Kamis, 15 November 2018 03:10 WIB
pmk

Ekonomi

Cukai Rokok masih jadi Penyumbang Terbesar Negara

Redaktur: Ali Rahman

Foto : Istimewa

INDOPOS.CO.ID – Direktorat Jenderal Bea Cukai (DJBC) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat, penerimaan negara lewat cukai hingga akhir Juni 2018 tembus Rp 50,21 triliun. Jumlah itu naik 32,31 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Teknis dan Fasilitas Cukai DJBC Kemenkeu, Nugroho Wahyu mengatakan, dari total pendapatan negara lewat cukai tersebut, rokok masih menjadi penyumbang terbesar, meskipun belum ditetapkan angka pastinya. Sebab, peminat roko masih sangat banyak.

“Itu terlihat dari penjualannya yang masih sangat tinggi di Indonesia,” ujarnya saat menghadiri acara Sindo Weekly Forum di Gedung Sindo di Jakarta, Selasa (3/7).

Wahyu memperkirakan, penerimaan cukai masih akan terus meningkat hingga akhir tahun ini. Adapun, pemerintah menargetkan penerimaan lewat cukai pada tahun ini sebesar Rp 155,40 triliun atau naik 1,5 persen.

“Kita optimistis capaian penerimaan cukai pada akhir tahun nanti akan tinggi. Saat ini kami tengah berupaya menambah jumlah yang akan dikenakan tarif cukai. Nantinya, itu akan terus digodok seiring keputusan di DPR,” tegasnya.

Sejauh ini, struktur tarif cukai yang rumit menghasilkan tingkat ketidakpatuhan lebih tinggi. Masih ada pabrikan besar yang harusnya sudah membayar tarif cukai Gol I, tapi masih bermain di Gol II yang seharusnya untuk perusahaan kecil dan menengah.

Ia mengatakan, penyederhanaan sistem struktur cukai hasil tembakau merupakan langkah tepat untuk menyehatkan persaingan industri nasional. Persaingan harus adil. Besar bersaing dengan yang besar dan kecil bersaing dengan yang kecil.

“Kebijakan ini merupakan gebrakan yang patut dihargai dan harus konsisten diterapkan agar dapat memberikan dampak yang positif bagi industri dan negara,” katanya.

Ekonom INDEF, Aviliani menambahkan, pengenaan cukai juga memiliki titik temu dengan beberapa konsumsi bahan pokok, idapan penyakit, serta kelestarian lingkungan. Untuk konsumsi bahan pokok yang sangat tinggi di Indonesia meliputi gula dan beras.

Sedangkan idapan penyakit, yang terbanyak di Indonesia meliputi kanker, diabetes, dan penyakit jantung. Dan yang berkaitan dengan lingkungan meliputi penggunaan kendaraan bermotor. Itu sangat erat kaitannya dengan kelestarian lingkungan.

Anggota Komisi XI DPR RI, Amir Uskara mengharapkan, ke depan, aturan-aturan yang berkaitan dengan cukai dapat dengan mudah ditetapkan. Peraturan Menkeu mengenai penyederhanaan tarif cukai tembakau dinilai akan meningkatkan penerimaan negara.

Bahkan, selain penerimaan negara yang meningkat, penyederhanaan tersebut juga berdampak positif pada persaingan industri yang lebih adil. Amir menilai peraturan menkeu itu bisa diterima DPR karena sudah mempertimbangkan banyak aspek.

“Saya rasa Kemenkeu sangat jeli dalam hal ini. Tentu sangat perlu kita apresiasi apa yang sudah dilakukan,” sebutnya. (iwk)


TOPIK BERITA TERKAIT: #cukai-rokok #ditjen-bea-cukai #nugroho-wahyu #aviliani #amir-uskara 

Berita Terkait

IKLAN