Selasa, 25 September 2018 08:50 WIB
pmk

Ekonomi

Pasar Sambut Positif Kenaikan Suku Bunga Acuan

Redaktur:

REDAM GEJOLAK-Suasana penukaran mata uang asing di salah satu money changer di Jakarta. Langkah Bank Indonesia (BI) yang menaikan suku bunga acuan menjadi 5,25 persen, pada pada Jumat (29/6) mendapat sambutan positif pelaku pasar. Foto: Toni Suhartono/INDOPOS

INDOPOS.CO.ID - Langkah Bank Indonesia (BI) yang menaikan suku bunga acuan menjadi 5,25 persen, pada pada Jumat (29/6) mendapat sambutan positif pelaku pasar. Hal itu dianggap salah satu solusi  meredam gejolak nilai tukar rupiah.

Direktur Riset  Center of Reform on Economy (CORE) Indonesia Pieter Abdullah mengatakan, kenaikan  BI 7-day Reverse Repo Rate  sebesar 50 basis poin (bps) memuaskan ekspektasi pasar. Sehingga bisa meredakan gejolak nilai rupiah.

"Tapi sumber tekanan rupiah belum semuanya teratasi. Kita tahu bahwa Rupiah bergelolak disebabkan beberapa faktor. Salah satunya kenaikan suku bunga The Fed yang sudah direspons oleh BI dengan kenaikan  BI 7-day Reverse Repo Rate sebesar 50 bps," ujar Pieter kepada INDOPOS, akhir pekan kemarin  (29/6).

Adapun faktor eksternal lainnya kata Pieter  yaitu ketegangan perdagangan global yang mengarah perang dagang, serta faktor domestik berupa defisit neraca perdagangan belum ada solusinya.

"Artinya, kita tidak bisa cepat puas dengan penguatan rupiah pasca kenaikan  BI 7-day Reverse Repo Rate," jelas Pieter.

Pasalnya menurut ekonom tersebut, masih banyak sumber-sumber  tekanan terhadap rupiah yang sewaktu-waktu akan bisa menggerakan pelemahan rupiah kembali.

Namun menurutnya, untuk menstabilkan nilai rupiah BI memang harus menaikkan suku bunga mengikuti kenaikan suku bunga The Fed agar interest rate differential tetap lebar. Sehingga tidak terjadi capital outflows.

"Rupiah dalam seminggu ini terus terpuruk karena dua faktor. Pertama faktor eksternal berupa kenaikan suku bunga The Fed serta ketegangan perdagangan yan mengarah ke perang dagang antara Amerika Serikat dan China," jelas Pieter.

Faktor kedua adalah permasalahan domestik. Dimana Indonesia selama tahun 2018 mengalami defisit neraca perdagangan, kecuali pada bulan maret.

"Kedua faktor ini menekan rupiah dan juga pasar modal," pungkas Pieter.

Sementara itu, Pengamat Ekonomi dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef)  Bhima Yudhistira mengatakan, bunga acuan efeknya temporer dan masih kalah dengan sentimen faktor global. Meskipun diatas ekspektasi pelaku pasar karena naik 50 bps, belum mampu menguatkan kurs rupiah sesuai target. Ini terlihat dari rupiah yang masih bertengger  di level 14 ribuan.

"Kondisi ini juga menjadi peringatan bahwa bunga acuan tidak bisa dijadikan solusi tunggal penguatan kurs rupiah. Harus ada kombinasi kebijakan fiskal dan moneter yang terukur dan tepat sasaran," jelas Bhima, akhir pekan kemarin (29/6). Misalnya kata dia, membuat paket tentang stabilisasi kurs dengan perbanyak insentif bagi sektor penguat devisa.

"Jadi bentuknya harus lintas sektoral sehingga dampak kepenguatan rupiah langsung terasa," ujar Bhima.

Memang efek knaikan bunga acuan sampai 1 persen dalam 2 bulan ini akan langsung dirasakan ke bunga kredit perbankan. Kekhawatiran bunga acuan yang sudah naik 100 bps ini bakal kontraksi ke sektor riil terutama ke pertumbuhan ekonomi.

"Kalau cost of borrowing naik, pengusaha bisa  lakukan aneka efisiensi untuk tekan biaya produksi. Salah satu efisiensi yang ditakutkan adalah PHK," ujar Bhima.

Mitigasinya selain dengan relaksasi kredit seperti Loan to Value (LTV) juga dengan jalan dorong konsolidasi perbankan dan tekan NIM.

"Bank sangat sensitif ketika bunga BI naik karena terjadi perebutan dana murah oleh 117 bank. Hal itu kurang sehat sehingga bank saling tawarkan bunga deposito yang tinggi. Harusnya jumlah bank bisa didorong kurang dari 100 bank dengan jalan OJK beri banyak insentif," jelas Bhima.

Kemudian cara lain untuk tekan NIM adalah mendorong bank untk lebih adaptif dalam perubahan teknologi sehingga biaya operasional lebih efisien. "Kembali lagi soal persoalan yang struktural pembenahan internal bisnis perbankan," pungkasnya.

Sebelumnya, pada Jumat (29/6) Gubernur BI Perry Warjiyo, di dampingi para Deputi Gubernur mengumumkan kenaikan suku bunga acuan.  BI.

"Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 28-29 Juni 2018 memutuskan untuk menaikkan BI 7-day Reverse Repo Rate sebesar 50 bps menjadi 5,25 persen," ujar Perry di Komplek Perkantoran BI, Jumat (29/6).  Selain itu, BI juga memutuskan untuk

menaikan suku bunga Deposit Facility sebesar 50 bps menjadi 4,50 persen, dan suku bunga Lending Facility sebesar 50 bps menjadi 6,00 persen. (dai)


TOPIK BERITA TERKAIT: #suku-bunga-acuan #nilai-tukar-rupiah 

Berita Terkait

IKLAN