Jumat, 21 September 2018 08:56 WIB
pmk

Nusantara

Branding-Branding Unik dan Lucu untuk Memikat Konsumen, Mulanya Dongkol, Eh Tertarik Juga

Redaktur:

GODA PEMBELI- Sebuah banner iklan tertulis melarang seseorang menoleh ke arah lokasi toko yang menjual produk smartphone, di dekat Bundaran Jalan Lingkar Selatan, Kamis (5/7). LALU MOHAMMAD/LOMBOK POST

INDOPOS.CO.ID - MEMPERKENALKAN produk atau tempat usaha dengan menyebut usahanya ‘apa adanya’ sudah biasa dilakukan para pengusaha. Tapi beberapa orang rupanya punya gaya antimainstream untuk membuat tempat usahanya lebih diingat orang. Berikut liputannya.

Andy Hidayat bingung bukan kepalang. Usaha spare part motor dan bengkelnya di pinggir jalan Bertais tidak banyak ditoleh pelanggan. Padahal sudah hampir sebulan ia dengan setia membuka-tutup rolling door tempat usahanya. Kalau saja modal usaha itu sepenuhnya dari kantongnya, mungkin tidak mengapa. ”Ada sahabat yang mempercayakan modalnya untuk saya kelola buka bengkel,” tutur Andi di bengkel Start Motor.

Usahanya seperti gelembung kecil diantara buih. Sepanjang kawasan jalan itu memang sudah banyak bengkel yang lebih dulu memulai usaha. Sebagian besar mereka pun sudah memiliki pelanggan tetap di tempat itu. Atas dasar itu, mulanya ia sempat mengusulkan pada sahabatnya tidak membuka usaha bengkel. Tetapi sebaiknya, jual-beli smartphone. “Tapi yang punya modal maunya tetap bengkel,” tuturnya.

Temannya itu beralasan teknologi motor jauh lebih mudah dipelajari daripada smartphone. Sehingga sekembali ia suatu saat nanti dari Hongkong setelah jadi TKI, bisa melanjutkan usahanya itu. Kekhawatiran Andi mulai jadi momok nyata. Benar apa dugaannya. Sulit buka bengkel apalagi dengan modal ala kadarnya. Namun ia enggan mengeluhkan itu pada sahabatnya. Andy pun berkeliling kota hingga daerah lain. Tujuannya mencari inspirasi mengganti nama tempat usaha agar lebih diminati orang.

”Tentu saja ini tanggung jawab saya. Teman saya sudah mempercayakan modalnya. Saya harus jawab kepercayaanya dengan hasil terbaik,” ungkapnya. Sampai suatu ketika ia melihat ada iklan banner yang menurutnya cukup menjengkelkan. Iklan usaha itu ada di dekat bundaran jalur Lingkar Selatan. Iklan itu mempromosikan usaha jual beli smartphone dan aksesories.

”Di banner itu pemiliknya menulis jangan menoleh ke kiri,” tuturnya. Andy sadar itu bagian dari promosi yang dilakukan pengelola tempat usaha itu. Karena itu, saat pertama kali lewat di sana, ia benar-benar mengikuti arahan tulisan itu dengan tidak menoleh ke arah kiri. ”Promosinya kan larang menoleh ke kiri. Ya saya tidak menoleh,” celetuknya.

Ia merasa berhasil mengerjai pemilik tempat usaha. Dengan tidak terpancing ajakan aneh “tidak menoleh” yang sebenarnya berharap setiap orang yang melintas di sana ”menoleh.” Karena itu, beberpa kali Andy melewati tempat itu. Ia selalu berusaha menghindari melihat tempat usaha ini.

”Saya tahu. Pemiliknya mau kita melihat tempat usahanya. Ia sengaja memancing rasa penasaran dengan melarang setiap orang menoleh ke kiri,” duganya. Bagi Andy itu konsep promosi yang buruk. Tidak akan cocok ia pakai di bengkelnya. Bagaimana jika ternyata banyak orang yang akhirnya enggan datang, hanya karena cara promosi yang keliru itu?

”Tapi anehnya setiap kali ada kawan bertanya di mana sebaiknya beli smartphone atau aksesoris, yang terbayang justru tempat itu,” ujarnya. Andy akhirnya sadar. Rupanya di balik dongkolnya ia dengan konsep promo itu, hati kecilnya sangat ingin melihat-melihat tempat ini. Semakin ia lawan rasa penasaran, semakin kuat dorongan untuk melihat.

”Sampai saya sadar. Ini rupanya konsep promosi yang sebenarnya unik,” akunya sambil tertawa lebar.  Ia pun memutuskan ikut membuat banner serupa. Andy kemudian menulis di dua tempat. Satu bertuliskan larangan menoleh ke kiri. Satu lagi bertuliskan larangan menoleh ke kanan. Hasilnya cukup membuatnya tersenyum lebar.

”Banyak teman-teman saya yang biasanya ganti oli dan spare part di tempat lain akhirnya ganti oli di sini. Mereka bilang jengkel melihat tulisan ini,” ujarnya sembari tertawa lebar.  Sayangnya ia belum bisa menunjukan bannernya itu lagi. Satu bannernya hilang. Satu lagi ia duga dirusak dengan sengaja oleh seseorang. Sehingga yang tersisa cuma rangka saja. ”Tapi saya lagi pesan buat yang baru lagi,” akunya dengan semangat.

Cerita Andy mewakili banyak cerita tempat usaha dengan gaya promosi yang unik, kreatif, lucu, bahkan provokatif. Lihat saja misalnya branding Ayam Geprek dengan logo ayam bertampang bringas membawa pentungan. Outletnya hanya dalam waktu singkat sudah bertebaran di mana-mana. Baik yang asli ataupun KW.

”Lalu ada juga yang unik dan bikin saya terarik, seperti Telur Bebek Bingung,” tutur Abay Sasak desainner kenamaan Lombok. Abay mengaku sempat berhenti dan membeli Telur Bebek Bingung di jalan Prabu Rangkasari, Dasan Cermen, Mataram. Padahal ia tidak berniat sama sekali beli telur kala itu.

”Ya karena  penasaran, gimana sih rasanya Telur Bebek Bingung itu. Apa kalau kita makan langsung jadi kebingungan?” kelakarnya. Rupanya setelah dibeli, Telur Bebek Bingung itu hanya telur asin biasa. Tapi memang selain branding yang unik, Abay juga mengacungi jempol soal rasa. ”Ya lebih gurih dan lezat di sana,” pujinya.

Jika Anda termasuk yang rajin jalan-jalan lalu melewati jalur  Lingkar Selatan, di kawasan Karang Genteng, pasti juga pernah melihat satu tempat Laundry yang juga tergolong kreatif. Tempat Laundry itu sekilas seperti sedang mempromosikan sebuah produk smartphone. Itu dari tulisan putih dengan latar hijau yang sangat mirip.

”Tapi ternyata bukan smartphone yang dijual di sana. Dilihat lebih detail, bunyi tulisannya "MOPPO". Sepertinya moppo itu maksudnya mopoq yang kalau dalam Bahasa Sasak artinya mencuci,” imbuhnya. Yah. Apapun cara promosi dan branding tentu sah-sah saja. Selama tidak menyinggung orang atau usaha lain. Satu hal yang penting dari promosi yang unik dan kreatif itu adalah, para pengusaha sektor UKM sangat sadar pentingnya kekuatan branding untuk meningkatkan hasil usaha.”Apalagi kalau cara brandingnya bikin kita pengen ketawa, kan asyik dan seger,” tandansnya. (LALU MOHAMMAD ZAENUDIN, Mataram)


TOPIK BERITA TERKAIT: #boks 

Berita Terkait

Ketika Cukai Rokok untuk BPJS Kesehatan

Nasional

Bayi Satu Mata Lahir di Mandailing Natal

Nusantara

Mengunjungi Museum Lukisan Tertua di Bali (2-Habis)

Nasional

Hanya dengan Pejamkan Mata Lahir Karya

Nusantara

Kisah Avanza, Bayi Kembar Tiga yang Lahir di Mobil

Nusantara

IKLAN