Jumat, 16 November 2018 12:49 WIB
pmk

Nusantara

Ernest Suhardi, Siswa SMA Kanisius yang Meninggal di Bali 

Redaktur:

Ernest Suhardi.

BEBERAPA hari lalu sempat beredar pesan kabar dukacita, soal meninggalnya siswa SMA Kanisius, Ernest Suhardi. Ia disebut meninggal saat berfoto di tebing, di Bali. Namun kabar ini sempat dianggap kabar bohong (hoax), karena disertai video yang ternyata seorang remaja di China. Namun belakangan, ternyata kabar meninggalnya Ernest adalah benar adanya. Ernest dikenal punya sejumlah keistimewaan. Berikut ceritanya;

NASUHA, JAKARTA

INDOPOS.CO.ID - Berita dukacita. Telah meninggal dunia, Ernest Suhardi, siswa kelas XI, hari Minggu 1 juli 2018 di Bali. Meninggal akibat kecelakaan terpeleset saat sedang mengambil foto di tebing. Anak Kanisius. Juara Umum , dan anak Tunggal.

Demikian pesan yang tersebar di grup Whatsapp (Wag). Belakangan, kabar itu dibantah keluarga Ernest. Benar putra mereka meninggal, namun bukan karena foto di tebing, apalagi swafoto.

Orangtua mana yang rela kehilangan buah hatinya. Bak peribahasa ‘kasih ibu sepanjang masa, kasih anak sepanjang jalan’. Ungkapan tersebut tepat untuk melukiskan kesedihan Yanri (46). Ibu yang dikarunia dua orang anak tersebut harus rela kehilangan Ernest (16), putera bungsunya. Duka yang mendalam masih dirasakan Yanri, saat INDOPOS berkesempatan bincang-bincang bersamanya, Jumat (6/7).

“Saya masih sangat berduka dan kehilangan putera saya. Begitu cepat dan tidak menyangka musibah itu bakal merenggut nyawa Ernest,” ujar Yanri kepada INDOPOS, Jumat (6/7).

Yanri yang begitu menyayangi Ernest harus kehilangan dua kali. Sejak Ernest duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) ia sudah berpisah dari Ernest. Semua, menurutnya untuk kebaikan dan kesuksesan Ernest.

“ Sejak lulus SD, ia tinggal bersama Om dan tantenya di Jakarta. Sekolahnya kan di Jakarta,” terangnya.

Usai lulus Sekolah Dasar (SD) di Pangudi Luhur, menurut Yanri, Ernest melanjutnya pendidikan di Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kanisius, Jakarta. Niat keluarga untuk menyekolahkan Ernest di Jakarta sudah bulat. Karena, dikatakan Yanri, mereka (orangtua) ingin melihat Ernest sukses dan berhasil.

“Kami ingin Ernest di lingkungan barunya bisa menemukan ilmu pengetahuan yang lebih luas. Ia juga bisa bergaul dengan lingkungannya,” katanya.

Dengan mengenal dunia luar, masih ujar Yanri dapat mendidik Ernest menjadi sosok yang tidak sombong. Karena, ia akan lebih merasakan bagaimana arti sebuah persaingan. Karena di dunia luar banyak ditemukan orang-orang yang lebih hebat.

“ Dulu kami khawatir Ernest menjadi orang yang sombong. Karena ia ketika SD selalu menjadi yang terbaik. Maka kami sepakat Ernest kami sekolahkan di Jakarta, agar ia melihat dunia luar,” bebernya.

Keinginan Yanri dan keluarga benar-benar terjadi. Dengan kemampuan yang dimiliki Ernest tetap menjadi yang terbaik di Kolese Kanisius. Namun, di sana, menurut Yanri ia mendapat pesaing yang cukup tangguh.

Menurut Yanri, saat duduk di SMP, prestasi Ernest terbilang cemerlang. Ia kerap mendapatkan peringat 1 atau peringat 2. Bahkan saat kelulusan SMP, Ernest menyandang predikat terbaik umum. “ Mimpinya dari kecil tidak muluk-muluk, hanya ingin kuliah di ITB,” katanya.

Yanri menjelaskan, dengan kemampuan dan kecerdasan yang dimilikinya tidak membuat Ernest menjadi sombong. Bahkan , ia memperhatikan teman-temannya dengan memberikan jawaban di setiap ada masalah di pendidikan.

“ Ya, sehari-hari kalau teman-temannya kesulitan, ia selalu membantu dengan belajar kelompok,” ujarnya.

Lebih jauh Yanri mengatakan, menjadi sosok periang dan lincah Ernest memiliki kelebihan di bidang komputer. Hobinya bermain komputer diperlihatkan saat ia duduk di awal SMP. Bahkan, saat belajar ia pun banyak bertanya dan belajar dari keluarga dan teman-teman seusianya.

“Ya biasanya teman-temannya suka datang, jadi belajar komputer bareng aja. Dari bakat ini kami terus dukung keinginan Ernest,” ujarnya.

Bagi sosok Ernest, menurut Yanri aktif menjadi pengurus kelas bukanlah beban. Ernest sejak SD, SMP dan SMA sering menjadi pengurus kelas, seperti ketua kelas dan sekretaris.

Yanri menyebutkan, Ernest adalah sosok anak yang penurut dan cerdas. Tabiatnya yang baik tersebut terlihat saat ia pergi bersama keluarga. Tanpa diperintah, Ernest selalu membantu membawa tas dan koper.

“ Ya begitu, anaknya aktif dan mau disuruh-suruh. Kalau pergi paling depan ia bawakan tas dan koper,” ungkap Yanri.

Seperti layaknya anak-anak seusianya, dituturkan Yanri Ernest sosok yang pendiam dan suka bermain. Tidak sedikit untuk menghibur teman-teman atau keluarganya ia suka iseng. “ Ya kalau bandel, sih masih wajar-wajar saja,” ujarnya.

Hari-hari indah Yanri bersama putera bungsunya harus berakhir. Ernest yang ketika itu berwisata ke Bali bersama keluarga mendapatkan musibah, hingga merenggut nyawanya. Menurut Yanri, rencananya ia bersama keluarga ingin menghabiskan waktu libur sekolah hingga 8 Juli nanti. Namun nahas, baru 1 malam di Bali, Ernest harus dipanggil oleh Tuhan.

“ Karena libur sekolah saya ingin ajak anak-anak refreshing di Bali. Ya buat kumpul keluarga, kan sekolah anak-anak capek,” katanya.

Yanri mengaku, hari itu saat terjadi musibah tidak merasa ada firasat atau pertanda sesuai, akan kepergian Ernest. Saat musibah itu terjadi, keluarga tidak khawatir, karena memang lokasi tidak membahayakan. “ Ya kalau menurut hitungan itu tidak bahaya sih, tapi kan namanya musibah kita tidak tahu ya,” pungkasnya. (*)

 


TOPIK BERITA TERKAIT: #boks #feature 

Berita Terkait

IKLAN