Minggu, 18 November 2018 06:55 WIB
pmk

Headline

Setelah Pemodal, Giliran Eksportir Ketar-Ketir

Redaktur:

Ilustrasi.

INDOPOS.CO.ID - Setelah pemodal di pasar uang dan pasar saham, serta perusahaan yang membutuhkan dolar untuk kegiatan usahanya bergejolak akibat penguatan dolar, kini giliran para eksportir ketar-ketir. Hal itu menyusul  rencana Pemerintah Amerika Serikat (AS) yang akan meninjau kembali fasilitas bebas bea masuk atau Generalized System of Preferens (GSP) kepada sejumlah negara. Termasuk Indonesia. 

Untuk diketahui, AS merupakah salah satu negara tujuan ekspor. Neraca perdagangan Indonesia mengalami surplus sekitar USD 9,5 miliar. Karena itu, rencana mereview GSP dikhawatirkan dapat menghambat daya saing produk ekspor.

Selain itu, perang dagang AS-China juga dikhawatirkan membuat Indonesia kebanjiran produk impor. 

Terkait hal itu tersebut, Presiden Joko Widodo (Jokowi), Senin (9/7) hari ini, rencananya membahas hal itu secara khusus dengan para pembantunya. 

Adapun Kementerian Perdagangan (Kemendag) juga langsung bergerak cepat mengantisipasi hal itu. Yakni dengan memprioritaskan negoisasi.

"Tim dari Kementerian Perdagangan akan ke Amerika Serikat dalam waktu dekat ini. Untuk melakukan negoisasi," ujar Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Oke Nurwan, kepada INDOPOS, Minggu (8/7).

Sementara itu, Direktur Riset  Center of Reform on Economy (CORE) Indonesia, Pieter Abdullah mengatakan, rencana Presiden Amerika Donald Trump  mereview fasilitas khusus GSP untuk produk-produk ekspor Indonesia akan berdampak negatif terhadap neraca perdagangan yang selama semester 1 ini hampir selalu negatif, kecuali bulan Maret. 

Menurutnya, GSP merupakan kebijakan AS berupa pembebasan tarif bea masuk terhadap impor barang-barang tertentu dari negara-negara berkembang. Rencana Amerika untuk menerapkan bea masuk ke semua mitra dagang tidak hanya negara besar tetapi juga negara berkembang, akan memicu perang dagang secara global. 

Yang artinya negara berkembang seperti Indonesia akan terkena dampak dua kali. Ibaratnya sudah jatuh tertimpa tangga. 

"Pertama permintaan global atas produk Indonesia akan jatuh akibat perang dagang. Kedua, ditengah permintaan global yang menurun, ada tambahan tarif dari Amerika," ujar Pieter.

Menurutnya, pemerintah harus benar-benar berupaya  mencari solusi agar produksi nasional tidak terlalu jatuh. Ada sejumlah solusi yang dapat dilakukan.

"Saya berpendapat di tengah ancaman menurunnya permintaan global akibat perang dagang, satu-satunya jalan mencegah jatuhnya produksi nasional adalah meningkatkan permintaan domestik," jelas Pieter.

Namun sayangnya,  kebijakan BI justru meningkatkan suku bunga. Memang ada pelonggaran atau relaksasi kebijakan LTV (loan to value)  mendorong sektor perumahan.

Tetapi hal itu menurut Pieter  tidak cukup untuk meningkatkan domestik demand. Artinya, harus ada tambahan kebijakan pelonggaran likuiditas dari BI.

Di sisi pemerintah juga harus diciptakan stimulus-stimulus fiskal yang mendorong peningkatan daya beli masyarakat.

Penguatan domestik demand sekaligus merupakan solusi buat industri nasional ditengah terus melemahnya rupiah dan penurunan global demand," pungkasnya.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) bidang ESDM Sammy Hamzah, mengatakan faktor eksternal menjadi perhatian pengusaha. Seperti nilai tukar rupiah yang terus melemah.

"Harusnya hal itu dapat mendongkrak ekspor. Namun tidak terjadi, neraca perdagangan kita masih defisit," ujarnya Minggu (8/7).

Berdasarkan data  Badan Pusat Statistik (BPS) pada Mei 2018 mengalami defisit sebesar USD1,52 miliar. Pada bulan April 2018, juga defisit USD1,63 miliar. Defisit perdagangan sebagian besar disumbang dari sektor migas. 

Lebih lanjut Sammy mengatakan, pelemahan nilai tukar mata uang, sebenarnya juga dialami hampir semua negara. Bahkan sejumlah negara pelemahan mata uangnya terhadap USD lebih besar.

"Kalau kita masih dalam taraf yang wajar," ujarnya. Namun pihaknya berharap rupiah tidak terus bergejolak. Sehingga ada kepastian buat industri.

"Khususnya industri yang banyak memakai bahan baku impor untuk kegiatan produksinya," pungkasnya. (dai)

 


TOPIK BERITA TERKAIT: #eksportir #perang-dagang-as-china 

Berita Terkait

IKLAN