Selasa, 20 November 2018 03:33 WIB
pmk

Internasional

Setelah Evakuasi, Mesin Pompa Ngadat, Tim Relawan Nyaris Terjebak

Redaktur:

KERJA KERAS - Seorang korban dipindahkan dengan tandu selama operasi penyelamatan di dalam gua Tham Luang di Taman Hutan Non Khun Nam Nang di Distrik Mae Sai, Thailand, (10/7). ROYAL THAI NAVY/HANDOUT/AFP

INDOPOS.CO.ID – Drama evakuasi 12 remaja tim sepak bola cilik Moo Pa dan asistennya, Ekapol Chantawong, hampir saja tidak berakhir happy. Pada Selasa (10/7) lalu, tidak lama setelah Ekapol meninggalkan mulut gua dan dievakuasi dengan helikopter ke lokasi yang lebih aman, pompa air ngadat. Air pun mengalir deras membanjiri gua. Untungnya, yang tersisa di sana adalah relawan yang mahir menyelam.

’’Kami melihat sorot lampu senter bergerak-gerak. Mereka panik karena air terus naik,’’ kata sumber The Guardian, Rabu (11/7). Saat itu sekitar 100 relawan yang sebagian besar adalah penyelam baru saja membereskan peralatan evakuasi di Chamber 3. Itulah lokasi para korban terperangkap selama ini.

Ketika air tiba-tiba meninggi, mereka masih berjarak sekitar 1,5 kilometer dari mulut gua. Para relawan segera bergerak menuju mulut gua. ’’Kami yang berada di mulut gua bisa mendengar teriakan mereka,’’ ungkap salah seorang relawan.

Empat personel SEAL (Sea Air Land) Thailand yang menginap di Chamber 3 bersama para korban termasuk dalam rombongan yang kebanjiran tersebut. Meski sempat panik karena mendapatkan informasi bahwa pompa air rusak, seluruh relawan akhirnya selamat. Mereka berhasil keluar dari gua.

Kisah itu begitu menarik sampai-sampai sineas Hollywood berniat mengabadikan kisah dramatis tersebut dalam film. Pure Flix mengabarkan kepada Fox News bahwa Michael Scott dan Adam Smith berangkat ke Thailand begitu mendengar kisah tim Moo Pa. Dua pendiri Pure Flix itu pun sempat menyaksikan langsung penyelamatan.

’’Scott punya hubungan spesial dengan peristiwa ini. Sebab, istrinya mengenal Saman Gunan, penyelam yang meninggal dalam misi penyelamatan,’’ terang seorang perwakilan Pure Flix. Dari Chiang Rai, Scott menyatakan bahwa tokoh utama filmnya sudah ditentukan. Yakni, dua penyelam Inggris yang kali pertama menemukan para korban.

Sementara itu, di balik evakuasi mereka yang menyita perhatian, siapakah pelatih ke-12 anak tersebut yang bisa membuat para anak tenang selama terdampar di dalam gua yang gelap dan dalam keadaan lapar? Dia adalah asisten pelatih sepak bola dari tim Wild Boars bernama Ekapol Chantawong. Nama panggilannya Ake, diketahui berumur 25 tahun.

Ake lahir di Myanmar dan menjadi yatim piatu sejak usia 10 tahun. Ia dibesarkan oleh saudaranya hingga usia 12 tahun, lalu ia dikirim ke biara. Di Biara, ia diajarkan untuk menjadi seorang biksu. Namun, ia harus meninggalkan biara itu untuk merawat neneknya di Mae Sai.

Sambil merawat neneknya, Ake melatih tim sepak bola Moo Pa bersama dengan sang pelatih yaitu Nopparat Khanthavon. Di Moo Pa ia bertemu dengan ke-12 anak yang kebanyakan dari keluarga miskin.

Bersama tim itu ia tak hanya mengajarkan cara bermain sepak bola, tapi juga memotivasi anak-anak untuk menjadi juara di sekolah. Bila mereka dapat nilai bagus, kedua pelatih tersebut akan memberikan perlengkapan sepak bola yang baru.

Menurut laporan berita lokal, Ake mengajarkan teknik-teknik meditasi kepada para anak-anak selama di dalam gua. Inilah yang membuat anak-anak bisa bertahan. Ake juga sempat menuliskan surat, meminta maaf kepada para orang tua karena membawa anak-anak itu ke dalam gua. Tetapi para orang tua menjawab bahwa dia tak boleh menyalahkan diri sendiri. "Aku berjanji akan mengurus anak-anak sebaik mungkin," tulis Ake dilansir BBC, Rabu (11/7). Ia juga menjadi yang paling lemah karena ia lebih mendahulukan anak-anak untuk memakan makanan yang mereka bawa. Ia juga menulis surat untuk bibi dan neneknya, memberi tahu bahwa mereka baik-baik saja. "Jangan terlalu khawatir tentang aku. Jagalah kesehatanmu dengan baik. Tolong siapkan jus sayuran dan kulit babi untukku. Aku akan memakannya ketika aku keluar dari sini," tambahnya. (bil/c14/hep/ce1/iml/jpc)

Penyelam Asing Penyelamat Moo Pa

John Volanthen

Penyelam 47 tahun asal Inggris ini merupakan pakar misi penyelamatan dalam gua. John dan dua rekannya merupakan penyelam asing pertama yang dipanggil pemerintah Thailand ke gua Tham Luang Nang Non. Dia jugalah yang pada 2 Juli menemukan para korban di area yang kini dikenal sebagai Chamber 3 tersebut.

Richard Stanton

Rekan Volanthen yang sama-sama tercatat sebagai anggota British Cave Rescue Council adalah mantan personel pemadam kebakaran. Pria 57 tahun itu adalah penyelam yang berbincang dengan para korban. Percakapan 5 menit tersebut langsung viral begitu diunggah ke media.

Ben Reymenants

Pria Belgia ini merupakan pemilik Blue Label, toko peralatan selam, di Phuket, Thailand. Ben Reymenants menjadi sukarelawan dalam misi penyelamatan 12 anggota tim sepak bola Moo Pa berikut pelatihnya sejak awal bulan. Lelaki yang menghabiskan 300 hari dalam setahun di dalam air itu tertarik menjadi penyelam setelah nonton James Bond.

Ivan Karadzic

Penyelam asal Denmark ini mengaku jatuh cinta pada dunia bawah air Thailand. Ivan pindah ke Pulau Koh Tao dan bersama Mikko Paasi mendirikan pusat pelatihan selam di sana. Pria berkepala plontos itu sempat shock pasca kematian Saman Gunan, mantan anggota Seal Thailand, yang tewas dalam misi penyelamatan.

Erik Brown

Lelaki asal Vancouver, Kanada, ini merupakan instruktur selam. Dia mendirikan sekolah selam Team Blue Immersion di Mesir. Di laman Facebook-nya, Erik mengaku sudah tujuh kali menyelami lorong gua dalam sembilan hari sampai Selasa (10/7). Durasi totalnya 63 jam.

Mikko Paasi

Rekan bisnis Karadzic di Koh Tao ini berasal dari Finlandia. Dia dikenal sebagai spesialis selam yang biasa menelusuri gua dan bangkai kapal. Dia berangkat ke Chiang Rai dengan tiket hadiah anniversary pernikahan ke-8 dari istrinya.

Richard Harris

Tenaga medis yang juga mahir menyelam ini bergabung dengan tim evakuasi sejak Minggu (8/7). Pria Australia inilah yang memeriksa para korban kali pertama setelah ditemukan. Kemarin (11/7) kabar duka menghampirinya. Sang ayah meninggal dunia tak lama setelah misi penyelamatan Moo Pa sukses.

Claus Rasmussen

Penyelam asal Denmark tersebut sudah bertahun-tahun tinggal di Thailand. Rekan Reymenants di Blue Label itu berprofesi sebagai pelatih selam. Tidak hanya di Blue Label, dia juga melatih selam di beberapa sekolah selam lain di Thailand dan kawasan Asia Tenggara.

Sumber: BBC


TOPIK BERITA TERKAIT: #thailand 

Berita Terkait

Pesan Yanto Basna dan Ryuji Utomo

Liga Indonesia

Thailand Harusnya Bukan Ganjalan

Liga Indonesia

Akademi Polisi Thailand Tak Rekrut Perempuan

Internasional

Viral, Model Cantik Thailand Pacari Tukang Ojek

Indotainment

IKLAN