Jumat, 16 November 2018 08:57 WIB
pmk

Opini

“Multaqa Ulama", Saksi Kemesraan Anies dan Aher

Redaktur: Novita Amelilawaty

Tony Rosyid

Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa

PKS sudah beberapa kali publish ke media akan usung Anies Baswedan for RI 1. PKS kerja keras. Sangat serius. Yakinkan partai-partai lain. Cari dukungan. Ini bagian dari ikhtiar eksternal.

PKS pun melakukan ikhtiar internal. Pertama, bangun kesepahaman dan kekompakan diantara kader partai. Dan mulai berhasil. Sejumlah tokoh yang semula diam, sekarang sudah mulai bersuara. Berikan dukungan kepada Anies. Seperti Hidayat Nurwahid (HNW) misalnya. Hidayat bilang, dari pada jadi cawapres, lebih baik kita Capreskan sekalian. Ungkapan Hidayat Nurwahid seolah menegaskan bahwa Anies lebih layak jadi capres.

Kader PKS sudah mulai kompak. Tinggal dibawa ke rapat Dewan Syura. Dan Dewan Syura PKS biasanya memutuskan berdasarkan suara dari bawah.

Kedua, PKS mengajukan nama Ahmad Heryawan. Kader PKS yang dua kali memenangkan Pilgub di Jawa Barat. Wilayah terbesar penduduk dan pemilihnya di Indonesia. Ahmad Heryawan adalah gubernur dua periode di Jawa Barat dengan prestasi sangat baik. 279 penghargaan telah didapatkan selama dua periode menjabat. Soal ini, hampir tak ada gubernur di Indonesia bisa menandingi.

Di acara pertemuan Ulama Se-Asia Tenggara, Afrika dan Eropa di Jakarta kemarin, Selasa, 3 Juli 2018, hadir Anies Baswedan dan Ahmad Heryawan. Acara dibuka oleh wakil presiden Jusuf Kalla. Ketiga tokoh ini nampak mesra. Terutama Anies dan Ahmad Heryawan. Publik melihat hubungan kemesraan itu. Lalu muncul asumsi-asumsi politis. Anies-Ahmad Heryawan serasi. Jadi capres-cawapres.

Sebelumnya, Anies pun tampak mesra bertemu dengan Ahmad Heryawan di doa bersama untuk Palestina di Monas. Keduanya sering bertemu dalam pertemuan para ulama. Pertemuan formal dan untuk kegiatan kemanusiaan. Seolah chemistry nyambung. Frekuensinya sama. Jika takdir politik mereka nanti jadi capres-cawapres, diprediksi besar kemungkinan restu dan dukungan ulama akan berlimpah. Habib Rizieq, yang sekarang jadi primadona penggerak massa, pun nampaknya memberi sinyal positif terhadap pasangan Anies-Ahmad Heryawan.

Acara "Multaqa Ulama" dibuka oleh JK. Publik tahu, JK, panggilan populer Jusuf Kalla adalah "King Maker" Anies yang sesungguhnya. Di mata Anies, JK adalah mentor dan orang tua Anies. Maka, ketika JK minta Anies maju di Pilgub DKI, Prabowo merekomendasikan. Dan sukses. Apakah JK akan minta Prabowo legowo merekomendasikan Anies untuk maju di Pilpres 2019? Tak menutup kemungkinan. Kalau alasannya ingin menang.

"Tabuh Gong" dalam pembukaan "Multaqa Ulama Se-Asia Tenggara, Afrika dan Eropa", apakah sekaligus juga "Tabuh Gong" untuk Anies-Ahamad Heryawan jadi calon capres-cawapres? Tak ada tanda-tanda niat dan kesengajaan. Tapi jika takdir berkehendak, tak ada yang bisa menghalangi.

Hadir juga dalam "Multaqa Ulama" itu K.H. Ma'ruf Amin, Ketua Majlis Ulama Indonesia (MUI), dan juga Habib Luthfi Pekalongan, Ketua Dewan Syura Jatman (Jam'iyyah Ahlut-Thariqat Al-Muktabarah An-Nahdliyyah). Publik mengenal beliau sebagai guru spiritual Anies. Selain Habib Luthfi, hadir pula K.H. Wahfiudin. Ketua Tanfidhiyah Jatman dan Pengurus Pusat PBNU. Kiyai Wahfi adalah satu diantara ulama yang hadir dalam deklarasi Anies sebagai calon presiden.

Jika mengacu pada aspek idealitas, Anies-Ahmad Heryawan tak diragukan integritas dan kapasitasnya. Keduanya adalah gubernur berprestasi. Jika Ahmad Heryawan telah menerima 279 penghargaan, maka Anies Baswedan belum genap enam bulan dapat penilaian WTP (Wajar Tanpa Pengecualian) dari BPK. Selama DKI dipimpin Jokowi, lalu Ahok dan kemudian dilanjutkan Djarot, belum pernah dapat WTP. Selain terobosan-terobosan program yang dibuat Anies seperti DP 0 persen yang ditiru oleh pemerintah pusat. Juga Ok Oce dan Rumah Aquarium. Selain prestasi ketika jadi MENDIKBUD. Berdasarkan hasil survei, Anies termasuk satu dari tiga menteri terbaik di era pemerintahan Jokowi.

Kemesraan Anies-Aher di pertemuan (Multaqa) Ulama Se-Asia Tenggara, Afrika dan Eropa bisa diartikan sebagai bentuk ikhtiar PKS untuk mendorong Anies-Ahmad Heryawan maju sebagai capres-cawapres.

Jika takdir politik akhirnya memutuskan Anies-Aher jadi capres-cawapres, maka tugas PKS kedepan adalah bagaimana meyakinkan para pemilih dari kalangan nasionalis sekuler. Ini tentu tak mudah.

Bagaimana respon masyarakat terhadap Anies jika dipasangkan dengan Ahmad Heryawan? Kita tunggu kejeniusan langkah PKS untuk memasangkan dua tokoh berprestasi ini. (*)


TOPIK BERITA TERKAIT: #opini #tony-rosyid 

Berita Terkait

Ada Tuhan di Antara Anies dan Marbot Masjid

Opini

"Jurus Mabuk" Yusril

Opini

"Jurus Mabuk" Yusril

Opini

Jangan Kaitkan dengan Politik?

Opini

Bendera, Ormas dan Pilpres 2019

Opini

IKLAN