Sabtu, 22 September 2018 10:33 WIB
pmk

Piala Dunia 2018

John Stones: Tidak Curang, Kami Ini Hanya Cerdas!

Redaktur:

Bek Tim Nasional Inggris John Stones.

INDOPOS.CO.ID - Gareth Southgate mendapatkan pujian karena keberaniannya dalam melakukan revolusi taktik permainan Inggris. Bertahun-tahun memakai pola empat bek, Southgate bersama sang mastermind Steve Holland merancang strategi tiga bek dan memakainya pada Piala Dunia 2018.

Holland bukan anak kemarin sore dalam strategi tiga bek ini. Dia adalah mantan asisten Antonio Conte yang terlibat sangat intens dalam merancang taktik Chelsea ketika tim tersebut menjadi juara Premier League 2016-2017.

Southgate juga bukan orang baru dalam permainan ini. Dia adalah satu dari tiga bek tengah Inggris ketika tim itu dilatih Terry Venables (1996) dan Glenn Hoddle (1998). Pemilihan Kyle Walker sebagai bek tengah utama Inggris pada Piala Dunia 2018, sangat terinspirasi oleh langkah Hoddle menjadikan Gary Neville sebagai starter di Piala Dunia 1998. Padahal, kedua pemain tersebut berposisi asli sebagai fullback kanan.

Bersama John Stones dan Harry Maguire, Walker menjadikan lini pertahanan Inggris menjadi senjata krusial dalam mengontrol permainan dan memulai penyerangan. Kemarin WIB, Wartawan Jawa Pos Ainur Rohman beruntung bisa mendengar dan berbicara langsung dengan John Stones, pemain paling penting dalam formasi tiga bek Inggris saat ini.

Stones yang sudah mencetak dua gol di Piala Dunia 2018 mengaku tidak lagi canggung dalam membangun serangan. Sebab, dia sudah terbiasa melaksanakan tugasnya tersebut di bawah arahan Pep Guardiola di Manchester City. Berikut petikan wawancaranya.  

Untuk kali pertama dalam sejarah, Inggris akhirnya menang dalam adu penalti di Piala Dunia. Bagaimana kesanmu setelah mengalahkan Kolombia?

Pertama, game itu sangat aneh. Mereka mungkin adalah tim terkotor yang pernah saya hadapi. Ketika kami mendapatkan penalti pada babak kedua, mereka mengerubuti dan mendorong wasit. Ada juga tandukan (Wilmar Barrios kepada Jordan Henderson) yang kamu lihat itu, lalu ada pemain yang merusak titik penalti, dan ada juga seorang staff pelatih mereka yang mendorong Raheem (Sterling) di lorong pemain. Ada banyak hal di luar lapangan yang mungkin belum banyak kamu dengar. Namun, kami menunjukkan karakter yang kuat, tetap dingin dan tidak terbawa arus yang mereka ciptakan. Kami melawan tim yang hanya ingin berkelahi dan merusak memonemtum. Namun kami bisa melalui semua itu. Kami lolos dan kami sangat bangga atas pencapaian tersebut.   

Saat eksekusi Eric Dier memastikan kemenangan Inggris, ada sebuah foto yang memperlihatkan kamu berteriak kegirangan tepat di muka Wilmar Barrios. Benarkah demikian?

(Tersenyum). Ah, itu tidak benar. Waktu itu, saya hanya berteriak ke arah bench. Namun jujur ketika itu saya sangat lega dan gembira. Sebagai tim, mungkin kami tidak berpengalaman. Namun, ternyata kami bisa mengatasi tekanan. Mengalahkan Kolombia, tim yang memperlakukan kami dengan sangat keras dalam permainan sepak bola adalah hal yang terbaik yang bisa kami lakukan. Pada akhirnya, kami masih di sini dan mereka terbang pulang ke rumah.       

Di perempat final, Inggris akan melawan Swedia. Penasehat tim Swedia Tom Prahl mengatakan pertahanan kalian lambat dan mudah ditembus. Bagaimana kamu memandang Swedia. Mereka bukan favorit di sini dan bagi Inggris, pertandingan ini harusnya lebih mudah.

Pertama kami tidak akan terpancing dengan perang urat syaraf mereka. Kami akan fokus pada diri kami sendiri. Lalu, bodoh sekali kalau mengatakan pertandingan di perempat final Piala Dunia adalah game yang mudah. Mereka tim berkualitas dan sudah melalui banyak hal untuk sampai di sini. Mereka bermain dengan stuktur yang kukuh dan rapi di belakang. Jadi, kami akan respek kepada mereka, seperti yang kami lakukan kepada tim lainnya. Dalam beberapa hari ini, kami terus melakukan riset dan mempelajari permainan Swedia. Kami akan berusaha mengambil peluang dan melaju ke semifinal.   

Bagaimana pandanganmu soal Gareth Southgate. Apa kelebihan dia?  

Pertama dan paling utama adalah dia adalah orang yang tulus. Saya yakin kamu juga akan mengatakan hal yang sama tentang dia. Dia adalah jenis orang yang cerdas dan paham benar apa itu sepak bola. Dia tahu apa yang dia bicarakan dan mendorong kami untuk rileks dalam menghadapi tekanan.  Dia membawa banyak ide ketika kali pertama datang dua tahun lalu. Dan kami mulai melihat hasilnya. Semangat tim ini meningkat. Kami juga lebih lapar. Kami terus berlatih dan berusaha menjadi kuat dari hari ke hari. Memang itu butuh waktu, namun bagi saya dia adalah manajer yang baik dan sosok manusia yang juga baik.

Banyak orang termasuk Jose Mourinho menuduh Inggris sebagai tim yang banyak akting untuk mendapatkan keuntungan. Bagaimana tanggapanmu soal itu?  

Yang benar itu kami lebih cerdas dalam mencari dan memanfaatkan peluang. Sepak bola berubah dari waktu ke waktu. Yang jelas berbeda dibandingkan empat tahun lalu. Anak-anak tahu itu dan mereka memang berusaha mencari smart foul. Dan menurut saya, itu adalah cara bermain yang cerdas. Saya sering berhadapan melawan pemain pintar yang memanfaatkan posisi badan dan bola untuk mendapatkan keuntungan pelanggaran dari saya. Saya bisa mengatakan bahwa kami ini pintar, memiliki otak sepak bola yang encer, tanpa bisa dituding berbuat curang atau diving. Smart foul dan curang itu adalah hal yang berbeda.    

Fans Inggris sekarang sangat menggila. Mereka optimistis dengan lagu Football’s coming home yang heboh lagi itu. Kamu sempat mendengarkannya?

Tentu saja. Anak-anak menunjukkannya kepada saya. Di rumah, keluarga dan teman-teman saya sangat optimistis kami bisa menciptakan sejarah. Saya akan bangga sekali kalau bisa juara dunia dan kami akan mencoba melakukannya. Sudah lama sekali kami tidak menang dan kami ingin membuat rakyat Inggris bangga. Mimpi itu ada di sini dan kami akan berusaha mencapainya. Mengapa tidak?     

Bagaimana dampak Pep Guardiola kepada permainanmu. Apakah kamu sempat berbicara kepadanya sebelum turnamen?

Ya, dia sempat mendoakan saya untuk beruntung. Pep mengajarkan banyak hal kepada saya. Dan saya akan berusaha membawa apa yang dia ajarkan itu terutama keberanian menguasai bola ke dalam Tim Nasional Inggris. Jujur, saya tidak akan berada di sini kalau bukan karena bimbingannya dalam dua tahun terakhir. Dia meningkatkan kualitas saya sebagai pemain dan juga sebagai manusia. Jika kamu memperhatikan, sejak Natal tahun lalu, saya merasa permainan saya improve. Dan itu karena bantuannya. Pep adalah pelatih yang mengajarkan pengetahuan sepak bola dengan cara sesimpel mungkin. Dia ingin memastikan kami tidak overload dalam hal informasi. Dan itu penting sekali bagi saya. (*)

 

 


TOPIK BERITA TERKAIT: #john-stones #timnas-inggris #piala-dunia-2018 

Berita Terkait

IKLAN