Rabu, 21 November 2018 11:33 WIB
pmk

Megapolitan

Kondisi Tanggul Dua Sungai Rawan Ambrol, Sembilan Desa Terancam Banjir

Redaktur:

Foto : Ilustrasi

INDOPOS.CO.ID – Ancaman banjir akibat luapan  dua sungai yang melintasi Kabupaten Bekasi yakni Sungai Citarum dan Sungai Ciherang mengancam penduduk yang tinggal di bantaran sungai tersebut.

Sedikitnya ribuan warga yang tinggal di sembilan desa di wilayah itu selalu was-was dengan ancaman banjir.

Dari dua sungai itu, warga yang tinggal di delapan desa yang ada di tiga kecamatan yang paling terancam dengan luapan air Sungai Citarum yang merupakan sungai terpanjang di Provinsi Jawa Barat tersebut.

Sejumlah desa yang terancam banjir akibat luapan Sungai Citarum yakni Desa Kadungwaringin, Desa Karang Mekar di Kecamatan Kedungwaringin; Desa Mekarsari, Kecamatan Tambun Selatan lalu Desa Kertaya, Desa Bantarjaya, Desa Karanghaur, Desa Sumber Urip dan Desa Sumber Reja di Kecamatan Pabayuran.

Sedangkan banjir akibat luapan Sungai Ciherang mengancam satu desa di wilayah Kabupaten Bekasi yakni Desa Sukakarya di Kecamatan Sukakarya.

Penyebabnya, kedua sungai itu tak pernah mendapatkan perbaikan dari Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung-Cisadane (BBWSCC) sejak dua tahun terakhir.

Padahal, kondisi sejumlah bagian sungai sudah dipenuhi sedimen lumpur dan juga tanggul yang rawan jebol bila air sungai meluap.

”Memang ada dua sungai yakni Sungai Citarum dan Sungai Ciherang yang melintasi wilayah kami dan kondisinya memprihatinkan,” terang Sekretaris Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Bekasi, Iman Nugraha, Kamis (5/7).

Dia juga mengatakan, kondisi dua sungai yang melintasi Kabupaten Bekasi itu memang memprihatinkan karena sewaktu-waktu airnya bisa meluap membanjiri permukiman warga. ”Sifatnya sangat mendesak untuk meninggikan tanggul yang ada," katanya.

Iman juga menjelaskan, kondisi tanggul berperan besar menahan luapan air dari kedua sungai tersebut. Sebab, bila intensitas hujan sudah tinggi ditambah limpasan air dari sejumlah anak sungai, maka kondisi air mencapai bibir sungai. "Kalau tanggul itu bisa ditinggikan dari bibir sungai air tidak akan meluap," paparnya.

Sementara itu, Kabid Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Dinas PUPR Kabupaten Bekasi Nur Chaidir menambahkan, kewenangan melakukan perbaikan dan pembangunan di dua sungai itu ada di BWSCC. Karena perbaikan sungai memang menjadi tugas lembaga yang berada di bawah Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) tersebut.

Sebenarnya, katanya juga, pemerintah daerah bisa saja menganggarkan perbaikan memakai APBD, namun terbentur aturan kewenangan. "Tapi sungai itu kan bukan milik kita, kita tidak punya kewenangan untuk itu, yang punya pemerintah pusat,” terangnya juga.

Chaidir berharap permintaan perbaikan Pemkab Bekasi terhadap kedua sungai kepada BBWSCC itu bisa segera dilakukan mengingat saat ini sudah akan memasuki musim penghujan. Sehingga masyarakat tidak terimbas banjir luapan kedua sungai.

Menurutnya juga, pihaknya sudah membuat surat ke BBWSCC agar segera melakukan perbaikan dua sungai tersebut, sebelum musim penghujan. Bahkan, katanya juga, secepatnya BBWSCC segera turun melakukan perbaikan agar masyarakat Kabupaten Bekasi bisa terhindar dari luapan banjir tersebut.

”Kebutuhan dua sungai itu selain penurapan di dasar sungai. Karena sistem penurapan di sepanjang aliran Sungai Citarum dapat meminimalkan dampak banjir di kawasan permukiman warga yang tinggal di sekitar bantaran sungai itu,” paparnya juga.

Terpisah, Pemerhati Lingkungan Environment Community Union (ECU) Benny Tunggul mengatakan, masalah banjir yang terjadi wilayah utara Kabupaten Bekasi menjadi langganan saat musim hujan tiba. Bahkan, ada beberapa daerah yang kerap terkena dampak banjir rob akibat meluapnya laut Muaragembong.

”Ada dua faktor banjir di daerah itu. Satu karena luapan Sungai Citarum. Kedua, banjir air rob dari laut Muaragembong,” terangnya. Benny mengaku, pemerintah daerah kurang memperhatikan wilayah utara Kabupaten Bekasi. Mulai dari pembangunan infrastruktur sampai ke ekonomi masyarakatnya.

Wajar saja, kalau mereka banyak yang memilih untuk enggan mengaku sebagai warga Kabupaten Bekasi. "Sempat ada gejolak warga utara ingin pisah dari Kabupaten Bekasi dan membentuk pemerintahan sendiri. Itu karena kurang perhatiannya pemerintah daerah kepada warga di sana,” cetusnya. (dny)

Banjir Ancam Ribuan Warga

 

-Ancaman           : Luapan Sungai Citarum

-Wilayah

1.  Kecamatan Kedungwaringin
-Desa Kadungwaringin

-Desa Karang Mekar

2. Kecamatan Pabayuran

-Desa Bantarjaya

-Desa Kertaya

-Desa Karanghaur

-Desa Sumber Urip

-Desa Sumber Reja

 

3. Desa Tambun Selatan

-Desa Mekarsari


-Ancaman           : Sungai Ciherang

-Wilayah
1. Kecamatan             : Sukakarya

-Desa Sukakarya

 


TOPIK BERITA TERKAIT: #banjir 

Berita Terkait

Logistik Banjir Harus Tepat Sasaran

Jakarta Raya

Hulu Tersumbat, Banjir Mengancam

Megapolitan

Pergantian Pemerintah Penyebab Banjir Berlanjut

Headline

Lebak Terancam Banjir dan Longsor

Banten Raya

Hujan Petir, Waspada Banjir

Headline

Hujan Seharian, Tiga Kecamatan Diterjang Banjir

Headline

IKLAN