Selasa, 17 Juli 2018 10:48 WIB
bjb juli

Headline

Demokrat Yakin Prabowo-AHY, Anies Tolak Bicara

Redaktur:

Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan.

INDOPOS.CO.ID - Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan yang namanya semakin menguat sebagai calon presiden (capres), malah menghindar bicara soal pesta demokrasi lima tahunan itu. Menurut Anies, jika ia bicara soal capres, ibarat orang salat sebelum azan.

"Urusan capres dan lain-lain itu tanyanya pada pimpinan partai aja. Kalau tanyanya tentang air Jakarta, saya jawab. Kalau tentang Asian Games, saya jawab. Terus, kalau tanya tentang industri, saya jawab. Kalau pilpres, nggak ada dalam tupoksinya gubernur itu," kata Anies yang dicegat wartawan di Balai Kota DKI Jakarta, Senin (9/7).

Eks Mendikbud itu hanya melempar senyum hingga menggelengkan kepala saat ditanya kesediaan atau kesiapannya maju di pilpres 2019. Dalam beberapa kesempatan ia selalu lebih memilih kata 'no comment'.

"Thank you, cukup ya," ujar Anies.

Pemimpin warga Jakarta ini menyatakan, dirinya saat ini hanya ingin fokus pada pembangunan DKI. Untuk urusan Pilpres 2019, ia menyarankan agar mengkonfirmasikannya ke para pimpinan parpol.

Ia pun disinggung soal road show nya ke sejumlah pimpinan dan elit parpol. Mulai dari Jusuf Kalla, Zulkifli Hasan hingga Prabowo Subianto. Kamis 5 Juli 2018 lalu, suami Fery Farhati Ganis itu menandangi Gedung MPR RI, menemui Ketua MPR sekaligus Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Zulkifli Hasan. Meski mengaku tak banyak membicarakan soal politik, disinyalir pembahasan mengenai mencuatnya nama Anies di lingkaran capres-cawapres tetap ada.

"Kalau pun menanyakan (soal capres-cawapres), masa saya (mau) katakan. (Ada pertanyaan capres ya?) enggak-enggak, beliau (Zulhas) nggak sampai ke situ," papar Anies usai bertemu Zulhas.

Lantas, apakah Anies siap jika diminta parpol untuk maju? “Gini, jangan salat sebelum azan dimulai. Belum ada azan kok udah salat, gitu ya," jawabnya.

Dalam kesempatan itu pula, Anies membantah dirinya sering bertemu Jusuf Kalla untuk memuluskan langkahnya menapaki jejak gubernur DKI sebelumnya, Jokowi, yang langsung hengkang dari Balai Kota ke Istana Negara. Kata Anies, pertemuan-pertemuannya hanya bersifat reguler saja.

"Ini saya reguler aja. Seperti sekarang dengan Pak Zul, ada pertemuan. Dengan Pak JK juga seperti ada pertemuan. Seperti kemarin misalnya, kita ada acara pagi Dekranas di rumah beliau. Setelah itu sarapan bersama-sama terus berangkat ke kantor PP Muhammadiyah. Inteprestasinya aja agak panjang," paparnya.

Dengan pembimbing politiknya, Prabowo Subianto, Anies juga disebut-sebut telah menemuinya untuk meminta pertimbangan menjadi cawapres Prabowo. Hal ini sebagaimana diungkapkan Waketum Gerindra, Ferry Juliantono.

"Pak Anies Baswedan, beliau menemui Pak Prabowo untuk mendapatkan kebijaksanaan apakah diperkenankan maju mengikuti kontestasi di Pilpres," kata Ferry kepada wartawan di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (7/7)

Hal itu langsung ditepis Anies dengan menyebutnya sebagai dongeng belaka. "Enggak benar. Saya nggak tahu tuh dongeng darimana itu," katanya, Senin (9/7).

Meski begitu, Anies juga sempat menyatakan, dirinya menyerahkan keputusan keikutsertaannya dalam Pilpres 2019 kepada Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto, Ketua Majelis Syuro PKS Habib Salim Segaf Al Jufri, dan Ketum PAN Zulkifli Hasan. Hal itu sama seperti yang terjadi ketika dirinya maju saat Pilkada DKI 2017.

"Saya nggak bisa menentukan apa-apa. Yang menentukan adalah Pak Prabowo, Pak Salim, dan Pak Zulkifli Hasan. Merekalah yang menentukan. Kita lihat nanti," tutur ayah Mutiara Annisa itu.

Gerindra Tinggalkan Anies, Dekati AHY

Terpisah, Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon menyatakan, skenario Prabowo - Anies belum pernah dibahas secara formal dalam internal partainya. Menurutnya, duet itu baru sekedar usulan-usulan para kader dibawah.

"(Peluang Anies) sebagai capres saya kira nggak ada ya memang pembicaraan itu.  Kalau sebagai cawapres memang ada yang mengusulkan gitu," tandas Fadli di Kompleks Parlemen Senayan, Senin (9/7).

Fadli menegaskan, dalam koalisinya bersama PKS dan PAN, beberapa nama masih dilakukan penggodokan sampai nanti ada titik temu mencapai mufakat. Maka dari itu, ia menekankan semua pihak harus terlibat duduk bersama, termasuk dengan Partai Demokrat yang pada Jumat (6/7) lalu, Waketumnya Syarief Hasan telah menemui Prabowo yang dikabarkan membuka peluang duet Prabowo - AHY.

Fadli mengatakan, kendati belum ada kepastian, namun penjajakan telah dilakukan dan waktu untuk menjalin ke arah koalisi Gerindra - Demokrat masih panjang. "Baru ketemu Pak Syarief Hasan," katanya.

Sementara itu, menurut Syarief Hasan, lawatannya ke Kertanegara dalam rangka mengkonfirmasi ketertarikan Mantan Danjen Kopassus itu terhadap koalisi bersama.

"Di situ Pak Prabowo dengan tegas mengatakan, siap untuk berkoalisi dengan Partai Demokrat dan siap menerima Mas AHY sebagai calon wakil presiden," paparnya.

Syarief menegaskan, wacana tersebut direspon dengan apik oleh Ketua Umumnya, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Bahkan, SBY akan segera mendiskusikannya dalam majelis tinggi partai.

"Jadi Insya Allah dalam beberapa hari ini Pak SBY akan membuat keputusan berdasarkan rekomendasi dari majelis tinggi," tandasnya.

Menurutnya, partai berlambang mercy itu juga tak masalah jika berkoalisi dengan PKS dan PAN. Kata Syarief, partainya sudah terbiasa berkoalisi dengan rujukan pernah sama-sama di pemerintah selama 10 Tahun.

"Jadi tidak ada masalah komunikasi kami dengan pimpinan partai-partai itu. Sangat bagus sekali dan tetap berlangsung dengan baik. Mudah-mudahan pasangan ini (Prabowo - AHY) bisa diterima baik oleh teman-teman koalisi yang lain," tuntasnya. (jaa)


TOPIK BERITA TERKAIT: #pilpres-2019 #anies-baswedan #partai-demokrat 

Berita Terkait

IKLAN