Kamis, 15 November 2018 01:43 WIB
pmk

Indobisnis

Gagal Jadi Polwan, Ade Mardiah Sukses Rambah Perhotelan

Redaktur:

Ade Mardiah (kiri bawah) bersama keluarga.

INDOPOS.CO.ID - Ade Mardiah adalah anak bungsu dari dua bersaudara, lahir di Tasikmalaya dari ayah dan ibu berprofesi guru dan cucu dari Alm Kyai Haji Moh Badrie. Masa kecil hingga SMA, Ade menikmati di lingkungan pesantren sang kakek. Menikah di usia 22 tahun hingga dikaruniai dua orang anak bernama Pipit dan Rayyan.

Ade tumbuh sebagai anak yang tomboy, berteman dan bermain dengan mayoritas anak laki-laki, namun rajin mengikuti sekolah agama di pesantren sang kakek. Selain itu dari kelas tiga hingga enam SD, Ade belajar pencak silat di Perguruan Silat Aki Soma, dan aktif diikutsertakan pada perlombaan pencak silat di Tasikmalaya.  Bahkan dia sering tampil pada hajatan-hajatan pernikahan dan khitanan di daerah sekitar Tasikmalaya.

Meninggalkan masa SD nya, Ade kemudian masuk Madrasah Tsanawiyah dengan tujuan diberikan dasar-dasar agama Islam. Tapi dasar sifat Ade yang energik, Ade mulai aktif pada olahraga bola volley sejak SMP hingga SMA. Bahkan sampai masuk Imbajaya Volley Club dan kerap kali diikutkan turnamen-turnamen bola volley antar-Kota/Kabupaten.

Kemudian, Ade menginjak pendidikanya ke tingkat SMAN 1 Ciawi. Saat itu masih tetap aktif mengikuti club Bola Volley, dan ditambah masuk di  Bandung Karate Club ( BKC ). ”Hingga pernah meraih ban coklat dan cukup sering mengikuti turnamen karate di Tasikmalaya hingga Bandung,” katanya.

Selepas SMA, Ade bercita-cita ingin menjadi polwan ( polisi wanita ) dan hingga mengikuti seleksi di Polwan Ciputat Jakarta. Namun setelah beberapa tahap ternyata dia tidak lulus. Akhirnya Ade pun kembali ke Tasikmalaya dan mulai mencari apa yang dipilih untuk jenjang kuliah.

Ada ditawarankan untuk ikatan dinas perawat. Tapi dirinya merasa tidak cocok di bidang ini. Dirinya pun berdiskusi dengan sang ibunda.”Kalo Ade jadi perawat, nanti Ade kebawa sedih terus, bagaimana kalo cari kuliah yang nanti kalo lulus bisa kerja di tempat yang bisa bawa Ade bahagia,” ungkapnya mengenang. 

Dari diskusi ibu anak ini, akhirnya muncullah keinginan Ade untuk kuliah di Pariwisata. Ia merasa itu adalah pilihan yang tepat untuk dapat bekerja di tempat yang relative bahagia.

”Dan pilihan akhirnya saya kuliah di Institut Pariwisata Perhotelan Ariyanti di Bandung,” ucap Ade.

Setelah dinyatakan lulus perkuliahan, meski belum di wisuda. Ade diterima sebagai receptionist Hotel Istana Bandung. Ia pun menjalani pengalaman bekerja dengan penuh semangat, ceria dan cepat menyerap yang tersirat dan tersurat.

”Kemudian pada tahun ke dua, saya dipromosikan menjadi sales executive dan dijalani selama dua tahun,” terangnya. Kesempatan kemudian datang untuk bergabung dengan PT Sibi Sentra Cipta, sebuah hotel operator yang menangani beberapa hotel di Surabaya, Probolinggo, Banyuwangi, dan Semarang. Ade berkesempatan menjadi FO manager sekaligus sales manager di Hotel Airport Surabaya dan Hotel Tampiarto Probolinggo yang berada di bawah pengelolaan PT Sibi Sentracipta tersebut.

”Karir berjalan kurang lebih 4,5 tahun. Di tahun ke empat masa ini, Saya menikah dan lahir putri pertama bernama pipit,” jelasnya. Selanjutnya, atas pertimbangan keluarga, Ade pindah ke Hotel Horison Jakarta selama satu tahun dan kemudian ditempatkan di hotel Horison Bandung selama empat tahun.

”Horison hotel group hotel bintang empat  dengan keunggulan dalam convention hotel. Jabatan saat itu sales dan marketing manager,” katanya lagi. Kemudian,  Hotel Imperium Bandung dengan keunggulan entertainment facilities (club music, karaoke, SPA) dijalani satu tahun.  ”Jabatan sales dan marketing manager. Untuk memperkaya networking dan segment,” tambahnya.

Setelah itu, Ade kembali menjadi sales dan marketing manager di BGG Golf dan Resort yang dilaluinya selama 4,5 tahun. Itu menambah networking segment golfer. Setelah melalui tiga periode sebagai sales dan marketing manager, Ade mulai menanamkan keinginan menjadi General Manager hotel. Tercapailah jabatan itu yang ia emban hingga saat ini.

Pada usia 30 tahun menjabat sebagai GM Bumi Sawunggaling Hotel yakni hotel unit di bawah kepemilikan ITB. Ade menjalani masa GM itu dalam kurun waktu 4,5 tahun.”Saya juga menjajal jam terbang menjadi GM di Hotel Cassadua Pasteur dan Ciwidey selama tiga tahun,” ungkap wanita kelahiran Tasikmalaya, 22 April 1971 itu.

Tidak berhenti sampai di situ, jam terbang Ade terisi kembali menjadi GM di Hotel Kembang dan Hotel Serena Bandung selama 3, 5 tahun. Setelah melalui proses yang panjang, pada Juni 2018 Ade pun akhirnya dipercaya menjadi GM Hotel Novena Bandung. Sebuah Hotel dengan 126 room dan fasilitas Hotel Bintang 3+ berkonsep  an affordable luxury hotel  berlokasi di antara Lembang dan Bandung, sangat cocok untuk Family dan MICE Business.

”Cita-cita karir saya menjadi seorang profesional yang bahagia dan penuh manfaat bagi sekeliling dengan tagline being happy dan fulfilled,”  ujarnya berharap. (marni)


TOPIK BERITA TERKAIT: #ade-mardiah #inspirasi 

Berita Terkait

IKLAN