Jumat, 19 Oktober 2018 08:46 WIB
pmk

Jakarta Raya

Penjambretan Marak Karena Ekonomi Sulit

Redaktur:

PEMERIKSAAN-Petugas kepolisian tengah melakukan operasi dan pengecekan terhadap para pengendara sepeda motor beberapa waktu lalu.

INDOPOS.CO.ID - Maraknya kejahatan jalanan berupa penjambretan di Jakarta dalam kurun waktu sebulan terakhir, seolah menjadi teror bagi warga ibu kota. Apalagi bukan hanya barang berharga yang dirampas, aksi para penjahat jalanan itu juga menyebabkan korban luka, bahkan kehilangan nyawa. Faktor ekonomi yang semakin sulit dituding sebagai penyebab terus terulangnya peristiwa tersebut.

“Ini fenomena kejahatan yang semakin berani, penyebabnya kemungkinan karena kondisi ekonomi yang semakin sulit” ujar pengamat hukum Universitas Al Azhar, Suparji Ahmad, Selasa (3/7).

Suparji menilai, aksi kejahatan yang menyasar korban hingga menimbulkan korban jiwa sangat disayangkan, dan harusnya tidak boleh terjadi.

“Upaya pengamanan ada kelalaian. Pihak yang memiliki kewenangan masih ada yang lalai," katanya. 

Ia menambahkan, selain karena faktor ekonomi dan juga kelalaian petugas, penyebab maraknya penjambretan juga disebabkan faktor dari korban sendiri, yang mungkin menampilkan gaya hidup kurang waspada sehingga mengundang aksi tindakan untuk pelaku nekat melakukan kejahatan. Memakai perhiasan mencolok dan memperlihatkan barang-barang berharga tidak pada tempatnya.

Pada sisi lain, rendahnya solidaritas dan kurangnya kepedulian masyarakat juga menjadi faktor tumbuhnya kejahatan. Pemicunya bisa karena kemajuan teknologi seperti telepon selular, sehingga abai pada kondisi sekitar. Faktor yang berperan di sini juga tidak adanya efek jera dari pelaku karena hukuman ringan. 

"Ketika dihukum tidak kapok dan tidak menimbulkan efek jera. Apa yang perlu dilakukan yaitu mengembalikan kepedulian dan acuh tak acuh ketika ada kejahatan terjadi," urainya. 

Menurutnya, kepolisian harus melakukan upaya pencegahan dan memiliki tanggungjawab peduli dengan meningkatkan keamanan masyarakat. 

"Masyarakat harus lebih peduli, kemudian tindakan hukum jangan ada kompromi damai. Setidaknya untuk menimbulkan efek jera. Kemudian aparat juga harus melakukan upaya khusus atau kerjasama bersama warga masyarakat,” pintanya.

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Argo Yuwono menegaskan, saat ini polisi tengah berupaya untuk memberantas aksi pejambretan yang marak terjadi.

"Sesuai imbauan Bapak Kapolda Metro Jaya setiap polres di Jakarta wajib melakukan operasi untuk memberantas aksi jambret, apalagi menjelang Asian Games 2018," ujar Argo.

Argo berharap, operasi itu membuahkan hasil dan sindikat penjambret di Jakarta dapat diberantas.Kepolisian juga mengimbau masyarakat untuk turut memerangi aksi pejambretan.

"Jangan beri kesempatan penjambret untuk lancarkan aksinya," terang Argo kembali. 

Argo menjelaskan, dengan selalu bersikap waspada dan menjaga barang pribadi ketika berada di tengah keramaian.

"Misalkan saja pada saat berkendara, jangan gunakan ponsel selama mengemudi atau tengah membonceng. Ini menjadi salah satu incaran penjambret. Melakukan tindakan ini berarti memberi kesempatan pelaku melancarkan aksinya," terang dia.

Berikut ini bebererapa peristiwa penjambretan yang marak terjadi. Pertama, penjambretan di Cempaka Putih, korban tewas Hari Minggu (1/7) lalu, seorang perempuan berinisial W (37) meninggal dunia saat mempertahankan barangnya ketika menjadi korban penjambretan di kawasan Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Penjambertan itu terjadi pukul 08.00 WIB dan terekam CCTV. Video ini viral dan beredar di berbagai platform media sosial dan grup percakapan. Dalam rekaman CCTV yang beredar di media sosial, W yang merupakan penumpang ojek online tersebut terpelanting karena tarikan penjambret. Pelaku penjambretan menggunakan pakaian tertutup berwarna merah dan helm tipe full face. Polisi pun membentuk tim gabungan untuk mengungkap dan menangkap pelaku penjambretan itu.

Kemudian, penjambretan Dirjen Bina Konstruksi Kementerian PU Beberapa pekan sebelumnya, penjambretan juga terjadi dan menimpa Dirjen Bina Konstruksi Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Syarief Burhanudin. Peristiwa ini terjadi pada 24 Juni 2018. Kali ini aksi penjambretan terjadi pagi hari. Menurut keterangan saksi kepada polisi, saat itu Syarif tengah bersepeda dari rumahnya di Cipete, Jakarta Selatan, menuju kawasan Kota Tua, Jakarta Barat. Di tengah perjalanan, pejambret menarik tas pinggang Syarif. Karena terkejut dan berusaha mempertahankan barang berharga miliknya, Syarif terpelanting ke jalan.

Menurut keterangan para saksi, Syarif mengalami luka serius dan harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit. Tak lama berselang, polisi mengamankan satu tersangka pelaku penjambretan itu dan menembak mati satu tersangka pelaku lainnya. Kapolres Metro Jakarta Barat Kombes Hengki Haryadi mengatakan, dari penangkapan kedua tersangka, polisi menemukan adanya sindikat pejambret bernama "Jambret Tenda Oranye".

Selanjutnya, penjambretan di kawasan Sudirman hingga Tosari. Rentetan peristiwa penjambretan terjadi di kawasan Sudirman hingga Tosari, Jakarta Pusat, pada 17 Juni lalu sekitar pukul 23.00 WIB. Saat itu sejumlah pengendara menjadi korban penjambretan oleh seseorang dengan ciri-ciri yang mirip.

Menurut keterangan korban, penjambret menggunakan pakaian tertutup serba hitam dengan helm tipe full face dan mengendarai sepeda motor jenis CBR. Dalam penjambretan itu, pelaku mengincar ponsel korbannya yang digunakan saat tengah berkendara. Ada tiga korban yang secara resmi melaporkan penjambretan pada sekitar waktu itu di lokasi tersebut kepada polisi. Diduga masih ada korban lainnya yang belum melapor. Hingga kini pelaku penjambretan tersebut masih dalam pengejaran polisi. (ibl)

 


TOPIK BERITA TERKAIT: #aksi-penjambretan #kriminalitas 

Berita Terkait

Terkait Sindikat Narkoba, WN Malaysia Dibedil

Jakarta Raya

Colek Payudara, Pemuda 19 Tahun Masuk Bui

Nusantara

IKLAN