Jumat, 16 November 2018 02:19 WIB
pmk

Piala Dunia 2018

Panorama Kontradiktif di Luzhniki

Redaktur:

INDOPOS.CO.ID - Sepak bola tidak hanya menghadirkan kemenangan, tetapi, juga kekalahan. Ia tidak hanya menciptakan kegembiraan, namun ada pula kesedihan. Kontradiksi itu tersaji setelah laga semifinal Piala Dunia 2018 di Stadion Luzhniki, Moskow, Kamis dini hari (12/7).

Begitu wasit Cuneyt Cakir dari Turki meniup peluit panjang yang mengakhiri babak kedua masa perpanjangan waktu, pemandangan berbeda hadir di atas lapangan segera terhampar secara mencolok. Yang menang bersorak-sorai. Yang kalah terdiam dalam kekecewaan.

Di satu sudut, para pemain Kroasia semburat merayakan sejarah kali pertama menembus final Piala Dunia. Mereka saling berpelukan. Pelatih Zlatko Dalic berlari tak tentu arah saking girangnya. Dia bahkan sampai tersungkur di lapangan. Luka Modric dkk larut dalam euforia. Mereka bergerak menuju tribun penonton. Berbagi kebahagian dengan pendukung Kroasia. 

Sementara itu, di sudut lapangan yang lain, para penggawa The Three Lions –julukan timnas Inggris—dirundung gundah gulana. Marcus Rashford tidak kuasa menahan air mata. Pemain Manchester United itu terdiam di atas lapangan. Kapten Harry Kane berusaha tegar menerima kenyataan. Dia tidak menangis. Tapi, tatapan matanya kosong.

Beberapa pemain Inggris yang lain terlentang di lapangan. Sementara itu, barisan pemain cadangan dan ofisial tim berusaha saling menguatkan. Pelatih Gareth Southgate memberikan selamat kepada arsitek Kroasia Zlatko Dalic sebelum kemudian mendatangi satu demi satu pemainnya. Ia menyalami, memeluk, dan menepuk pundak mereka satu per satu tanpa sepatah kata terucap.

Ketika para pemain Kroasia berpesta dengan pendukungnya, skuad Inggris juga berbagi kesedihan dengan ribuan fans mereka di sisi tribun yang lain. Pendukung Inggris memang berduka. Tapi, mereka tetap memberikan apresiasi untuk Kane dkk. Tidak hanya tepuk tangan yang meriah, suporter Inggris juga menyanyikan lagu kebangsaan God Save the Queen.

Cukup lama para pemain Inggris berdiri di lapangan dan menghadap ke tribun suporter. Itulah cara mereka membalas dukungan dari fans. Di sela-sela itu, lantunan tembang Don’t Look Back in Anger karya Oasis berkumandang dari fans Inggris. Mereka juga menyanyikan lagu Three Lions dengan lirik yang sangat fenomenal itu. It’s coming home, it’s coming home… 

’’Ini momen yang tidak mungkin bagi saya untuk mengatakan sesuatu kepada para pemain pada saat seperti sekarang,’’ kata Southgate saat konferensi pers setelah pertandingan yang diikuti koran ini. ’’Kami baru saja kalah dalam pertandingan yang sangat menentukan. Tidak mudah untuk melupakannya dengan cepat,’’ sambungnya.

Southgate sangat mengapresiasi kerja keras pemainnya. Tidak hanya pada laga melawan Kroasia, tapi juga sepanjang perhelatan Piala Dunia 2018. Dengan rata-rata usia termuda kedua di antara kontestan putaran final Piala Dunia 2018, skuad Inggris ini punya masa depan cerah ke depan.

’’Mereka harus menggunakan pengalaman luar biasa ini untuk menjadi sebuah tim yang memenangkan sesuatu. Pengalaman malam ini dan juga selama beberapa minggu terakhir harus membuat tim ini lebih kuat,’’ ungkap Southgate.

Kiprah Inggris di Rusia belum berakhir. Mereka harus menjalani laga perebutan tempa ketiga melawan Belgia di Saint Petersburg besok. Kalau menang, itu menjadi pencapaian terbaik The Three Lions setelah juara yang mereka raih pada 1966 di Wembley, London.

Sebaliknya, Kroasia juga mengejar sejarah yang lebih besar. Lolos ke final adalah pencapaian terbaik Vatreni --julukan timnas Krosia—dalam catatan partisipasi mereka di Piala Dunia. Kini tinggal selangkah lagi Kroasia menjadi juara dunia. ’’Ini sepak bola. Kami harus fokus menyiapkan permainan terbaik untuk final,’’ kata Zlatko Dalic, pelatih Kroasia. (jpg)


TOPIK BERITA TERKAIT: #piala-dunia-2018 

Berita Terkait

IKLAN