhatian Chevron. Awalnya, pihak Chevron hanya melakukan perbincangan biasa dengan Mus Mulyadi (42), Ketua Kelompok Pertanian Terpadu Masyarakat Sakai Pematang Pudu.

Meskipun mengubah kebiasaan warga Suku Sakai yang sebagian besar hidupnya masih memilih menjadi petani yang berpindah-pindah tidak semudah membalik telapak tangan, namun itu bukan kendala bagi Chevron.

Sebagai Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) dari Pemerintah Indonesia yang mengoperasikan lapangan migas di Riau, Chevron mulai menjalankan tanggung jawab sosialnya di daerah itu dengan membentuk pertanian terpadu Suku Sakai, tepatnya di Kelurahan Pematang Pudu, Kabupaten Bengkalis.

Yanto Sianipar, Senior Vice President Policy, Government and Public Affairs Chevron di Indonesia mengatakan, pembinaan masyarakat Suku Sakai merupakan salah satu program investasisosial di bidang pemberdayaan ekonomi masyarakat yang mandiri.

Program ini telah mendukung lebih dari 1.200 mitra binaan. Pelaksanaannya sudah mencakup 36 sektor, termasuk pertanian, perikanan, komoditas makanan olahan, industri kreatif, serta desa wisata berwawasan lingkungan dan budaya.

“Chevron juga mendirikan sentra-sentra UKM di sekitar wilayah operasinya yang berfungsi sebagai rumah dagang dan pusat bimbingan usaha,” sebut Yanto.

Awalnya masyarkat diberikan pembinaan dan pelatihan. Tidak langsung diberikan bantuan bibit atau pakan untuk ternak. Namun, itu tidak langsung berhasil. Masyarakat sekitar tidak betah dan memilih kembali ke kebiasaannya.

Namun, dengan adanya beberapa orang yang bertahan sehingga membuat beberapa warga lainnya mulai mencontoh. Alhasil, komoditas pertanian dan perikanan yang dihasilkan mulai beragam, mulai dari kangkung, cabe, kacang panjang, ayam potong, ikan lele, ikan patin, bebek, dan burung puyuh. (iwk)


TOPIK BERITA TERKAIT: #pt-chevron-pacific-indonesia #yanto-sianipar #corporate-social-responsibility #baihaki-hakim #dr-hendriko-st #m-eng 

Berita Terkait

IKLAN