Jumat, 21 September 2018 07:08 WIB
pmk

Ekonomi

Rupiah Terus Melemah

Redaktur: Ali Rahman

Foto : Ilustrasi

INDOPOS.CO.ID - Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS terus melemah. Pada Kamis (28/6) sudah tembus Rp 14.200 per USD. 

Sejumlah pihak juga menunggu langkah Bank Indonesia (BI). Seperti apakah akan menaikan suku bunga acuan 7 days reverse repo rate. Ekonom Indef Bhima Yudhistira mengusulkan diterbitkannya Perpu UU Lalu lintas devisa, revisi soal DHE (devisa hasil ekspor) dimana eksportir wajib menanam DHE di bank domestik minimum 6 bulan seperti di Thailand. 

Hal itu supaya ada penguatan devisa dan permintaan Rupiah lebih terjaga. Sebelumnya, Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, BI siap menempuh kebijakan lanjutan yang pre-emptive, front loading, dan ahead the curve dalam menghadapi perkembangan baru arah kebijakan The Fed dan ECB pada RDG 27-28 Juni 2018.  

Menurut Perry kebijakan lanjutan tersebut dapat berupa kenaikan suku bunga yang disertai dengan relaksasi kebijakan LTV (loan to value) untuk mendorong sektor perumahan

Sementara itu Ekonom Indef Bhima Yudhistira menjelaskan penyebab mata uang Negeri Paman Sam yang naik 108 poin terhadap mata uang Rupiah lantaran berbagai sentimen global. Di antaranya, perang dagang berlanjut, ekspektasi kenaikan fed rate 4 kali tahun ini, dan kenaikan harga minyak karena Trump serukan boikot impor minyak dari Iran.

“US Dolar index langsung loncat ke 95. Artinya dolar AS menguat terhadap mata uang dominan lainnya,” ujarnya Kamis (28/6).

Sementara itu dari dalam negeri, data ekonomi yang di bawah ekspektasi, misalnya neraca perdagangan Mei kembali defisit di USD 1,52 miliar, defisit transaksi berjalan melebar dan proyeksi pertumbuhan ekonomi 2018 beberapa lembaga dikoreksi turun sulit tembus 5,4 persen. 

“Itu yang membuat pelaku pasar melakukan net sales di bursa saham dan pasar surat utang. Jadi efek sinyal kenaikan bunga acuan sangat kecil dampaknya,” tuturnya.

Bhima menyampaikan, untuk solusinya yang harus dilakukan oleh pemerintah dan otoritas terkait dalam jangka pendek, yaitu konsisten tingkatkan likuiditas valas di pasar dan intervensi cadev secara terukur. 

Sementara, untuk jangka menengah panjang dengan memperbaiki segera kinerja fundamental ekonomi seperti ekspor, transaksi berjalan dan daya beli. 

Selain itu, Bhima menambahkan, strategi lain yang dapat adalah buat Perpu UU Lalu lintas devisa, revisi soal DHE (devisa hasil ekspor) dimana eksportir wajib menanam DHE di bank domestik minimum 6 bulan seperti di Thailand. 

“Dengan Perpu ini ada penguatan devisa dan permintaan Rupiah lebih terjaga,” tandasnya. (dai/JPG)


TOPIK BERITA TERKAIT: #rupiah-turun #gubernur-bi-perry-warjiyo #bhima-yudhistira #indef 

Berita Terkait

IKLAN