Sabtu, 17 November 2018 06:23 WIB
pmk

Internasional

Bisa Sentuh Paul Rudd, Dilarang Memotret dan Merekam Gambar

Redaktur:

BERDISKUSI: Sutradara Peyton Reed (kiri) berbincang dengan Paul Rudd (tengah) dan Evangeline Lilly saat syuting. Foto: Ben Rothstein/Marvel Studios for jawa pos/jpg

Film terbaru tentang superhero Marvel Cinematic Universe, Ant-Man and the Wasp, dirilis di Indonesia. Syutingnya dilakukan pada Agustus–November tahun lalu di Atlanta, Georgia, Amerika Serikat. Set film itu adalah yang terbesar yang pernah dibangun untuk film Marvel.

-----

INDOPOS.CO.ID - Alhamdulillah. Lega. Akhirnya, embargonya sudah berakhir. Saya sudah diperbolehkan menulis ini. Sembilan bulan harus merahasiakan informasi itu berat. Beneran. Rasanya seperti sedang kangen-kangennya, tapi dilarang ketemu. He he…

September tahun lalu koran ini mendapatkan kesempatan terbang ke Atlanta, Georgia, Amerika Serikat, untuk meliput proses syuting film Ant-Man and the Wasp atas undangan Disney. Koran ini menjadi satu-satunya media dari Asia Tenggara yang diundang. Total, ada 13 media dari seluruh dunia yang diajak ke Pinewood Atlanta Studios, tempat syuting film itu.

Kamis, 21 September 2017, pukul 08.15 sebanyak 13 perwakilan media sudah hadir lobi hotel The Westin Peachtree, tempat kami menginap. Megan Wasserman, publisis Disney, membagikan selembar kertas yang berisi perjanjian non-disclosure agreement (NDA) untuk ditandatangani. Itu bagian penting. Semua yang saya lihat dan saya dengarkan hari itu di lokasi syuting bersifat sangat rahasia. Tidak boleh diberitahukan kepada pihak lain hingga waktu yang akan ditentukan kemudian oleh Disney dan Marvel.

”Memotret dan merekam gambar dalam bentuk apa pun dilarang,” kata Wasserman, mewanti-wanti, sebelum kami naik mobil menuju Pinewood Atlanta Studios. Studio terbesar kedua di Amerika Utara itu cukup jauh dari pusat Kota Atlanta. Sudah sekitar 30 menit mobil itu membawa kami, tapi belum sampai juga. Jalanan yang dilewati pun semakin sepi. Hanya pepohonan yang berada di kanan dan kiri jalan.

”Di mana kita?” celetuk salah seorang wartawan dari Inggris. ”Sudah lebih dari 40 menit dan belum sampai juga,” lanjutnya. Lima menit kemudian, kami melihat tulisan ”Welcome to Pinewood Atlanta Studios”. Mobil shuttle kami dihentikan petugas untuk melakukan pemeriksaan. Meski Wasserman sudah menjelaskan maksud kedatangan rombongan ke lokasi itu, petugas masih melakukan pemeriksaan secara detail terhadap kami.

Mereka meminta mengumpulkan kartu identitas. Saya pun mengambil e-KTP dari dompet, lalu memberikannya kepada petugas perempuan berkulit hitam. ”Janesti.” Saya mendengar nama saya dipanggil. ”Ya. Saya,” jawab saya. ”Tolong kamu isi data diri, lalu tanda tangani perjanjian ini,” kata petugas sambil menyerahkan iPad. Setelah rampung, dia mengembalikan e-KTP.

Perjanjian yang harus kami tanda tangani berisi tentang kesanggupan untuk tidak mengambil foto apa pun di kawasan studio. Meskipun itu di luar gedung. Apalagi sampai mengunggahnya ke media sosial. Keras sekali larangannya. ”Woah. Belum satu hari di Amerika, saya sudah harus menandatangani dua perjanjian,” pikir saya waktu itu. Fixed, gagal eksis. Saya tidak akan memiliki foto apa pun di sini. Walau itu hanya foto diri untuk keperluan penulisan berita.

Disney dan Marvel sungguh sangat ketat dan tidak main-main dalam menjaga kerahasiaan konten filmnya. Ibarat sudah diundang main ke rumahnya, pintunya hanya dibuka sedikit. Tidak lebar-lebar. Mengingat film-film mereka berkategori most anticipated movies, dinanti-nanti penonton sedunia, menjaga kerahasiaan konten adalah prioritas utama. 

Lokasi syuting Ant-Man and the Wasp berada di gedung 111. Letaknya di bagian belakang. Ketika mobil kami hendak berhenti, seorang perempuan mengayuh sepedanya dengan lebih cepat. Dia lantas berhenti di gedung yang sama dengan kami. Dengan mengenakan jins, tank top, dan scarf, dia memarkir sepeda, lalu menghampiri. Wasserman mengenalkan kepada kami bahwa perempuan tersebut bernama Carol McConnaughey. ”Carol adalah tim publisis Ant-Man and the Wasp. Dia yang sehari-hari in-charge di sini,” terang Wasserman.

Carol lantas membawa kami ke press room yang terletak di sisi kanan setelah masuk lobi gedung. Carol menjelaskan, karena sedang syuting, para pemain akan dihadirkan secara bergantian. Bergantung siapa dulu yang bisa ”diculik” dari set. Syuting hari itu adalah yang ke-39 dari total 78 hari pengambilan gambar. Pemain yang melakoni jadwal syuting hari itu adalah Paul Rudd (Ant-Man), Evangeline Lilly (The Wasp), Hannah John-Kamen (Ghost), dan Laurence Fishburne (Dr Bill Foster).

Executive Producer Stephen Broussard adalah narasumber pertama yang dibawa ke press room. Lalu Shepherd Frankel, production designer. Baru enam menit kami ngobrol dengan Frankel, tiba-tiba pintu diketuk. Wajah Carol nongol dari balik pintu. ”Guys, sorry, aku harus memotong wawancara ini karena Paul Rudd sudah available sekarang. Aku akan bawa dia ke sini untuk wawancara karena setelah ini dia harus syuting lagi,” katanya.

Frankel pun mengalah. Tak berapa lama, Paul Rudd, sang pemeran utama, datang. Dia masih mengenakan kostum Ant-Man, tapi tanpa helm. Itu membuat kami semua excited. Rudd terlihat sedikit lelah. Dia dan pemain lain memang sedang melakoni jadwal syuting yang ketat. Tapi, dia sangat ramah dan tidak menjaga jarak dengan kami. ”Apa kostumnya nyaman?” tanya kami. ”Ya, tentu saja. Kalian mau menyentuh (kostum, Red)-nya? Silakan,” katanya, lalu berjalan mendekat ke arah kami.

Saya dan beberapa jurnalis yang berdiri di dekatnya lantas menyentuh kostum di bagian tangan dan lengan. ”Ayo, siapa lagi yang mau memegangku?” kata dia. Ucapan itu seolah-olah meruntuhkan dinding kesungkanan. Akhirnya, kami semua mengerumuninya. Kami memegang-megang kostumnya dengan lebih leluasa. Carol juga mengajak kami masuk ke set laboratorium Hank Pym yang digunakan untuk pengambilan gambar. Set yang dibangun tidak main-main. Ia dibangun persis dengan yang terlihat di gambar-gambar yang sebelumnya saya lihat di press room. Gambaran laboratorium Hank Pym –yang juga bisa menyusut– dibuat senyata mungkin. Bangunannya solid. Standar keamanannya juga terjamin. Set laboratorium itu dibangun di dalam studio yang sebagian besar tertutupi layar hijau. Kami hanya diajak melihatnya dari balik layar hijau dengan bantuan monitor, headphone, dan mik portabel. Jadi, kami pun tidak tahu di mana posisi para pemain tersebut melakoni syuting.

Suasana di dalam studio sangat hening. Tiba-tiba terdengar bunyi seperti bel sekolah, kriiiiiingg. Bel itulah yang menandakan bahwa kamera sedang rolling atau cut. Saya bertanya kepada Carol, ”Sampai pukul berapa biasanya syuting dilakukan?” ”Sampai pukul 18.30. Mulainya pukul 09.00,” jawabnya. Tidak ada lembur atau syuting sampai dini hari. Hari libur pun syuting libur. Saya rasa, itulah yang menjadi salah satu perbedaan besar pembuatan film di Indonesia dan Hollywood. Mengerjakan sesuatu yang sangat keren, tapi tetap teratur dan tepat waktu.

Set film Ant-Man and the Wasp itu adalah yang terbesar untuk film Marvel. Juga, orang sukses di balik pembuatan set tersebut adalah Shepherd Frankel, production designer. Dia dan timnya membangun set itu selama 16 minggu. ”Dengan jam kerja enam hingga tujuh hari per minggu,” ungkap Frankel.

Sebelumnya, mereka diberi waktu 20 minggu untuk membangun set dengan jam kerja lima hari per pekan. Tapi, karena ada perubahan jadwal syuting, mereka harus menyelesaikannya dalam 17 minggu. ”Juga harus kerja saat weekend,” lanjutnya, lalu tersenyum. Total waktu pembangunan set sekitar enam bulan. Mulai menggambar konsep sampai jadi.

Meski demikian, membangun set terbesar bukanlah titel yang ingin diraih Frankel. ”Saya pernah diberi tahu soal itu (tentang set terbesar, Red). Tapi, saya menolak untuk memiliki julukan: Shepherd, pria yang membuat set film Marvel terbesar. No,” tegasnya.

Dia, Peyton Reed (sutradara), dan Stephen Broussard (produser eksekutif) memiliki pendapat yang sama bahwa mereka tidak ingin semuanya diolah secara digital. ”Let’s have a real environment,” kata Frankel, menirukan ucapan sutradara kala mereka membahas produksi sekuel Ant-Man tersebut. Karena itulah, set yang detail, besar, dan nyata tersebut dibangun. (janesti priyandini)


TOPIK BERITA TERKAIT: #boks #feature 

Berita Terkait

IKLAN