Selasa, 20 November 2018 01:06 WIB
pmk

Nasional

P3M dan Rumah Kebangsaan Sebut 41 Masjid Negara Terindikasi Radikal

Redaktur:

Ilustrasi.

INDOPOS.CO.ID - Hanya melakukan pemantauan selama 4 kali Jumat, Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyakarakat (P3M) Rumah Kebangsaan merilis hasil yang mereka sebut sebagai survey.

Mereka menyebutkan, dari 100 masjid di lingkungan kementerian, lembaga, dan BUMN, sebanyak 41 masjid negara, terindikasi menyebarkan paham radikal.

“Pengambilan sampel dilakukan dengan cara, seorang relawan merekam materi khutbah dan mengambil gambar brosur, bulletin, dan bahan bacaan lain di masjid tersebut. Semua materi itu lantas diolah,” kata Ketua Dewan Pengawas P3M Agus Muhammad, kepada wartawan, di kantor PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat.

Minggu (8/7).

Dikatakan, survei itu menyasar 37 masjid BUMN, 28 masjid Lembaga, dan 35 masjid di kementerian. Survey dilakukan setiap Jumat selama empat minggu, dari tanggal 29 September hingga 21 Oktober 2017

Ketentuan radikal itu, kata Agus, diterjemahkan dalam enam aspek. Yakni, pandangan sikap atau perilaku yang cenderung menganggap kelompok paling benar dan kelompok lain salah. Selain itu mudah mengkafirkan kelompok lain.

Tidak bisa menerima perbedaan, baik perbedaan yang berbasis etnis, agama maupun budaya. Juga cenderung memaksakan keyakinannya pada orang lain. Bahkan, menganggap demokrasi termasuk demokrasi Pancasila sebagai produk kafir. Yang termasuk radikal juga membolehkan cara-cara kekerasan atas nama agama.

Disebutkan, dari 41 masjid yang terindikasi radikal itu 21 masjid di BUMN, 12 masjid di Kementerian, dan 8 Masjid di Lembaga. Tingkat radikal lantas dinilai berdasarkan kategori mulai dari rendah, sedang, dan tinggi.

 “Rendah artinya secara umum cukup moderat tetapi berpotensi radikal. Misalnya, dalam konteks intoleransi, khatib tidak setuju tindakan intoleran, tetapi memaklumi jika terjadi intoleransi,” kata Agus yang menjadi koordinator penelitian tersebut.

Sedangkan dalam kategori sedang, radikalismenya cenderung tinggi. Misalnya, dalam konteks intoleransi, khatib setuju. Tapi tidak sampai memprovokasi jamaah untuk bertindak intoleran. ”Sedangkan kategori Tinggi adalah level tertinggi di mana khatib bukan sekadar setuju, tetapi juga memprovokasi umat agar melakukan tindakan intoleran,” ujar dia.

Namun, Sekretaris P3M Sarmidi Husna ‘mementahkan’ penjelasan Agus. Menurut dia, penelitian tersebut masih sebatas indikasi. Sehingga belum sepenuhnya mencermintkan realitas sebenarnya.

”Bisa jadi masjid-masjid yang terindikasi radikal tersebut sesungguhnya moderat, karena yang dianalisis hanyalah khutbah jumat. Tapi temuan ini juga bisa dibaca sebaliknya. Fakta yang sesungguhnya lebih radikal dari temuan lapangan,” imbuh Sarmidi.

Dia menuturkan, penelitian tersebut tentu perlu kajian yang lebih mendalam dan spesifik lagi. Sehingga hasil penelitian berikutnya bisa lebih komprehensif memotret kondisi masjid yang ada di lingkungan kementerian, lembaga, dan BUMN. ”Itulah sebabnya survey ini perlu didalami untuk mendapatkan fakta yang lebih empiris,” tambah dia. Nah, loh?! (jun/jpg)


TOPIK BERITA TERKAIT: #boks #feature 

Berita Terkait

IKLAN