Senin, 24 September 2018 10:56 WIB
pmk

Nusantara

Ada Gemuruh dan Api di Puncak, Warga Lereng Gunung Agung Mengungsi

Redaktur:

BIKIN TAKUT: Bumbungan asap dan glow yang muncul di puncak Gunung Agung, Kamis malam (28/6) membuat sejumlah warga di lereng-lereng memilih turun untuk mengungsi. (ISTIMEWA)

INDOPOS.CO.ID - Sejumlah warga di lereng Gunung Agung, Karangasem mulai turun, Kamis (28/6) malam. Mereka mengungsi, mencari wilayah yang dirasa aman. Hal itu karena terjadi peningkatan aktivitas Gunung Agung. Sejak Rabu (27/6) hingga Kamis malam. Bahkan sejak pagi hari, warga mendengar suara gemuruh bak bunyi pesawat terbang dari gunung tertinggi di Bali itu.

Selain suara gemuruh, warga juga menyaksikan sinar kemerahan (glow) pada puncak kawah Gunung Agung. Hal itu membuat warga semakin ketakutan dan akhirnya mengungsi.

Informasi yang dirangkum Bali Express (Jawa Pos Group) , warga yang banyak mengungsi adalah mereka yang tergolong dekat dengan Gunung Agung. Misalnya, warga Desa Sebudi bagian atas. Yakni warga Dusun Sebun, Dusun Sogra, Lebih, serta Telungbuana. Banyak dari mereka bergeser ke Kantor Camat Selat. Tak sedikit pula mengungsi ke wilayah Desa Muncan. Ada juga warga Dusun Temukus, Desa Besakih ikut mencari tempat yang dirasa aman.

“Ketimbang ketakutan lebih baik mengungsi saja. Jadi sebagian besar warga Temukus mencari tempat aman,” ujar warga Temukus I Ketut Sutama, yang saat dikonfirmasi juga siap-siap mengungsi.

Ia menyebutkan, warga di sana memilih mengungsi karena sejak pagi hari terdengar suara gemuruh bak bunyi pesawat terbang. Selain itu, malam harinya warga melihat puncak kawah gunung berwarna kemerahan. “Temukus itu sekitar 4 kilometer dari puncak, jadinya sangat kelihatan puncak gunungnya,” terang dia.

Tak kalah ketakutan dengan warga lereng wilayah Kecamatan Kubu. Beberapa warga Desa Ban bagian atas dan warga Desa Dukuh memilih mengungsi ke tempat yang lebih aman. Namun masih berada di wilayah desa itu. Hingga berita ini ditulis sekitar pukul 22.00 Wita, jumlah pengungsi terus bergerak. Sedangkan status Gunung Agung masih berada di level III (Siaga).

Ketua Pasemetonan Jagabaya (Pasebaya) Gunung Agung I Gede Pawana mengakui, melihat banyaknya warga yang khawatir hingga memilih mengungsi, pihak Pasebaya mengerahkan relawannya. Mereka membantu warga yang mengungsi karena merasa tak nyaman berada di rumahnya.

Sementara itu, Gunung Agung di Karangasem terus bergejolak sejak Rabu malam (27/6) hingga Kamis (28/6) malam. Berdasarkan laporan Pos Pengamatan Gunungapi Agung di Rendang, terjadi 69 hembusan (laporan pukul 00.00-18.00). Hembusan yang terjadi sempat mencapai ketinggian 2.000 meter di atas puncak kawah Gunung Agung. Sebelumnya, Gunung Agung juga sempat mengalami erupsi Rabu malam (27/6) sekitar pukul 22.21.

Aktivitas gunung itu membuat sejumlah warga di lereng Gunung Agung berhamburan keluar rumah, menyaksikan hembusan. Hujan abu vulkanik dilaporkan terjadi di beberapa daerah. Meski demikian, warga yang berada di lingkar gunung tertinggi di Bali, itu tetap tenang, namun waspada.

“Sebagian besar warga Sebudi keluar rumah saat terjadi hembusan sorenya. Karena sangat keras sekali,” ujar Perbekel Sebudi I Komang Tinggal.

Melihat hembusan itu, Tinggal sudah berkoordinasi dengan para kepala dusun di wilayahnya. Terutama Sebudi bagian atas, yakni Dusun Sogra dan Lebih. Sebab, lanjut dia, seiring terjadi hembusan itu, warga juga mendengar suara gemuruh bak suara pesawat. Hal serupa juga diakui Perbekel Ban I Wayan Potag. Melalui sambungan telepon, Potag mengatakan beberapa kali terdengar suara gemuruh dari perut gunung.

“Lagi terdengar, lagi hilang. Begitu dari pagi,” tutur Potag.

Kepala Sub-Bidang Mitigasi Pemantauan Gunungapi Wilayah Timur Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Devy Kamil Syahbana, secara teknis membenarkan hembusan asap terjadi. Pihaknya mengatakan, pascaerupsi Rabu sekitar pukul 22.21 Wita, secara visual teramati asap berwarna putih tebal sejak pagi. Bahkan sempat mengalami peningkatan hingga mencapai ketinggian 1.500 meter di atas puncak kawah. Itu terjadi sekitar pukul 12.30 Wita. Hembusan asap disertai abu tipis itu sebenarnya ke barat gunung.

“Hal ini dikonfirmasi tim lapangan yang menemukan hujan abu tipis di sekitar Puragae (Desa Pempatan, Kecamatan Rendang), sekitar 7 kilometer dari puncak,” terang Devy.

Aktivitas Gunung Agung secar seismik, lanjut Devy, teramati peningkatan ampolitudo seismik secara cepat dalam 24 jam terakhir. Kegempaan didominasi gempa permukaan, berupa hembusan. Gempa tersebut menjadi satu, membentuk tremor terus menerus sejak sekitar pukul 12.30 Wita.

“Secara geokimia, gas-gas SO2 terakhir kali terukur dengan flusk pada kisaran 200 ton per hari. Hal ini mengindikasikan masih adanya kontribusi magmatik dari tubuh gunung,” beber Devy.

Pihak PVMBG memastikan, status Gunung Agung masih Level III (Siaga). Masyarakat diimbau tetap mematuhi rekomendasi. PVMBG melalui Pos Pengamatan Gunungapi Agung juga sudah koordinasi dengan pihak-pihak terkait mitigasi bencana Gunungapi Agung. (jpg)


TOPIK BERITA TERKAIT: #gunung-agung #erupsi #karangasem 

Berita Terkait

IKLAN