Kamis, 22 November 2018 06:08 WIB
pmk

Opini

Jebakan Operasi Diplomasi Palsu Proxy AS dan Palestina

Redaktur:

Masyarakat Indonesia, pakar-pakar operasi klandestin intelijen, analis intelijen keamanan nasional, dan aktivis gerakan pro-Palestina,  juga pimpinan dunia Islam lainnya, serius menganalisis peta aktual Operasi "Jebakan Diplomasi Palsu "Proxy AS-Israel-Saudi terhadap Otoritas Palestina dan manuver kontra intelijen poros Rusia, Turki, Iran,  dan Palestina paska-tawaran perdamaian baru (prakarsa Deal of The Century) yang diajukan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kepada Palestina untuk berdamai dengan Israel, paska-kemenangan poros resistensi negara-negara pendukung Palestina di Sidang Majelis Umum PBB,  Kamis 14 Juni lalu.                                              

Hal ini dianalisis untuk membaca secara detil dan update monitoring setiap skenario terbaru operasi-operasi klandestin " Jebakan Diplomasi Palsu" (Diplomacy False Operation) ciptaan negara asing yang andal menciptakan jebakan intelijen untuk meneror, mengintimidasi,  dan menyerang negara-negara pendukung kemerdekaan Palestina di kawasan Timur Tengah, Kaukasus, Asia Selatan, dan Asia Tenggara yang telah dijadikan negara target, termasuk Indonesia.           

OPERASI "DIPLOMASI PALSU " MENLU AS                                    

Menlu AS Mike Pompeo (mantan Direktur CIA) dan Menlu Iran Mohammad Javad Zarif, akhirnya terlibat perang medsos (twitwar) . Pompeo men-tweet dukungannya terhadap gerakan-gerakan aksi protes antipemerintah Iran dan Zarif. Mereka  mengeluhkan kebijakan luar negeri AS dalam krisis.

Cuitan Pompeo, dimulai sejak Rabu hingga Kamis (21/6), termasuk serangkaian grafik yang menyoroti peningkatan aksi protes sejak awal 2017, tingkat pengangguran Iran, dan penangkapan para demonstran. Pompeo juga mengkritik Korps Garda Pengawal Revolusi (IRGC) Iran.

"Rakyat Iran pantas menghormati hak asasi manusia mereka," kata Pompeo. #Rezim korup Iran telah memperkaya #IRGC, #Hizbullah dan #Hamas, serta menjarah kekayaan negara itu dalam perang proksi di luar negeri sementara keluarga-keluarga Iran berjuang," katanya di cuitan lain seperti dikutip CNN, Jumat (22/6).

Iran adalah sasaran abadi kemarahan Pompeo di Twitter. Akan tetapi, frekuensi dari cuitan terbarunya terkait Iran telah menarik perhatian. Ditanya tentang cuitan Pompeo tersebut, juru bicara Deplu AS Heather Nauert mengatakan,  hal itu mencerminkan perasaan frustrasi yang dialami dan diekspresikan orang Iran.

"Saya pikir Menteri hanya menunjukkan fakta bahwa protes ini terus berlanjut," kata Nauert. Tidak mau kalah, Zarif mengeluarkan pernyataan berjudul Kebijakan Luar Negeri AS dalam Krisis. Dalam tulisannya, Zarif mengkritik keputusan AS menarik diri dari kesepakatan nuklir Iran dan perjanjian multilateral lainnya.

OPERASI " KONTRA OPINI DUSTA" MENLU IRAN

"Sangat disesalkan bahwa dalam satu setengah tahun terakhir, kebijakan luar negeri AS terhadap Iran, telah didasarkan asumsi yang salah dan ilusi, jika bukan khayalan yang sebenarnya," tulis Zarif.

"Presiden AS dan Menlu terus menerus membuat tuduhan tak berda sar dan provokatif terhadap Iran. Itu merupakan intervensi mencolok urusan domestik Iran, ancaman yang melanggar hukum terhadap negara anggota-anggota PBB, dan pelanggaran kewajiban internasional Amerika Serikat di bawah Piagam PBB." imbuhnya.

Zarif memusatkan perhatian pada pidato yang disampaikan Pompeo pada Mei. Dalam pidatornya, ia menjanjikan untuk "menghancurkan" Iran dengan tekanan ekonomi dan militer,  kecuali Iran mengubah perilakunya di Timur Te ngah, serta mengajukan 12 tuntutan khusus kepada Iran. Pernyataan tersebut tidak berdasar, menghina, tidak masuk akal,  serta merupakan pelangggaran kontradiktif terhadap hukum internasional, norma internasional, dan perilaku yang beradab. " tukas Zarif.

OPERASI "PERSAHABATAN PALSU" PM ISRAEL & RAJA SAUDI

Bersamaan dengan operasi jebakan "diplomasi palsu" Menlu AS terhadap oposisi politik Islam Suni, kelompok pemberontak sosialis-dan organisasi separatis Iran, PM Israel Benjamin Netanyahu mengatakan, hubungan dengan Israel dengan dunia  Arab kini sudah jauh membaik. Negara-nega ra Arab bahkan menempuh proses normalisasi hubungan bawah tanah dengan Israel.

Seperti dilansir Rayal-Youm, Sabtu (9/6), saat wawancara dengan BBC pada acara Newsnight  sembari mengaku yakin bahwa kerja sama Israel secara lebih erat dengan negara-neg ara Arab merupakan jalan menuju perdamaian. Sebelumnya dia tak pernah menduga akan terjalin hubungan persahabat sedemikian rupa antara Israel dan negara-neg ara Arab.

Netanyahu yang belakangan enggan berbicara dengan media Israel sendiri dia dan keluarganya selalu diberitakan soal skandal korupsi dan mengklaim publik Arab mulai berbeda dalam memandang Israel. Sebelumnya, Middle East Eye memuat laporan khusus tentang menguatnya hubungan Israel dan Kerajaan Arab Saudi sehingga Riyadh antara lain menyokong prakarsa Deal of The Century arahan Presiden  AS Donald Trump untuk mengatasi kemelut Palestina-Israel.

Netanyahu mengatkan, terjadi pendekatan yang hebat antara Israel dan negara-negara Arab karena dua factor. Pwertama, adanya “ancaman Iran” yang mengarah kepada mereka secara kolektif. Kedua, keinginan negara-negara Arab memanfaatkan teknologi dan inovasi Israel. Menurut Ray al-Youm, membaiknya hubungan Israel-Arab ini membuat popularitas Netanyahu terangkat meskipun dia dan istrinya tersandung kasus korupsi.  JEBAKAN OPINI PALSU " MEMBENCI NABI MUSA " MENHAN ISRAEL. Mendukung strategi propaganda PM Israel dan Menlu AS untuk membentuk opini "persahabatan palsu" dan membangun "diplomasi palsu" dengan dunia Arab yang bermusuhan dengan Iran, Menhan Israel Avigdor Lieberman menyatakan, Nabi Musa As telah melakukan ke salahan strategis untuk bangsa Israel. Karena itu, akibat kebencian Iran ter hadap Israel begitu besar sampai-sampai ia tak segan-segan membubuhi rudalnya dengan tulisan berbahasa Ibrani untuk kehancuran Israel.

Dalam wawancara dengan media Rusia, Netanyahu mengatakan, negara-negara Barat lemah karena tak sanggup menghadapi “Islam radik al”. Sebagaimana pada zaman Hitler sekarang pun mereka akan berhadapan dengan Iran (yang bersenjatakan) nuklir,” katanya, seperti dilansir Kommersant, Sabtu  (10/6), sembari mengklaim  bahwa Israel tidak ingin menyerang Iran. Juga bahwa semua peperangan Israel terjadi karena terpaksa.

“Semua perang yang dilakukan Israel dipaksakan terhadapnya, sedangkan Iran menolak Holocaust dan memamerkan rudal-rudal balistiknya yang ditulisi ‘Israel harus dihapus dari muka bumi’… Kami tidak memandang rakyat Iran sebagai musuh. Problema kami adalah rezimnya. Saya berharap rezim ini segera menguap dan musnah agar kami dapat kembali menjalin hubungan normal dengan orang-orang Iran,” paparnya.

Soal Suriah dia menyebutkan,  presiden negara ini, Bashar Assad, sebagai penjahat perang, namun ke  tika ditanya apakah Israel memiliki pandangan mengenai sosok pengg anti-Assad,  dia malah menyalahkan Nabi Musa AS karena telah menjatuhkan pilihan yang salah dalam menentukan negeri untuk bangsa Yahudi.

“Bukan kami yang memilih para tetangga kami. Kami ini sebenarnya tidak siap memiliki tetangga seperti ini. Saya kira, dengan membawa kami ke Timteng, bukan ke Italia atau Swiss, Musa telah melakukan kesalahan strategis.” ujarnya. Soal Gaza,  dia mengklaim,  buruknya kondisi kehidupan penduduk Palestina di kawasan ini adalah akibat ulah para pemimpin Palestina dan Hamas karena bukannya fokus kepada perbaikan kondisi kawasan tapi malah menyerang Israel dengan rudal, bom, dan terowongan. Menteri Pertahanan Israel telah menginstruksikan Kepala Staf Pasukan Pertahanan Israel Gadi Eisenkot berbagi informasi intelijen dengan Riyadh untuk menghadapi Iran.

OPERASI "DIPLOMASI PALSU" PANG ERAN SAUDI                                               

Sebuah kantor berita asing melaporkan, Jared Kushner ( menanti Presiden AS Donald Trump, sekaligus penasihat senior Gedung Putih) bertemu dengan Pangeran Muhammad bin Salman pada Rabu (20/6). Mereka berdua berbincang tentang masa depan Israel dan nasib Palestina.

Menurut pernyataan Gedung Putih saat mengikuti pertemuan yang juga dihadiri Jason Greenblatt (utusan AS untuk urusan Timur Tengah), sebelum ini, Kushner juga bertemu dengan Raja Abdullah II (penguasa Yordania) pada Sabtu lalu. Kushner dan Greenblatt menegaskan, mereka bertugas mewujudkan kesepakatan antara Israel dan Palestina.

Berbeda dengan skenario jebakan intelijen luar negeri "diplomasi palsu " proxi AS-Israel-Saudi terhadap negara-negara poros resistensi Rusia-Iran-Turki-Qatar, konsistensi mendukung kemerdekaan Palestina tetap dilakukan oleh "Front Diplomatik" Kementrian Luar Negeri Indonesia.

Pemerintah Indonesia mengkonfirmasikan,  telah menolak visa masuk untuk 53 warga Israel. Konfirmasi itu disampaikan Menkumham Yasonna Laoly. Dia menolak mengungkapkan mengapa kementeriannya tidak memberikan visa kepada warga Israel. ‘’Alasan yang tidak bisa kami katakan. Ini masalah sensitif, kata Laoly, seperti dikutip dari Anadolu, Sabtu (2/6)

Sementara itu Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengingatkan, Indonesia dan Israel tidak memiliki hubungan diplomatik formal. Indonesia akan terus mendukung Palestina dalam perjuangan mereka.  Indonesia dmenjadi penyelarasan kebijakan luar negeri terhadap Palestina. Itu  sangat jelas dan saya perlu mengulanginya, ujar Marsudi.

Dynno Chressbon,

Pengamat Intelijen.


TOPIK BERITA TERKAIT: #opini #dynno-chressbon 

Berita Terkait

Prabowo Istimewa di Mata K.H. Maemoen Zubair

Opini

Anies Tutup Reklamasi, Apa Mau Loe?

Netizen

Caci Maki di Forum Tertinggi

Opini

IKLAN