Senin, 24 September 2018 04:46 WIB
pmk

Headline

Rupiah Terpuruk Rp 14.400, Perang Dagang AS-China Dimulai

Redaktur:

Ilustrasi. Foto: DOK INDOPOS

INDOPOS.CO.ID - Faktor eksternal seperti perang dagang AS-China, disebut-sebut menjadi faktor rupiah tertekan. Langkah Bank Indonesia (BI) yang menaikan suku bunga acuan  menjadi 5,25 persen, pada pada Jumat lalu (29/6) rupanya belum dapat mendongkrak nilai tukar mata uang garuda.

Berdasarkan situs resmi Bank Indonesia (BI), Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau Jisdor, kurs tengah rupiah pada Jumat (6/7) sudah mencapai Rp 14.409 per dollar. Dengan posisi jual Rp 14.481 dan beli Rp 14.337.

"Faktor utama pelemahan rupiah tentu gejolak eksternal, yakni perang dagang AS-China dan kebijakan The Fed yang cenderung terus menaikan tingkat suku bunga," ujar Direktur Lembaga Management  Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, Toto Pranoto, kepada INDOPOS, Jumat (6/7).  Hal tersebut menurutnya membuat permintaan akan dollar meningkat (over demand).  Sehingga posisinya terus menguat dan rupiah terus menurun. 

"Intervensi BI dengan meningkatkan suku bunga acuan keliatannya belum cukup efektif dalam mengerem laju depresiasi Rupiah," pungkas Toto.

Sementara,  Pengamat Ekonomi dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef)  Bhima Yudhistira bahkan memprediksi rupiah akan melemah hingga 14.700 pada akhir Juli. Menurutnya, posisi Indonesia dirugikan akibat perang dagang,  karena berada di bawah global supply chain sebagai negara pemasok bahan baku AS dan China. 

"Jika volume perdagangan dunia turun, imbasnya permintaan batubara, sawit, hingga karet akan anjlok. Belum ada perang dagang saja, dalam lima bulan terakhir ada empat  kali defisit perdagangan. Apalagi paska 6 Juli 2018 (dimulainya perang dagang AS-China), defisit perdagangan kita akan makin bengkak," jelas Bhima kepada INDOPOS, Jumat (6/7). 

Lebih lanjut Bhima mengatakan,  ada kaitan erat antara melemahnya ekspor dengan permintaan rupiah yang anjlok. Sementara dampak lain adalah Indonesia jadi target barang impor China. 

"Banjir impor membuat permintaan valas trutama dolar naik signfikan," jelasnya.

Selain perang dagang, melemahnya rupiah menurut Bhima karena  spekulasi terkait hasil rapat The Fed pada tanggal 31 Juli sampai 1 Agustus 2018.

"Jika melihat data-data ekonomi AS yang terus membaik sangat mungkin Fed akan kembali naikan bunga acuan 2 kali lagi tahun ini. Efeknya dana asing dari Indonesia kembali keluar mencari aset yang lebih aman," ujarnya.

Untuk meredam gejolak rupiah tentu ada solusinya. Menurut Bhima, permintaan rupiah berkaitan erat dengan lonjakan impor. Selain industri yang butuh bahan baku impor, penyebab impor bengkak adalah proyek infrastruktur yang sedang dikerjakan BUMN. 

"Indikasinya impor mesin dan mekanik tumbuh 31,9 persen year on year (yoy) selama Januari-Mei 2018. Impor mesin dan peralatan listrik naik 28,16 persen (yoy) dan besi baja 39 persen (yoy)," jelas Bhima.

Menurutnya, kalau mau mengurangi impor, kewajiban Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) proyek infrastruktur disarankan jadi 60-70 persen. Komitmen BUMN penting agar defisit perdagangan mengecil sehingga permintaan valas turun.

"Kalau impor BUMN nya diatur saya kira sudah cukup signifikan menguatkan rupiah. Atur impor BUMN dulu baru evaluasi impor swasta," ujar Bhima. 

Lebih lanjut ia menjelaskan, dari sisi moneter BI masih punya 1 kali lagi peluang untuk naikan bunga acuan 25 basis poin (bps).  

"Tentunya harus dibarengi dengan kebijakan fiskal seperti relaksasi perpajakan, agar daya tarik investor ke Indonesia meningkat," pungkasnya.

Untuk diketahui,  pada Jumat lalu  (29/6), BI memutuskan untuk menaikan suku bunga acuan  dari sebelumnya sebesar 4,75 persen menjadi 5,25 persen.

Keputusan yang berlaku mulai Jumat (29/6)  itu diumumkan langsung oleh Gubernur BI Perry Warjiyo, didampingi para Deputi Gubernur BI.

"Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 28-29 Juni 2018 memutuskan untuk menaikkan BI 7-day Reverse Repo Rate sebesar 50 bps menjadi 5,25 persen," ujar Perry di Komplek Perkantoran BI, Jumat (29/6).  Selain itu, BI juga memutuskan untuk 

menaikan suku bunga Deposit Facility sebesar 50 bps menjadi 4,50 persen, dan suku bunga Lending Facility sebesar 50 bps menjadi 6,00 persen.

Menurut Perry keputusan kenaikan suku bunga tersebut merupakan langkah lanjutan Bank Indonesia untuk secara pre-emptive, front-loading, dan ahead of the curve. Serta  menjaga daya saing pasar keuangan domestik terhadap 

perubahan kebijakan moneter sejumlah negara dan ketidakpastian pasar keuangan global yang masih tinggi. 

"Kebijakan tersebut tetap ditopang dengan kebijakan intervensi ganda di pasar valas dan di pasar Surat Berharga Negara. Serta strategi operasi moneter untuk menjaga kecukupan likuiditas khususnya di pasar uang Rupiah dan pasar swap antarbank," ujar Perry.

Jebolan Universitas Gadjah Mada (UGM) itu menambahkan, sejumlah kebijakan yang ditempuh  tersebut dapat memperkuat stabilitas ekonomi, khususnya stabilitas nilai tukar Rupiah. Menurutnya tekanan terhadap rupiah lebih banyak karena faktor eksternal. Seperti kenaikan Fed Fund Rate dan  dan volatilitas imbal hasil surat utang AS yang masih tinggi,  serta ketegangan hubungan dagang AS-Tiongkok. (dai)


TOPIK BERITA TERKAIT: #nilai-tukar-rupiah #rupiah-terpuruk 

Berita Terkait

Saving Rendah karena Ada Kebocoran

Headline

Jokowi Harus Jujur soal Kegagalan Ekonomi

Headline

Rupiah Mulai Menguat, Butuh Kritik Mahasiswa

Headline

IKLAN