Rabu, 19 September 2018 04:22 WIB
pmk

Piala Dunia 2018

Melihat Sepak Bola di Saint Petersburg, Semuanya Berubah Ketika Gazprom Masuk

Redaktur:

Jika Moskow adalah ibu kota negara Rusia, Saint Petersburg merupakan pusat kebudayaan dan dianggap sebagai kota tercantik di Negeri Beruang Merah. Sepak bola adalah bagian integral yang tidak terpisahkan dari sejarah kota ini.

------

INDOPOS.CO.ID - Sebagai kota terbesar kedua di Rusia, Saint Petersburg menjalani peran yang sangat penting pada Piala Dunia 2018. Ada tujuh pertandingan yang manggung di Krestovsky Stadium, stadion terbesar di sana yang jadi kandang klub Zenit St Petersburg. Itu terdiri atas empat pertandingan fase grup, satu game babak 16 besar, lalu satu semifinal, dan terakhir nanti perebutan peringkat ketiga.

Pada Piala Konfederasi 2017, Krestovsky Stadium menjadi tuan rumah partai final ketika Jerman mengalahkan Chile 1-0. Stadion yang bernama resmi Saint Petersburg Stadium dan juga mendapatkan julukan Zenit Stadium ini dianggap salah satu yang terbaik di Eropa. UEFA memberikan bintang empat buat arena ini.

Tidak mudah mewujudkan Krestovsky Stadium. Pembangunannya penuh drama dan skandal berliku. Rencana awal dibuka Desember 2008, namun penyelesaiannya terus mundur. Jadwal opening disepakati lagi, akhir 2011. Namun, stadion ini tidak juga rampung. Setelah mengalami perubahan agenda berkali-kali, pada akhirnya Krestovsky Stadium bisa dipakai tahun lalu.

Karena prosesnya yang ribet, Krestovsky Stadium sampai mengalami pembengkakan anggaran menembus 548 persen. Pada akhirnya, stadion ini total memakan biaya menembus RUB 48 miliar atau sekitar Rp 15, 8 triliun. Menjadikannya sebagai arena sepak bola termahal di dunia. Selain itu, stadion ini mendapatkan predikat lain yang tak kalah ''uniknya''. Yakni stadion dengan delay terlama di dunia.

Perancang Krestovsky Stadium adalah arsitek legendaris asal Jepang Kisho Kurokawa. Namun, Kurokawa meninggal pada 12 Oktober 2007 dan tidak sampai menikmati stadion elegan yang berada di Pulau Krestovsky, tepat menghadap ke Laut Baltik tersebut.

Ambisi pembangunan Krestovsky Stadium sejatinya bermula pada akhir 2005. Itu terjadi sesaat setelah perusahaan gas Rusia Gazprom mengambil alih Zenit St Petersburg. Stadion itu diproyeksikan untuk menggatikan stadion lama Zenit, Petrovsky Stadium. Pemilihan pulau Krestovsky tersebut juga tanpa alasan. Sebelumnya, di sana berdiri Kirov Stadium, kandang Zenit sampai 1989.

Berbeda dari beberapa tuan rumah lain di Piala Dunia 2018, pembangunan Krestovsky dilakukan jauh sebelum Rusia terpilih sebagai host. Pada 22 April 2017, Zenit akhirnya bermain di kandang baru melawan FC Ural pada ajang Russian Premier League. Mantan pemain Chelsea Branislav Ivanovic adalah pemain pertama yang mencetak gol pada stadion baru tersebut.

Richard Pike, jurnalis asal Inggris yang sangat menggemari sepak bola Rusia mengatakan, dengan masuknya Gazprom, Zenit menjadi salah satu kekuatan penting. Tidak hanya di Rusia tetapi di Eropa. Menurut Pike, stadion ini menjadi penanda Saint Petersburg sebagai kota sepak bola yang sangat penting di Rusia. Tentu saja selain Moksow, yang memiliki empat klub di Premier Legue Russia.

Zenit merupakan satu dari tiga klub luar Moskow yang berhasil menjadi juara kasta tertinggi Rusia. Setelah mereka juara pada 1984 Premier League, empat gelar lain direngkuh setelah Gazprom masuk. Yakni pada 2007, 2010, 2012, dan 2015 semuanya. Zenit juga berjaya di Eropa. Pada 2008, mereka menjadi kampiun Europa League dan Piala Super Eropa sekaligus. (na/jpg)


TOPIK BERITA TERKAIT: #boks #feature 

Berita Terkait

Ketika Cukai Rokok untuk BPJS Kesehatan

Nasional

Ketika Cukai Rokok untuk BPJS Kesehatan

Nasional

Bayi Satu Mata Lahir di Mandailing Natal

Nusantara

Bayi Satu Mata Lahir di Mandailing Natal

Nusantara

Mengunjungi Museum Lukisan Tertua di Bali (2-Habis)

Nasional

Hanya dengan Pejamkan Mata Lahir Karya

Nusantara

IKLAN