Selasa, 13 November 2018 06:15 WIB
pmk

Indobisnis

Lima Kompetensi Jadi Pemimpin BUMN

Redaktur:

PEMBICARA - Menteri BUMN Rini Soemarno, berbicara di hadapan ratusan direksi BUMN, swasta dan duta besar negara sahabat tentang pentingnya pemimpin BUMN memiliki lima kompetensi, pada acara Executive Centeri for Global Leadership (ECGL): “Redefining Leadership Making a Difference”, di Jakarta, Rabu, (4/7).

INDOPOS.CO.ID - Merayakan pencapaiannya di tahun ke-16, Executive Center for Global Leadership (ECGL) menggelar The ECGL Leadership Forum. Bertempat di ballroom Fairmont Hotel, Jakarta, Rabu (4/7), acara ini dihadiri oleh jajaran pimpinan dari perusahaan-perusahaan BUMN dan swasta, duta besar dari negara-negara sahabat dan ketua lembaga-lembaga tinggi negara.

Ada tiga pembicara utama yakni Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Rini Soemarno, Pemimpin de facto koalisi pemerintahan Malaysia Pakatan Harapan, Datuk Seri Anwar Ibrahim dan Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla, sayangnya karena masih berada di Bogor, JK batal hadir dalam acara tersebut.

Dalam materinya, Rini Soemarno kembali menegaskan tentang pentingnya kepemimpinan dalam BUMN dan kontribusinya bagi kemajuan bangsa dan negara. Rini mengatakan, untuk menjadi seorang leader di BUMN, terdapat lima kompetensi utama yang harus dimiliki yaitu dapat membangun hubungan yang strategis bagi pemangku kepentingan, tajam dalan melihat peluang bisnis, harus bisa menjadi agen perubahan di BUMN yang dipimpin, dapat mengambil keputusan yang selaras dengan tujuan strategis organisasi serta berani melakukan investasi di jangka panjang untuk kelangsungan perusahaan.

Kemitraan strategis dengan para pemangku dilakukan untuk mencapai dan meningkatkan hasil yang optimal dan mampu meningkatkan nilai tambah bagi para pemangku kepentingan. Dalam hal ketajaman bisnis, pemimpin BUMN harus memiliki kemampuan dalam memanfaatkan peluang untuk mendapatkan keuntungan dan mengembangkan kegiatan bisnis perusahaan.

Sementara itu, sebagai agen perubahan, pemimpin BUMN harus bisa membawa perubahan signifikan pada pertumbuhan organisasi yang berkelanjutan. ''Pemimpin juga merupakan pengambil keputusan dalam sebuah organisasi perusahaan, oleh karena itu keputusan yang diambil harus berdasarkan evaluasi dan pertimbangan berbagai aspek serta pemantauan pelaksanaan yang selaras dengan tujuan strategis organisasi,'' tukasnya.

Tak lupa, lanjutnya, seorang leader di BUMN juga harus bisa melakukan investasi di jangka panjang. Dalam hal ini pemimpin di BUMN harus berani melakukan investasi dalam jangka panjang supaya BUMN yang dipimpin dapat berkelanjutan untuk jangka waktu 100 tahun ke depan. ''Ini yang selalu saya tekankan kepada seluruh pemimpin, baik para direktur utama mapun direksi-direksi di BUMN. Dalam pelaksanaannya, BUMN tidak hanya saja mencetak laba atau keuntungan tetapi juga memiliki tanggung jawab baik di dalam maupun di luar perusahaan untuk mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat,'' tukasnya.

Rini mengakui, terdapat tantangan-tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia untuk menjadi negara maju dimana salah satu hal yang paling utama adalah peningkatan produktivitas dan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM).

BUMN telah mengambil peran dalam program-program seperti Program Magang Mahasiswa Bersertifikat dan program-program vokasi untuk mahasiswa di seluruh Indonesia sebagai wujud nyata dukungan BUMN dalam pengembangan SDM Indonesia. ''Saya bangga Direksi-direksi BUMN sekarang sudah bisa saling sinergi atau tidak sendiri-sendiri, ini sebuah transformasi yang terus menerus kita lakukan dan terus saya dorong. Saya percaya bahwa pemimpin-pemimpin di BUMN ke depannya layak untuk menjadi pemimpin bangsa,'' katanya.

Sementara itu, Datuk Seri Anwar Ibrahim diminta membicarakan mengenai kepemimpinan politik. Politikus yang baru bebas dari penjara Mei lalu ini mengatakan, seorang pemimpin yang tentu memiliki kekuasaan dalam sebuah negara harus memperhatikan dimensi etika dan budaya dalam menjalankan pemerintahannya. ''Seorang pemimpin tidak dapat melakukan pengembangan kapasitas negaranya tanpa memperhatikan etika dan budaya. Keduanya tidak bisa dipisahkan. Kekuasaan yang yang diemban oleh seorang pemimpin merupakan sebuah amanah. Kekuasaan tidak boleh di salah gunakan,'' tuturnya.

Anwar menambahkan, saat ini banyak pemimpin yang melakukan korupsi. Mereka telah merampok harta rakyat dan mendzalimi rakyat. Maka dari itu, lanjutnya, setiap pemimpin harus menerapkan sistem keadilan bagi rakyatnya. ''Saat ini masih sedikit pemimpin yang benar-benar menerapkan nilai dari keadilan itu sendiri,'' ujarnya.

Sebagai informasi, ECGL didirikan oleh lima pemimpin politik dan bisnis yang berpengaruh di Indonesia: Tanri Abeng; Muh. Jusuf Kalla; Aburizal Bakrie; Bambang Kesowo, dan Pontjo Sutowo. Visi dan kebijaksanaan mereka telah menjadikan ECGL sebagai salah satu pusat pembelajaran yang paling didambakan dan diakui di seluruh Asia. Para alumni ECGL memegang posisi kepemimpinan di banyak bidang bisnis terkemuka, pemerintah, organisasi sektor publik dan sosial. (dew)

 

 

 

 


TOPIK BERITA TERKAIT: #the-ecgl-leadership-forum #bumn 

Berita Terkait

Ini Cara BUMN Memperingati Hari Pahlawan

Headline

BUMN Realisasikan 1.500 Huntara di NTB

Ekonomi

BUMN Kebanjiran Pelamar Kerja

Ekonomi

BUMN Teken Investasi Bernilai Rp 200 Triliun

Ekonomi

IKLAN