Senin, 24 September 2018 10:43 WIB
pmk

Internasional

Akhirnya Perempuan di Arab Boleh Nyetir

Redaktur:

AKHIRI PELARANGAN - Pemerintah Arab Saudi akhirnya resmi membolehkan wanita mengendarai mobil sendiri Foto; AFP

INDOPOS.CO.ID - Pemerintah Arab Saudi resmi mencabut larangan perempuan mengemudi yang diterapkan sejak 1957. Tapi, izin dari suami, ayah, paman, atau saudara laki-laki bisa jadi halangan.

Salma Youssef tak sabar menanti Minggu (24/6) tiba. Sebab, hari ini adalah hari bersejarah bagi dirinya dan seluruh perempuan Arab Saudi. Larangan mengemudi untuk para perempuan yang diterapkan selama lebih dari enam dekade bakal resmi dicabut.

Youssef sudah lulus ujian mengemudi pekan lalu dan mendapatkan SIM. Dia tak sabar untuk bisa berkendara sendiri ke tempat kerjanya. Juga, mengantarkan anak-anaknya ke sekolah. "Ini akan mengubah saya, mengubah keluarga saya. Ini adalah sebuah kebebasan," tegasnya.

Khusus untuk belajar mengemudi dan memperoleh SIM, perempuan Saudi tak perlu izin dari walinya. Di negara penjaga dua situs suci umat muslim itu, aturan penjagaan perempuan oleh walinya masih diberlakukan dengan ketat.

Perempuan yang pergi ke luar rumah, ke luar negeri, menikah, berobat, dan melakukan berbagai hal lainnya harus atas izin ataupun didampingi wali. Yaitu, ayah, suami, saudara laki-laki, maupun paman.

Aturan itu pula yang diperkirakan masih akan menjadi penghalang bagi perempuan untuk mengemudi. Meski telah memiliki SIM, jika walinya tak mengizinkan, semua percuma saja.

Ada beberapa alasan yang membuat para pria yang menjadi wali tak mengizinkan perempuan di bawah penjagaan mereka untuk mengemudi. Mulai takut terjadi pelecehan seksual hingga kecelakaan.

Alanoud Hakami contohnya. Perempuan 22 tahun yang tinggal di Jeddah itu tidak berencana belajar mengemudi dan memiliki SIM. Sebab, suami dan ayahnya memperingatkan kemungkinan terjadi pelecehan.

"Saya tak ingin mengemudi karena pemuda Saudi tidak sopan. Situasinya tidak seperti di luar negeri," ujar perempuan yang bekerja sebagai sales tas itu sebagaimana dilansir The Wall Street Journal.

Berdasar survei yang dilakukan Saudi National Center for Public Opinion Polls Maret lalu, sebanyak 61 persen perempuan ingin mengemudi. Untuk mereka yang tidak mau, 41 persen beralasan karena takut terjadi kecelakaan dan 27 persen takut dilecehkan para pria. Saudi sudah mengesahkan UU Anti Pelecehan yang berlaku mulai bulan ini.

Banyak perempuan yang masih merasa tak aman. Tapi, banyak pula yang merasa yakin bahwa UU Anti Pelecehan itu bakal banyak berperan.

Memang masih banyak laki-laki Saudi yang tak setuju dengan pencabutan larangan mengemudi itu. September tahun lalu, ketika pemerintah mengumumkan larangan mengemudi bakal dicabut, banyak pria yang bereaksi.

Salah satunya ditangkap karena mengunggah video yang di dalamnya berisi ancaman bakal membakar pengemudi perempuan beserta mobil yang dikendarainya. Tagar yang artinya #kamu tidakakanmengemudi bertebaran di Twitter.

Kelompok perempuan membalas dengan pernyataan bahwa mereka akan mengemudi dengan mengunggah foto mereka. Disertai buku panduan di sekolah mengemudi. "Saya ingin mandiri, saya ingin mengemudi. Saya tidak mau hidup di bawah belas kasihan pria," tegas Ghadir alMezeni yang suaminya sempat menentang ide perempuan mengemudi sendiri.

Pebisnis asal Jeddah Abu Mohammed mengungkapkan, dirinya hanya akan mengizinkan istri ataupun anak perempuannya mengemudi untuk situasi darurat. Dia memprediksi bakal terjadi kekacauan besar-besaran di jalanan Saudi saat perempuan diizinkan memegang kemudi.

Kecelakaan akan meningkat tajam. Dia bahkan berencana "mengungsi" ke luar negeri untuk sementara waktu. Angka kecelakaan di Saudi memang luar biasa tinggi. Jalanan Saudi bahkan menjadi salah satu yang paling mematikan di dunia. Sepanjang 2016, ada 533 ribu kecelakaan lalu lintas di negara itu.

Sebanyak 9.031 orang tewas dan 38 ribu lainnya mengalami lukaluka. Jika diratarata, artinya setiap menit terjadi kecelakaan dan kurang lebih 24 orang meninggal per hari.

Memang tak semua perempuan Saudi yang bisa mengemudi bakal langsung turun ke jalan mencoba mengemudi hari ini. Diperkirakan mayoritas bakal memilih untuk melihat situasi lebih dulu. Setidaknya hingga beberapa pekan ke depan. 

Untuk diketahui, pencabutan larangan perempuan mengemudi mobil sendiri diumumkan tahun lalu sebagai bagian dari rencana Putra Mahkota Saudi Mohammed Bin Salman (MBS) guna mereformasi negara tersebut.

"Sekarang setiap perempuan memiliki hak untuk mengendarai mobil di mana saja di wilayah kerajaan," kata Penyiar Media Al Ekhbariya mengutip Juru Bicara Otoritas Lalu Lintas Kolonel Samy Bin Mohammad.

Saudi memiliki beberapa pembatasan paling ketat di dunia pada perempuan. Namun negara tersebut mulai menunjukkan reformasinya dengan mengeluarkan lisensi mengemudi pertama untuk pengendara perempuan awal bulan ini.

Pada hari Kamis, Saudi meluncurkan kampanye tiga hari bertema 'Place Your Trust on God and Drive' untuk mendidik perempuan tentang bagaimana mengemudi yang aman dan meningkatkan kesadaran tentang peraturan keselamatan. Para aktivis di Saudi menyambut baik pencabutan larangan itu tetapi memperingatkan bahwa masih banyak rintangan bagi perempuan yang ingin berada di belakang kemudi.

"Ini adalah langkah yang sangat baik, tetapi tentu saja ada begitu banyak tantangan yang dihadapi perempuan saat ini dengan pencabutan larangan itu," kata Suad Abu Dayyeh, konsultan Timur Tengah untuk organisasi nonpemerintah soal kesetaraan.

"Biaya untuk mendapat pelajaran enam kali lebih banyak daripada laki-laki," kata Abu Dayyeh kepada Al Jazeera dari ibukota Yordania, Amman.

Upaya perempuan untuk menghapuskan larangan mengemudi di negara tersebut telah berlangsung selama puluhan tahun. Pada tahun 1990, lebih dari 40 perempuan mengendarai mobil mereka di Ibu Kota Riyadh. Unjuk rasa publik pertama melawan larangan itu.

Pada 2007, para aktivis mengajukan petisi kepada Raja Abdullah, meminta hak untuk mengemudi. Tahun berikutnya, salah satu aktivis, Wajeha Al Huwaider membuat film tentang dirinya mengemudi dan mempostingnya secara online. Raja Salman Bin Abdulaziz Al Saud menandatangani keputusan kerajaan pada bulan September 2017 yang mengatakan perempuan akan diizinkan untuk mengemudi sesuai dengan hukum Islam. (ina/sha/c17/ttg/JPC)


TOPIK BERITA TERKAIT: #arab-saudi 

Berita Terkait

Black Panther Siap Gebrak Bioskop Saudi

Internasional

Saudi Redam Kritik soal Israel

Internasional

Gerakan Modernisasi Arab Saudi

Internasional

IKLAN