Selasa, 17 Juli 2018 10:46 WIB
bjb juli

Nusantara

Gawat Gunung Allakuang di Sulsel Nyaris Lenyap

Redaktur: Juni Armanto

PERLU DISELAMATKAN-Suasana Gunung Allakuang di Kabupaten Sidrap, Sulsel yang terus dieksploitasi habis-habisan. Foto : Taufik Hasyim/Fajar/JPG

INDOPOS.CO.ID - Keberadaan Gunung Allakuang yang terletak di Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan (Sulsel) nyaris lenyap ditelan bumi. Ini akibat eksploitasi habis-habisan oleh sekelompok pemilik modal yang melakukan pertambangan di gunung tersebut.

Tokoh masyarakat Sidrap, Aris Asnawi mengatakan, eksploitasi Gunung Allakuang secara besar-besaran murni kesalahan pemerintah. Ada pembiaran sejak puluhan tahun. Kini, kondisi Gunung Allakuang sudah memprihatinkan.

"Mungkin tidak cukup 10 tahun, ikon Allakuang itu akan rata dengan tanah. Jadi, eksploitasi ini sudah harus disetop. Pemda jangan lagi tutup mata. Tambang-tambang ini ilegal," tuturnya kepada Harian FAJAR (JPG), Minggu, (8/7).

Aris menambahkan, Gunung Allakuang kini tak lagi jadi berkah bagi warga sekitar. Semua sumber daya alam di kawasan Gunung Allakuang sudah dicaplok dan dikuasai segelintir pemilik modal. Batu dan timbunan ditambang dan diangkut keluar Sidrap.

"Usaha cobek dan batu nisan sisa segelintir warga yang jalankan. Batu-batunya sudah diangkut keluar si pemilik modal," keluh Pengurus Pusat Ikatan Kekerabatan Masyarakat (IKM) Sidrap ini.

Warga lanjut Aris, kini sisa menikmati debu. Imbas dari pabrik batu yang banyak dibangun. Debu dari puluhan truk yang lalu lalang setiap saat mengangkut potongan batu dan tanah timbunan. Gunung Allakuang tak lagi sama seperti dahulu. "Kasihan warga sisa makan debu. Padahal tak baik bagi kesehatan. Sekali lagi, pemerintah tidak boleh diam," tegasnya.

Salah seorang warga Allakuang, Amir menuturkan, sebagian besar warga Allakuang sebenarnya prihatin. Namun tidak berani bertindak, karena Gunung Allakuang dieksploitasi warga lokal yang mengklaim sebagai pemilik gunung. "Di kawasan Gunung Allakuang ini ada dua gunung batu. Salah satunya nyaris habis," bebernya.

Kata Amir, kawasan Gunung Allakuang dikuasai belasan orang yang mengklaim sebagai pemilik. Namun banyak pemilik yang menjual bagian gunung miliknya, kepada salah satu pengusaha ternama Allakuang, Haji Faisal. Dia memperkirakan sisa kawasan Gunung Allakuang diklaim sedikitnya enam orang. "Bisa dibilang 80 persen kawasan Gunung Allakuang dikuasai Haji Faisal. Dia warga di sini," bebernya.

Amir menambahkan, kawasan Gunung Allakuang kini sangat memprihatinkan. Selain batunya ditambang, tanah bekas galian juga dijual sebagai timbunan. Bahkan gunung batu ini ditambang dengan alat serba modern. "Sudah menggunakan mesin breaker hidrolik. Alat khusus pemecah batu yang dikontrol pakai excavator. Ini membuat gunung batu hampir habis," keluhnya.

Batu gunung yang ditambang juga tak banyak dinikmati warga. Kata Amir, potongan-potongan batu yang sudah dipecah diangkut truk bergiliran. Ini dijual ke luar Sidrap. Terutama ke pengusaha properti dan para pemilik proyek besar. "Batunya sangat cocok untuk fondasi bangunan. Makanya banyak yang cari ke sini. Banyak dijual ke Sengkang, Siwa dan daerah lain. Termasuk ke proyek-proyek pemerintah," bebernya.

Pantauan di lokasi, gunung utama masih ditambang warga dengan cara tradisional. Peralatannya sederhana. Bermodal linggis, tali-temali, mereka memecah bongkahan batu.

Sementara gunung batu yang lain, posisinya sedikit lebih rendah sehingga tak terlihat dari jalan poros Sidrap-Soppeng. Namun di kaki gunungnya, bunyi mesin breaker tak berhenti menghantam gunung, menambang batu. Dari informasi salah satu pekerja tambang, bongkahan batu gunung dijual kadang Rp 200 ribu per truk. Keuntungannya dibagi dua. Pemilik modal mendapat Rp 140 ribu, sedangkan pekerja mendapat upah Rp 60 ribu.

Direktur Eksekutif Walhi Sulsel, Muhammad Al Amin menyayangkan sikap Pemkab Sidrap yang tidak tegas. Kata dia, keberadaan tambang ini sudah harus ditinjau ulang. Apalagi sudah merusak kawasan alam sekitar yang dahulu hijau. "Sebaiknya ini dihentikan. Apalagi kami juga tak mendapatkan dokumen izin lingkungannya," tegasnya.

Sayangnya, Haji Faisal yang dikonfirmasi terkait masifnya penambangan batu di Gunung Allakuang. Namun, dia tak merespons panggilan telepon. Konfirmasi sebelumnya,  Faisal mengaku heran dengan banyaknya protes terkait penambangan batu gunung. Apalagi ada pihak yang ingin membenturkan bisnisnya dengan warga. Padahal aktivitas penambangan sudah jadi mata pencarian warga. "Siapa yang melarang-larang. Ke lokasi  kalau berani. Saya tampar!" tantangnya.

Faisal mengklaim kawasan Gunung Allakuang di Kecamatan Maritengngae merupakan miliknya. Penambang tak perlu mengurus izin ke pemerintah. Dia berdalih justru banyak warga sekitar hidup dari aktivitas penambangan di gunung. "Itu saya yang punya. Tidak perlu orang-orang luar berkoar-koar. Tidak usah banyak bicara," ketusnya sambil memutus pembicaraan. (fik/rif/jpg)

 


TOPIK BERITA TERKAIT: #gunung-allakuang #eksploitasi-pertambangan 

Berita Terkait

IKLAN